- EMPAT PULUH SATU

113 57 1
                                        

Mobil polisi banyak berhenti di satu bangunan pabrik terbengkalai itu dan seketika mobil Fathur pun datang, kemudian Fathur berhenti di sana. Anara yang sudah menangis, takut akan hal buruk menimpa Malik langsung berlari keluar mobil menghampiri kekasihnya.

Anara dan kedua sahabatnya bisa ada di sini, karena arahan Zenly milik Bagas yang aktif dan berada di tempat yang sama seperti Anara disekap dulu.

"Malik..." ia terus bergumam mencari sosok yang ia cemaskan.

Dari kejauhan Malik melihat sosok perempuannya ada di tempat ini, bukan hanya Anara, tapi ada Fathur dan juga Vedro.

"Lo nyuruh mereka kesini?" tanya Malik ke Bagas.

"Mereka siapa?" tanya Bagas bingung.

"Itu Nara sama yang lain." kedua mata Bagas juga tertuju pada ketiga sahabatnya.

"Gue gak nyuruh mereka kesini, kan lo yang mau jangan seret mereka ke rencana kita." ujar Bagas.

"Nara!!" Malik berteriak, membuat si pemilik nama menolehkan pandangannya ke arah sumber suara. Anara melihat Malik bersama Bagas di sana.

Kemudian Anara, Vedro dan Fathur menghampiri Malik dan Bagas.

"Kamu gapapa?" tanya Anara khawatir, pandangannya terkunci pada wajah Malik yang sudah dipenuhi luka pura pura.

"Hei jangan nangis, gue gapapa."

Malik menghapus air mata Anara dan langsung memeluk gadis itu ke dalam dekapannya. Ia mencoba menenangkan Anara yang kini shock setelah melihat ada ketiga penjahat dan wajah Malik habis babak belur seperti ini.

"Malik aku takut... aku gak mau ngelihat kamu tersiksa kayak tadi." suara Anara tidak begitu jelas karena tangisnya yang terus keluar.

"Tenang ya sayang? gue masih di sini, masih ada di hadapan lo" bisik Malik dan pelukan hangat itu dapat menenangkan Anara.

"ANJING LO!!!" dari kejauhan Fathur datang dengan wajah emosi dan meninju Bagas tanpa ada rasa salah.

Bagas yang belum ada persiapan pun langsung tersungkur ke tanah, ujung bibir nya mengeluarkan darah segar akibat pukulan keras dari Fathur.

"Sahabat apaan lo hah?! enyah lo dari muka bumi ini!" suara Fathur mengeras dan baru pertama kali Bagas melihat sahabatnya semurka ini.

Dan saat itu juga Malik melepas peluknya lalu menghampiri kekacauan itu yang dibuat oleh Fathur.

"Kenapa lo masih di sini? orang brengsek kayak lo bagusnya ada di penjara, nyusul mereka bertiga!!" Fathur yang dikenal sebagai orang yang humoris ketika berubah garang.

"Thur udah!" lerai Vedro.

"Kenapa udah sih jing? dia udah kerja sama buat bunuh Malik, lo nyurih gue udahan buat hajar dia?!" Fathur melampiaskan kemarahannya lewat Vedro.

BUGGGHH...

Fathur jongkok menyamai tinggi badannya sama dengan Bagas, kemudian meninju tulang pipi Bagas dengan kencang.

"Woy udah!!" bentak Malik.

"Udah Thur!" Malik mengencangkan suaranya.

"Eh ini kenapa lo yang hajar Bagas?" Malik langsung menarik tangan Fathur agar menjauh dari Bagas.

"Tolol! dia mau bunuh lo, kenapa lo harus nanyain hal yang gak wajar?!" kini Malik juga dapat semburan dari Fathur.

"Lo salah paham, Thur." suara Bagas terdengar serak. Disisi lain Anara merasa tidak tega melihat sahabatnya seperti ini,kemudiam ia membantu membantu Bagas untuk berdiri.

Sang Derana [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang