Langit malam terlihat sangat indah, ditaburi jutaan bintang dan cahaya purnama yang begitu terang, Nana duduk memeluk lutut menatap kosong api unggun yang nyala apinya berkobar, melahap dengan cepat kayu-kayu kering yang sudah tersusun rapi.
Semua siswa yang mengikuti kegiatan persami duduk mengelilingi api unggun, Nana duduk di barisan paling belakang, tidak ingin terlihat mencolok dengan perban yang ada di tangannya.
Nana berusaha sebaik mungkin menyembunyikan perban luka di tangannya, juga memastikan cara berjalannya tidak terlihat pincang, kakinya memang sudah tidak begitu sakit seperti sebelumnya tapi Nana masih merasa sedikit nyeri.
Bisa saja si topeng hitam itu ada di sekitarnya saat ini, Nana yakin si topeng hitam akan menargetkan dirinya yang sedang memakai identitas Hana, Nana tidak ingin si topeng hitam tahu kalau dirinya mengetahui tentang perempuan yang dikurung si topeng hitam itu, Nana tidak ingin dicurigai sedikitpun, Nana harus bisa menyelamatkan perempuan itu apapun caranya.
Semua siswa menikmati acara api unggun itu, beberapa anggota dari eskul musik bahkan sudah memainkan gitar mereka untuk memeriahkan suasana. Semua tertawa gembira dan bersenang-senang, begitu juga dengan ibu Nadine dan para guru yang mengikuti kegiatan persami itu.
Nana tidak bisa ikut menikmati acara api unggun itu, isi kepalanya dipenuhi dengan wajah perempuan lemah yang dikurung itu, Nana tidak bisa berhenti memikirkannya, Nana terus merasa bersalah dan mengutuk dirinya yang berlari pergi begitu saja, tapi kenyataannya Nana juga tidak sekuat itu untuk melawan si topeng hitam.
Malam semakin larut, tapi suasananya terasa semakin menyenangkan. Nana mendongak menatap bulan, cahayanya benar-benar bersinar indah, tapi Nana bahkan tidak mampu tersenyum melihat keindahan itu.
Nana memang bukan orang yang mudah tersenyum tapi dulu Nana masih bisa menikmati keindahan kecil seperti itu, angin sejuk masih mampu menenangkannya, tapi sekarang, Nana tidak bisa lagi memperhatikan hal-hal seperti itu, pikirannya kacau, Nana tidak bisa lagi hidup dengan tenang.
Nana mendengus, menyadari kenyataan bahwa hidupnya benar-benar menyedihkan.
Nana beralih memperhatikan semua orang di sekitarnya yang terlihat begitu gembira menikmati waktu mereka, kenapa dirinya tidak bisa menikmati waktu miliknya seperti itu? Kenapa dirinya berakhir seperti ini? Memakai identitas Hana dan duduk dikelilingi orang-orang yang tidak ingin ia kenal.
Nana ingin memutar kembali waktu dan memperbaiki semuanya, bahkan sekarang Nana sering mengutuk dirinya sendiri yang terus-menerus mengharapkan hal mustahil seperti itu, kenyataan menamparnya terlalu keras, semakin lama rasanya semakin menyakitkan.
Nana tidak tahan lagi, ia segera berdiri dan berniat untuk pergi dari kumpulan orang-orang itu, tapi baru beberapa langkah, suara Alvin menghentikannya.
"Mau kemana Hana?" Tanya Alvin dengan suara yang cukup keras, sepertinya ia sengaja melakukan hal itu.
Nana menghela nafas lelah, Alvin benar-benar menyebalkan, padahal Nana cukup yakin ia bisa pergi tanpa diketahui siapapun, jelas-jelas mereka semua sibuk bersenang-senang.
Nana berbalik menatap Alvin yang juga sudah berdiri dari duduknya menatap ke arah Nana, sekarang semua perhatian tertuju pada mereka berdua, sebenarnya apa yang Alvin inginkan?
"Mau kemana? Acara api unggunnya masih berlangsung, jika merasa bosan kamu bisa menyumbang satu lagu." Ucap Alvin sambil tersenyum lebar,
Nana hanya diam menatap Alvin datar, Nana tidak punya waktu untuk meladeni tingkah konyol yang ingin Alvin lakukan.
Nana ingin kembali melangkahkan kakinya untuk pergi, tapi sekali lagi Alvin menghentikannya.
"Kenapa kamu selalu menolak permintaanku? Aku hanya memintamu untuk menyumbangkan satu lagu, tidak masalah suaramu bagus atau tidak, ini hanya untuk bersenang-senang." Ucap Alvin lagi,
KAMU SEDANG MEMBACA
HUBUNGAN (Tamat)
Fiksi PenggemarNana, gadis manis dengan sikapnya yang sangat dingin harus berjuang untuk menguak kebenaran dari kehidupan saudara kembarnya Hana. Hubungan Nana dengan teman-teman dan keluarganya, jauh berbeda dengan hubungan yang dimiliki Hana dalam hidupnya. Cer...
