Matahari bersinar dengan terang, cahayanya menembus kaca jendela kamar Nana, Nana sedang duduk di atas ranjang sambil memeluk lutut, memperhatikan seluruh isi kamar yang sudah ia tempati selama beberapa bulan belakangan, kamar Hana.
Sudah tiga hari berlalu, kaki kanan Nana sudah membaik walau masih harus diperban, luka di tangan Nana juga sudah membaik, hanya saja hatinya masih dalam keadaan yang sama. Entah tersisa berapa hari lagi Nana bisa tidur di kamar Hana? Entah tersisa berapa banyak waktu lagi yang Nana miliki untuk menghabiskan waktunya di lingkungan tempat Hana dibesarkan?
Nana menunduk menahan tangisannya, Nana masih tidak mengizinkan dirinya untuk menangis sampai semua masalah berhasil ia selesaikan, Nana menghela nafas kemudian kembali mengangkat kepalanya, lalu menatap cahaya matahari yang terpancar, cukup menyilaukan tapi terasa hangat.
Tok... tok... tok..
Pintu kamar Nana diketuk, beberapa saat kemudian ibu Lia masuk ke dalam kamar, ibu Lia lalu duduk di samping Nana.
"Ibu pikir kamu belum bangun." Ucap ibu Lia sambil membelai lembut rambut Nana, ibu Lia tahu saat ini perasaan Nana pasti sangat kacau, terlihat jelas dari wajah Nana yang pucat, tapi keputusan pak Anthon adalah yang terbaik.
"Apa ibu baik-baik saja?" Tanya Nana,
Ibu Lia sedikit bingung mendengar pertanyaan itu,
"Apa tidak apa-apa jika berakhir seperti ini? Aku tidak menemukan apapun, semuanya sia-sia." Ucap Nana lesu,
Ibu Lia tersenyum sendu lalu kembali membelai rambut Nana,
"Siapa yang bilang kamu tidak menemukan apapun? Kamu menemukan buku harian Hana, berkat itu kita tahu Hana tidak pernah berniat mengakhiri hidupnya sendiri, Hana selalu mensyukuri hidupnya, Hana hidup dengan bahagia. Untuk ibu, itu sudah cukup, tidak ada yang sia-sia."
"Tapi itu tidak cukup untukku, ada sesuatu yang lain."
"Papamu yang akan mengurus sisanya, percayalah semua kebenarannya pasti akan terungkap. Jika terus melanjutkan hal ini, maka akan semakin banyak yang terluka dan Nana adalah orang yang akan berakhir terpuruk karena semuanya. Ibu akan merasa bersalah pada mamamu jika terus membiarkanmu Nana, apa yang bisa ibu katakan jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Bagaimana bisa ibu menghadapi mamamu? Papamu dan Lion melakukan ini karena menyayangimu, mereka tahu Hana berharga untukmu tapi kamu juga sangat berharga untuk mereka."
Nana diam mendengarkan, Nana paham maksud ucapan ibu Lia, tapi Nana tidak bisa menerimanya, Nana masih ingin melakukan hal yang seharusnya ia lakukan.
Nana menghela nafas panjang, cepat atau lambat pada akhirnya ia memang harus berhenti.
"Aku paham bu, sandiwara ini memang sudah melukai perasaan banyak orang. Sekarang ayo katakan yang sebenarnya pada tante Elis dan tante Titin, Hana juga berharga untuk mereka, bagaimanapun juga mereka harus mengetahui tentang kematian Hana, agar di masa depan nanti, mereka bisa mengirimkan Hana doa dan juga bisa mengunjungi makam Hana."
Ibu Lia sedikit terkejut kemudian tersenyum dengan air mata yang sudah menetes, ibu Lia lalu memeluk Nana erat, Nana sudah berjuang melawan perasaannya sendiri. Nana memejamkan matanya, menikmati pelukan ibu Lia.
***
Ibu Elis dan ibu Titin duduk berhadapan dengan Nana dan ibu Lia di satu meja, Nana hanya bisa menunduk sementara ibu Lia terus menatap ibu Elis dan ibu Titin sambil mengusap air matanya yang terus terjatuh.
Rumah makan ditutup, Nana dan ibu Lia baru saja selesai menceritakan semuanya, ibu Elis dan ibu Titin tidak bisa bicara apa-apa, keduanya diam tercengang dengan apa yang baru saja mereka dengar, terlalu sulit untuk dipercaya, terasa sangat mustahil.
KAMU SEDANG MEMBACA
HUBUNGAN (Tamat)
FanfictionNana, gadis manis dengan sikapnya yang sangat dingin harus berjuang untuk menguak kebenaran dari kehidupan saudara kembarnya Hana. Hubungan Nana dengan teman-teman dan keluarganya, jauh berbeda dengan hubungan yang dimiliki Hana dalam hidupnya. Cer...
