***
"Ini boneka untukmu. Bagus kan?" Luna memberikan sebuah boneka beruang besar untuk adiknya.
"I iya, bagus Ev suka."
Hampir saja tadi ia ketauan mendekati Elios. Ia tak bisa mengajak Elios bermain bersamanya terang terangan. Karena sudah pasti ibunya akan menjerit padanya. Namun, ibunya tak akan menghukum dirinya tapi ibunya justru akan memukul Elios yang tak ada salah apapun.
Evelyn pernah melihatnya dulu, ibunya memukul punggung Elios sewaktu pamannya Key tak ada di rumah. Dan Elios hanya diam dengan tatapan kosong.
Sungguh hal itu membuat malamnya Evelyn menangis meraung raung karena merasa begitu bersalah. Ia datang diam diam pada malam hari ke kamar Elios dan minta maaf pada anak itu.
Camila menatap Evelyn dengan tatapan curiga "Kau tak berusaha mengajaknya bermain kan?"
Evelyn menggeleng cepat "Tidak ibu. Evelyn hanya tidur, lagipula Evelyn tak suka lagi dengannya ka karena dia dia,"
Evelyn bingung menyusun alasan yang tepat "Ka karena dia jahat."
Camila tersenyum puas begitupula dengan Luna "Baguslah." Tanggap sang ibu.
"Maaf ibu Evelyn berbohong." Batin Evelyn seraya menunduk dalam dalam.
"Apa putri ibu ini sudah makan?" Tanya Camila dengan senyum lembut.
Evelyn tersenyum kecil "Sudah."
"Ibu dan kakak sudah makan?"
Luna merengut "No, kami belum makan. Karena kami ingin makan bersama mu. Tapi yasudah lah."
"Ayok ibu kita makan." Sahut Luna seraya berdiri dari acara duduk santainya.
"Kakak maaf... Evelyn tak menunggu kalian." Ujar Evelyn.
Luna tersenyum kecil seraya mengacak surai si kecil "Its okey."
Kemudian Luna dan Camila berjalan menuju meja pantry disana mereka duduk seraya menatap para pelayan dengan tatapan datar.
"Apa yang kalian lihat?! Cepat buatkan makanan untukku dan ibuku!" Bentak Luna.
"Ba baik nyonya."
Luna menyeringai, ah~ senangnya menjadi kaya. Ia tak perlu repot repot memasak karena semua sudah disediakan.
Camila berjalan melihat lihat ruang dapur ini. Sangat luas layaknya dapur istana desainnya pun begitu mewah dengan warna gold yang menjadi temanya.
Namun Camila memekik ketika tangannya tak sengaja menyenggol panci panas penggorengan. Luna yang melihat ibunya terluka melotot tak percaya. Langsung saja ia menampar pelayan yang memasak menggunakan panci itu.
Plak
Luna menamparnya di tempat. Pelayan tersebut menangis seraya memohon ampun. Namun bukan Camila dan Luna namanya jika menerima ampunan tersebut begitu saja.
Mereka tak seperti Evelyn yang berhati malaikat. Mereka justru adalah iblis yang sayangnya memiliki pesona bak malaikat.
Camila menarik rambut pelayan tersebut menyeretnya keluar dari mansion.
"Sini kau!"
"Ampun nyonya ampun. Saya mohon jangan pecat saya," pinta pelayan tersebut dengan bercucuran air mata. Meminta setitik keampunan.
Camila menolak tubuh wanita tersebut hingga terjatuh terguling dari tangga kecil yang berada di depan teras mansion.
Para pelayan yang melihatnya merinding. Kedua orang ini, benar benar iblis sungguh iblis melebihi mendiang nyonya mereka Ivy.
KAMU SEDANG MEMBACA
Am I Scary?
RomanceElios Lison Adalah seorang pria buruk rupa yang jauh dari kata sempurna. Hari hari yang ia lalui selalu bertemankan penderitaan dan kesepian. Ada saja cemohan dan cibiran datang setiap satu langkah kaki ia berjalan. Hingga ia memutuskan untuk menut...
