Pukul 20:30 malam, ada beberapa pelanggan yang sedang makan di rumah makan ibu Lia, tidak cukup ramai tapi juga tidak begitu sepi.
Alvin, Cika, Joey, dan Yeny sudah datang sejak pukul 20:00 malam, Cika, Joey dan Yeny bahkan sudah sempat berdiskusi bersama sambil menunggu Kei yang harus datang sedikit terlambat, entahlah? Infonya, Kei tidak ada di rumah saat Cika dan Joey datang untuk mengajaknya pergi.
Nana duduk termenung menopang dagu, buku-buku tugas sudah terkumpul di atas meja, ia tidak mengerti alasan mengapa mereka harus mengerjakan tugas kelompok bersama, jelas-jelas setiap kelompok hanya berisi dua orang, kenapa mengerjakannya harus bersama seperti ini?
Nana menghela nafas, ia tidak ingin memusingkan hal lain untuk sementara waktu, Nana harus fokus menyelesaikan tugas kelompok itu dan setelahnya ia bisa kembali memikirkan langkah selanjutnya yang harus ia ambil.
Alvin terus menatap Nana, ia penasaran apa yang sedang Nana pikirkan saat ini, dulu Alvin dengan mudah bisa menebak apa yang Hana pikirkan, Hana terlalu mudah untuk ia pahami, tapi dengan Nana semuanya berbeda, Nana terlalu sulit dan Alvin tidak bisa menebak apapun.
Alvin tidak tahu banyak tentang Nana, semua informasi tentang Nana yang ia ketahui juga berasal dari ibu Lia. Selain tentang kenyataan bahwa Nana adalah saudara kembar Hana yang sekarang sedang menyamar menjadi Hana, Alvin juga tahu bahwa Nana juga diadopsi seperti Hana, lalu ibu yang mengadopsi Nana menikah dengan pak Anthon yang memiliki Lion sebagai anak, hingga Nana dan Lion menjadi saudara. Dari ibu Lia, Alvin tahu Lion sangat menyayangi Nana, itulah mengapa Lion bicara seperti saat itu padanya, Alvin juga tahu kalau Lion memiliki seorang kekasih bernama Shyla, yang juga merupakan sahabat baik Nana.
Hanya sedikit informasi yang Alvin ketahui tentang Nana, hal itu membuatnya tidak bisa tenang, Nana masih tidak bisa mempercayainya, dan Alvin juga tidak menemukan cara apapun untuk bisa membuat Nana percaya padanya. Alvin hanya ingin membantu Nana, itu saja, tidak lebih, tapi kenapa Nana sulit sekali diajak bekerja sama.
Yeny juga diam-diam memperhatikan Nana, ia sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi pada Anala, sejujurnya sedari tadi Yeny sudah menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan tentang Anala kepada Nana.
Yeny menarik nafas kemudian menghembuskannya, Yeny sudah tidak tahan, ia benar-benar penasaran.
"Hana? Boleh aku bertanya?" Tanya Yeny tiba-tiba, membuat semua menatap ke arahnya.
Nana hanya diam menatap Yeny datar, Yeny menelan ludah, ia sudah bertekad untuk bertanya.
"Apa yang terjadi pada Anala? Kenapa tiba-tiba Anala pulang sambil menangis seperti itu?"
Mendengar pertanyaan Yeny, semuanya mengalihkan perhatian mereka dari Yeny dan menatap Nana penasaran, Cika, Joey dan Alvin juga ingin tahu.
Nana menghela nafas, kenapa semua orang selalu ingin tahu urusan orang lain, sangat mengganggu dan menyebalkan.
"Tanyakan saja pada Anala." Jawab Nana dingin,
Alvin, Cika, dan Joey mengalihkan tatapan mereka dari Nana, bagaimanapun mereka pasti tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan, mereka juga tidak ingin mengungkit hal itu lagi, tapi tidak dengan Yeny, ia terlanjur penasaran dan tidak puas dengan jawaban dingin Nana.
"Belakangan ini kalian jarang terlihat bersama, apa kalian bertengkar?" Tanya Yeny lagi, tidak gentar sedikitpun pada tatapan Nana yang dingin.
Alvin cukup takjub melihat keberanian Yeny yang tidak takut bertanya bahkan setelah Nana menatapnya seperti itu, ya... mungkin karena bagi Yeny yang ada di hadapannya sekarang tetap Hana yang ia kenal sebagai orang yang lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
HUBUNGAN (Tamat)
FanficNana, gadis manis dengan sikapnya yang sangat dingin harus berjuang untuk menguak kebenaran dari kehidupan saudara kembarnya Hana. Hubungan Nana dengan teman-teman dan keluarganya, jauh berbeda dengan hubungan yang dimiliki Hana dalam hidupnya. Cer...
