Chapter 44: Bird

14.6K 961 24
                                        

"Jantungnya! Jantungnya berhenti!"

"Ambil defibrillator!"

"Siap siap!"

"Robek bajunya!"

"Detak jantungnya juga belum kembali!"

Mereka bersiap siap menggunakan defibrilator.

"Three!"

"Two!"

"One!"

Tubuh Elios berdegup.

Lagi.

"Three! Two!"

"One!"

Dugh

Tatapan Evelyn menuju tanah. Ia berjalan lunglai. Para bodyguard Elios berbondong bondong mendekati Evelyn lalu memakaikan tubuh ringkih nan basah itu jaket lalu membuka payung hitam melindunginya dari derasnya hujan.

"Ayo nyonya! Kita ke rumah sakit!"

Dengan perlahan Evelyn mengulur tangannya pada hujan. Ia merasakan rintik hujan yang jatuh lalu membasahi tangannya yang dingin.

Evelyn memeluk tubuhnya sendiri. Ah...

Biasa di kondisi ini. Pria itu akan langsung membungkus tubuhnya dengan sesuatu yang hangat.

Tapi, sepertinya itu tak akan ada lagi.

Apa ini akhirnya?

Berakhir seperti ini ya...

"Percayalah sayang... Jantungku, selalu berdetak untukmu."

Kalimat yang selalu Elios ucapkan sebelum ia tertidur. Kini terngiang ngiang di telinga Evelyn. Membuat semuanya menjadi semakin tak mungkin.

Suara petir bergemuruh.

Hujan semakin deras, bodyguard Elios terlihat menutupi diri mereka dari hujan dengan menggunakan lengan dan ada juga yang mengenakan payung.

Sekaligus bergegas membawa Evelyn masuk ke mobil. Nyonya mereka tak boleh sakit, itu sudah menjadi aturan. Dan mereka sangat mematuhi aturan tersebut.

Setelah Evelyn masuk. Akhirnya, mobil pun dijalankan. Mereka berjalan dalam rintik dan derasnya hujan.

***

"Sepertinya tatapan mu berubah menjadi sedikit manusiawi ya."

Calix berbicara dengan Evelyn. Yang berada tepat di hadapannya.

Cantik sekali. Batin Calix.

Memuja bagaimana cantiknya rupa itu. Bahkan tubuhnya yang basah kuyup saja terlihat cantik sekali. Ia persis seperti boneka hidup yang tatapannya kosong. Pantas saja, Elios tergila gila begitu. Pikir Calix dalam hati.

"Kau istrinya kan?"

Evelyn tak menjawab. Ia diam sembari menunduk dan mengelus lengannya sendiri. Disini dingin. Terlebih jaketnya yang diberi bodyguard Elios basah dan suhu ac rumah sakit yang sejuk membuat tubuhnya semakin gemetaran.

Calix melepaskan jaketnya lalu memberikannya pada Evelyn.

"Pakailah."

Evelyn sedikit mengangkat wajahnya lalu menerima pemberian Calix. Kemudian ia kembali menatap lantai. Sudah lama tak berinteraksi dengan orang lain membuatnya menjadi tak nyaman.

Dalam diamnya Evelyn, tak ada yang tau terdapat raut khawatir di sana. Evelyn khawatir pada Elios. Walau sebagaimana jahatnya pun dia tapi selama ini yang mengurus dirinya dan menyayanginya adalah pria itu. Dan Calix menyadari tatapan itu.

Am I Scary?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang