Chapter 2: First meet

47.5K 4.5K 455
                                        


New York
09 Januari 2006

Dengan wajah kosong Elios mengaduk sebuah minuman di hadapannya sampai larut.

"ELIOS!!!!!"

"MANA MINUMANKU!!"

Tak ada sahutan Elios tetap diam tetap fokus pada kegiatan nya.

Setelah itu Elios membalikkan tubuh. Berjalan kemana wanita cantik itu berada dengan membawa tampang kosong miliknya.

Sekarang Elios tak mengharapkan apapun baik cinta atau apapun itu. Ia hanya ingin membunuh semua orang yang ingin ia bunuh. Hanya itu prioritas hidupnya.

Karena dengan melihat orang lain menderita hati nya merasa puas dan bahagia. Hanya dengan itu ia mendapatkan kebahagian abadi.

Lagipula, siapa yang mau mencintai dirinya dengan tulus yang buruk rupa ini? Siapa? Jawabannya tak ada.

Ivy yang sedang bersantai sambil duduk di sebuah sofa mewah langsung saja menyambar minuman yang dibawa Elios meneguknya sampai habis lalu membuang gelas tersebut sembarangan hingga gelas kaca tersebut pecah berkeping keping. Elios menatap itu semua dengan  kosong, tak ada sedikitpun cahaya hidup yang tersemat di matanya.

Ia seperti raga tanpa jiwa.

"Apa yang kau lihat!! Cepat bersihkan kaca itu!"

"Cepat!" Tak ada jawaban.

Elios menatap ibunya dengan pandangan yang sulit dibaca. Dari tatapannya itu seolah menanti akan sesuatu.

Ketika Ivy ingin menjerit lagi, tenggorokannya tiba tiba tercekat ia melotot ketika tak bisa mengeluarkan suara apapun. Kenapa ini? Ada apa dengan dirinya.

Ivy memukul tenggorokannya sendiri berharap keluar suara namun hal itu sia sia. Ia merasakan sakit teramat sangat di tenggorokannya juga dadanya.

"Hihihi," Elios ketawa cekikan melihat rencananya yang berjalan mulus.

Ivy melotot mendongak menatap Elios, pasti pasti pria ini yang melakukan sesuatu pada minumannya pada dirinya. Pasti dia!

Ivy berdiri ingin memukul anaknya dan meminta pertanggung jawaban namun ia terjatuh ketika tak merasakan adanya respon terhadap tubuhnya. Tubuhnya, mati rasa.

Ia terbaring kaku di lantai yang dingin dengan mata melotot. Tubuhnya tak mau mengikuti apa perintahnya. Hal itu membuat dirinya panik bukan main.

"Hahahaha senang senang aku senang sekali," Elios tertawa melihat sang ibu yang terbujur kaku di lantai.

Elios tak mampu mengutarakan apa yang ia rasakan. Perasaan bahagia yang begitu kentara menggebu gebu sampai rasanya ia ingin meledak.

Elios menginjak kepala sang ibu dengan tawa bahagia miliknya. Menendang wajah dan perut wanita itu tanpa ampun.

"Hahahhaha hahahha,"

Buk

Buk

Buk

Rasanya Elios sangat ingin membakar tubuh wanita ini, ingin menusukkannya dengan seribu pisau, ingin memenggal kepalanya dan memotong seluruh tubuhnya hingga hancur. Namun...

Elios tak bisa melakukan itu karena ia phobia akut pada kulit ibunya sendiri. Maka dari itu Elios hanya bisa meracuninya saja.

Padahal gejolak dalam diri Elios tuk membantai ibunya ini kian meletup letup.

Perlahan lahan bibir Ivy turun sumbing sebelah. Perutnya kesakitan ketika merasakan tendangan yang anak nya berikan tak lah main main.

Ia terbatuk batuk karena rasa sakit di perutnya itu bukan lah main main. Hingga tanpa sadar sebulir kristal jatuh meluruh begitu saja.

Am I Scary?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang