Khawatir dan Keceplosan

213 12 57
                                        

Bandung, 30 April 2021

Liz Pov

Tumben Meneer Roy belum datang? Dah jam setengah sembilan loooohhh... aku kerja gak tenang kalo Meneer belum datang, biasanya beliau datang pagi-pagi jemput aku dulu kok sekarang nggak?? Kalaupun sakit juga pasti kabarin aku atau Meneer Johan Papanya Meneer Roy langsung ke ruanganku kasih tau. Aku berangkat ke kantor bareng sama Weel twins, Hendrick dan Hans.

" Meneer kemana ya? Terus tumben Meneer Johan gak kasih tau aku?" tanyaku sambil mengetik jadwal meeting online dengan beberapa klien dari Asia Tenggara.

Aku kerja di Divtone Company yang merupakan perusahaan raksasa  dibidang bahan makanan pokok dan makanan sehari-hari yang di ekspor ke berbagi negara. Bandung merupakan kantor pusat cabang Indonesia sedangkan perkebunan dan pabriknya ada di Lembang, Bandung, dan Purwakarta. Selesai mengetik jadwal meeting tinggal aku print, jadi begitu Bosku yang cerewet itu datang tinggal minta tanda tangan.

" iihh Meneer mana sih?? Ini udah jadi loh tinggal tanda tangan! Udah ah telfon Kang Idoy aja".

Saking gelisahnya aku mondar mandir sembari masukin selembaran kertas berukuran A4 ke dalam map warna merah, warna favorit seorang Roy van Stolch. Aku mengambil ponsel merek terkenal dari Korea Selatan tipe A5 2017 kemudian mencari nomor kontak 'Kang Idoy'. Kang Idoy adalah ajudan Meneer Roy, asli dari Cianjur.

' halo Juffrouw (nona)'.

Sahut Kang Idoy khas dengan logat Sunda.

" halo Kang? Akang sama Meneer dimana? Udah berangkat ke kantor??" .

Tanyaku panik, aku keluar dari ruanganku diiringi suara heboh teman-temanku alias para anak buah Meneer Roy.

" cieee uring-uringan Pak Bos belum datang hihiiiyy".

" Akang kendang, kalo saya bilang terima, terima ya?? Ayo Liz dibuka hatinya buat Pak Bos terus terima lamarannya heheh, nah kan jadi sompral saya".

" Kangmas Roy mana ya? Cah ayu Liz wes nunggu nih hahahah".

" aaww! Gak mau tau pokoknya kapal eike kudu berlayar titik!".

" setuju pisan sama Doni! Saya Fahrul Nur Rochman sangat amat setuju bahwa Meneer Roy van Stolch naik ke pelaminan dengan Juffrouw Lizzy Charlotte Konnings!".

" gaskeun Liz, Kang Ujang mah mendukung pisan hehehehe".

" BISMILLAH ROYLIZ NAIK KE PELAMINAN!!" seru teman-temanku kompak bikin aku salah tingkah.

Begitulah teman-temanku kalau aku lagi nunggu Bosku suka pada heboh.

' udah Juffrouw, ini kita udah di kantor. Idoy ditinggalin sama...' .

" Kang Idoy, Meneer udah datang. Makasih ya Kang".

Langsung aku tutup telfonnya begitu melihat lelaki tinggi berambut cokelat berjalan sambil mengerang kesakitan dan pegang perut sebelah kanan bawah.

" aaaawwwww!!!! Haduh lah dalah perutku sakit bangeeeeettt!! Haduuuhhhh!! Aaarrrggghhh perutku sakiittt!!!" Erangnya heboh.

Aku langsung sigap memapah Meneer Roy ke ruangannya, kalo gak sigap bisa nyerocos. Pasukan rempong mulai bersuara lagi bahkan lebih heboh tapi kami pelototin.

" goede morgen Meneer (selamat pagi Tuan)" masih Lizzy pantau.

" goede morgen!" balas Meneer Roy ketus, begitulah beliau kalau lagi sakit terkadang ketus.

Lizzy, Ik Hou Van JouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang