REIZO 18

5.7K 425 118
                                        

Happy Reading!!

Sepasang sepatu milik anak sekolah itu melangkah perlahan di trotoar pinggir jalan raya. Pemilik sepatu itu melamun disepanjang jalan dengan semua permasalahan-permasalahan yang memenuhi otaknya.

"Hah.." Kei menghela nafas, beban fikirannya bertambah banyak memikirkan nasib dan jalan hidupnya yang baru ini.

Seperti terombang-ambing ditengah ombak yang terus menghantam nya dari semua sudut, namun ia tak tau harus berenang dan menghindar kemana. Pasrah namun itu akan membunuhnya. Melawan, namun ia tak tau sebenarnya itu ombak atau hanya arus yang tak seharusnya ia takuti.

Kei menendang batu kerikil yang berada tepat didepan sepatunya. Kemudian mendongak menatap langit yang dikelilingi awan mendung yang menghitam. Beberapa burung mulai berterbangan mencari tempat untuk berlindung.

Ia yakin, sebentar lagi hujan akan mengguyur kota. Namun dirinya tak ada niat untuk mencari tempat berteduh saat setitik air mulai terjatuh di telapak tangannya yang mengadah.

Rintikan itu kembali jatuh di tangannya, dan disusul dengan rintikan lainnya menjadi hujan yang menghantam bumi. Kei tersenyum kecil.

Hujan. Sederhana namun penuh makna. Baginya hujan adalah saat dimana ia dapat mengenang sang Mama dengan Euphoria berbeda.

Rambutnya mulai lepek, dan seragamnya sudah sedikit basah, namun senyum gadis itu mengembang sempurna.

Hujan datang.

Kei kangen Mama.

Dan, setetes air mata turun dari kelopak mata yang terpejam dibalik bingkai kacamata besar itu. Tersamarkan oleh rintikan hujan yang membasahi wajahnya. Kei menangis.

Bahunya mulai bergetar. Isakan kecil keluar dari bibirnya. Derasnya hujan tak membuat isakan itu tersamarkan. Kei masih mendengar tangisnya, dan dia benci itu. Kei benci dirinya yang menangis dan terlihat lemah.

"Hiks.. Kei baik-baik aja." Isaknya menyakinkan dirinya sendiri. Memeluk sendiri tubuhnya yang basah. Kei menunduk dan menangis sendiri di trotoar yang sepi.

Ya. Sendiri. Hanya dirinya yang tersisa.

Drrt.. Drtt.

Getaran ponsel di sakunya tak dihiraukan oleh Kei. Untuk kali ini saja, biarkan ia merasakan beban yang menimpanya selama ini, diguyur oleh derasnya tetesan hujan. Berharap hujan meruntuhkan semua beban di pundaknya bersamaan dengan air yang jatuh ke bumi.

Kei ingin menjauh dari orang-orang yang jahat. Kei ingin sendiri. Tanpa siapapun walaupun sebenarnya ia tak memiliki siapapun.

Di bawah derasnya hujan, Kei menangis dengan memeluk tubuhnya yang basah kuyup tanpa menghiraukan dering ponsel yang tidak berhenti sejak tadi.

☠☠

"Bang, ada orang diluar."

Semua inti Pegasus menoleh mendengar suara adik tingkat mereka yang baru datang dari luar Markas.

"Siapa?" Tanya Vino yang tengah duduk disofa, memakan nasi goreng yang dibelinya tadi bersama Lava.

"Kan dia bilang orang. Yakali monyet." Sambar Ibam di sudut sofa yang dihadiahi lemparan remot TV dari Vino.

"Sensian banget sih!" Sungut Ibam kesal lantaran kakinya terkena sasaran Vino.

"Lo jelek!" Ejek Vino tak kalah kesal.

REIZO Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang