Mimpi

70 2 21
                                        

Roy Pov

" dokter suster tolong istri saya!".

Ya Tuhan, aku sangat takut kehilangan istri dan ketiga bayi kembar kami. Aku hanya bisa berdoa dan berdoa melihat istriku tercinta sedang ditangani oleh dokter dan suster, Paklek Aryo ikut memeriksa kondisi bayi yang dikandung istriku Diajeng Liz.

" Mama... Roy takut istri sama anak-anak Roy makin parah Ma...".

Aku nangis juga dipelukan Mama, semenjak istriku koma gara-gara Emma dan Bapaknya aku selalu ketakutan kalo istri dan anak-anakku kenapa-kenapa. Wes ndak sabar aku menjarain Emma dan Bapaknya, aku meluk Mama sangat erat ndak sanggup melihat istriku narik nafas panjang dan sedikit kejang.

" berdoa terus cah bagus, semoga istri dan anak-anakmu ndak apa-apa. Semoga istrimu sadar le. Kamu harus tegar le demi istri dan anak-anakmu".

Dibalik rasa takutku, aku sedikit tenang karena Mama menguatkanku. Pelukan Mama juga yang bikin aku tenang.

" sudah Pak, Bu" ucap suster yang menangani istriku sing ayu tenan.

Aku melepas pelukan Mama dan buru-buru menyeka airmata yang ngalir dipipi, ku lihat istriku sing ayu tenan sudah tidak dipasang masker oksigen dan infusan.

" Kangmas Roy....".

Puji Tuhan istriku sudah sadar dari komanya! Aku langsung menggenggam erat tangan kanan istriku sing ayu tenan dan menciumnya lama.

" Diajeng wes sadar toh? Puji Tuhan istriku sudah sadar. Terima kasih Tuhan. Nggeh Diajeng? Kangmas disini cah ayuku".

Masih ada Mama, Paklek Aryo, suster, dan dokter jadine aku ndak cipok mencipok dulu. Aku cuma meluk dan ciumin keningnya, istriku si bumil imut terkekeh malu hehehe.

" dokter, bagaimana keadaan istri dan bayi-bayi kami?" tanyaku mengusap rambut istriku sing ayu tenan yang lepek akibat koma.

" sudah membaik Pak Roy. Keadaan bayi-bayinya juga sehat" jawab dokter pribadi keluarga van Stolch ramah dibalik baju APD lengkap.

Kami semua tersenyum lega mendengar jawaban dari dokter berjenis kelamin perempuan ini. Saat berpamitan pulang dokter sudah menitip pesan pada istriku tercinta jangan berfikiran terlalu berat dan jangan capek-capek, selain itu juga sebelum dokter meninggalkan paviliun keluarga Roy van Stolch menyarankan Diajeng Liz untuk tidak membuka ponsel sementara waktu karena di sosmed ramai keluarga Soerjadinedjo sedang dicaci maki terlebih aku dan Mama karena fitnah yang Emma dan Bapaknya sebarkan berhasil.

" tuuuhhh... ingat pesan Bu dokter Diajeng hehehehe. Lepek rambutmu nduk, cah ayu" dengan hati yang senang dan rindu yang tak tertahankan, aku mengusap dan mencium kening istriku yang wajahnya masih pucat.

Roy Pov End

Liz Pov

" iya ih, bau... Kangmaaasss... Neng Liz mau keramas. Gak enak, gatel. Neng bosen tiduran terus, pegel " pintaku merengek manja sambil menggaruk rambut.

Suamiku yang makin kasep ( ganteng ) dengan brewok tipisnya terkekeh gemas sambil mencium baby bump-ku. Aku tersenyum melihat ketampanan suami sendiri sambil mengusap rahangnya, geli kalo ada brewoknya hihihi.

" nggeh cah ayu, nanti sore di keramasin. Nanggung baru jam setengah tiga iki. Kangmas kangen cah ayuku Diajeng Liz. Neng geulis pujaan Kangmas" lelaki berkacamata ini tersenyum penuh kelembutan dan membantuku duduk di ranjang.

Dengan hati yang berdebar aku langsung peluk suamiku erat sambil ku usap punggungnya. Aku menangis memikirkan kondisi Oma pasca kejadian di hotel.

" cup... cup cup cup, ojo nangis duhai istriku sing ayu tenan. Kangmas Roy ada disini" Kangmas Roy menepuk-nepuk punggungku lalu melonggarkan pelukkannya.

Lizzy, Ik Hou Van JouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang