29th October 2014
Roy Pov
Hari ini adalah hari yang bikin aku sedih, bahagia, kesel, nano-nano campur aduk. Pasalnya Jeng Queen ndak lama lagi nikah, November bentar lagi tinggal menghitung hari saja. Sebagai Kakanda dari seorang Queen van Stolch ada sedihnya... aku dilangkahin nikah dan harus mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti ini dari Pakde Bude, Paklik Buklik, Eyang-Eyang kalo pulang ke Solo kampung halaman Mama, gini pertanyaane... siji. Roy, udah punya pacar? Pacarmu mana le? Dua. Roy, adikmu wes mau nikah, kamu kapan toh le? Ojo pilih-pilih. Umurmu wes 30 tahun cah bagus... tiga. Cah bagus, le... kapan kamu menikah le? Adikmu saja wes mau nikah, moso Kangmase dilangkahin?. Empat. Roy cah bagus keponakan Pakde sing ganteng tenan, kamu kapan toh nikahnya? Ojo pilih-pilih calon istri, sayang umurmu wes 30 tahun, wes tua le. Lima. Bude tau kamu itu wong Londo kalo dilihat dari fisik dan kalo ambil dari garis keturunan Romomu, tapi kamu kapan nikahnya le? Ojo kaya wong Londo yang lainnya nikah wes tua-tua. Ingat cah bagus, Romomu dan Oom-Oom mu yang Londo asli aja menikah muda moso kamu dilangkahin sama adikmu le?. Enam. Cah bagus, katanya kamu suka sama sekretarismu dan berniat menikahinya ya? Mbok yo di lamar sekretarismu itu le, urusan dibawah umur nanti biar Paklik Saptadi yang minta surat dispensasi ke gereja nggeh?.
Asem tenan kalo tiba-tiba inget pertanyaan kopan kapan! Eh tapi boleh juga tawaran Paklik Saptadi adiknya Mama yang cerewet hehehe. Ada tapinya iki. Cah ayu Liz sing ayu tenan selalu nolak aku.... padahal yo aku tuh sangat beda sama lelaki yang lainnya, tapi cah ayuku takut sama aku.
" gimana Liz, enak masakan Tante? Ihihihihi" tanya Mama pada sekretaris pribadiku yang mengunyah rawon pake nasi.
" enak sekali Bu dokter hehehe" jawab cah ayu Liz terkekeh, manis tenan senyumnya welah dalah.
" huuuuusssss... jangan panggil Bu dokter. Panggil aja Tante, kan kamu bukan pasien Tante lagi, kamu kan wes remaja ihihihihi" Mama mengibaskan tangan ke udara sambil kipas-kipas pakai kipas bulu kebangsaannya.
Ndak nafsu makan aku, padahal rawon salah satu makanan khas Nusantara favoritku. Kenapa ya nasibku iki dilangkahin adikku? Mana perempuan lagi adikku iki, rasane dominan sedih dan sakit. Kata orang-orang aku iki ganteng, terkenal, duite akeh alias banyak duit, pinter, mandiri, sopan, sama perempuan lembut dan sopan, tegas dan berpendirian. Tapi ndak ada yang mau sama aku secara tulus... banyak perempuan yang mau sama aku ya karena uang dan ketenaranku saja. Aku mau sama perempuan yang bener-bener menerimaku apa adanya dan tulus sama aku.... aku melihat itu di diri Lizzy Charlotte Konnings hahahaha, lah tapi cah ayuku ndak mau sama aku.
Apa yang diharapkan dari lelaki penyitas pelecehan seksual coba??? Traumaku pada perempuan sedikit-sedikit hilang, tapi aku takut sama perempuan yang genit dan centil.
" Roy, kenapa makanannya tidak dihabiskan?" tanya Papa yang seorang vegetarian melahap lotek makanan khas Sunda.
Aku kasih senyum sinis ke semua, terlebih pada Queen dan Raden Ajeng Puspa Soerjadinedjo sepupuku dari pihak Mama anak Paklik Aryo. Jujur aja ndak munafik, aku iri sama Jeng Queen... kenapa aku yang dilangkahi??? Nikah muda adalah cita-citaku, namun apa daya... umurku wes 30 tahun.
" ndak nafsu makan Pa. Haduuuuhhhh.... enak tenan yo kalo nikah jadi pengantin. Hidup ndak sendirian lagi, ndak sedih lagi, ndak ditanya-tanya lagi, ndak disebut bujang lapuk, ndak dicurigai sebagai seorang gay, bahagia intinya, ndak kayak aku serba hidup sendiri penuh kesedihan, bujang lapuk, sering dibilang gay pula hahahaha. Yo wes, Roy pergi dulu mau menghirup udara segar untuk mempersiapkan mental dari pertanyaan-pertanyaan kenapa DILANGKAHI ADIK SENDIRI hahahaha".
" oalah... Mas Roy ngambek Mbak".
" Mama, Papa... gay itu apa? Bujang lapuk itu apa?".
" Bell, sekarang kamu ikut Papa ke ruang billiard okay? Liz, Idoy saya permisi dulu, bebeb tolong tenangkan Roy dulu".
KAMU SEDANG MEMBACA
Lizzy, Ik Hou Van Jou
Romance" Ini ceritaku, cerita Roy van Stolch si jomblo tiga dekade yang sangat mencintai sekretaris pribadiku yang bernama Lizzy Charlotte Konnings. Dia sangat profesional, ramah, dan murah senyum. Tapi saat diluar jam kerja Lizzy adalah tipe perempuan din...
