Haru mengeluarkan koper Sema dari bagasi mobilnya. Memindahkannya ke dalam mobil yang akan dipakai Sema berangkat olimpiade. Di dalamnya sudah ada pemuda yang Haru sebut mayat hidup dengan bermain ponsel. Seakan tak peduli orang-orang di sekitarnya.
Sema tersenyum. "Makasih." Ucapnya pada Haru. Haru mengangguk, ia mengambil kresek dari bagasinya lalu menyerahkannya kepada Sema. "Cemilan, buat perjalanan nanti." Sema menerimanya dengan suka hati.
"Kalo bosen telepon Gue aja, Gue yakin tuh zombie nggak bisa diajak ngomong." Ucap Haru lagi. Sema sedikit membenarkan ucapan Haru. Seorang Desta mana bisa diajak bicara panjang lebar. Sekalipun topiknya bagus, kalau hanya dijawab 'hm' 'iya' 'tidak' 'oke' 'kayaknya' ya percuma aja.
"Mana bisa, kan jam pelajaran?" Tanya Sema. Haru menggeleng lalu menunjuk seseorang yang tengah sibuk berbicang. "Gurunya aja ikut, yang ngajar siapa?"
Sema mengangguk senang.
"Semangat ya, kalo menang nanti kita nikah." Ujar Haru dengan secepat kilat berlari sebelum Sema melakukan tindak kekerasan, seperti mencubit.
Sepuluh menit perjalanan hanya diisi oleh suara Sema yang memakan cemilannya lantaran bosan. Sementara Desta si mayat hidup menurut Haru, kini tengah sibuk dengan ponselnya membaca komik online di salah satu web komik. Tadi Sema lihat sekilas.
"Mau?" Tawar Sema sembari menyodorkan kripik kentang yang sudah ia buka bungkusnya. Sekedar basa-basi daripada hening. Desta mengambil satu lalu memakannya tanpa menoleh. Pemuda itu masih fokus pada gambar-gambar komik.
Sema kembali memakan camilan yang diberikan oleh Haru. Lengkap ada susu kotak, dan sebotol vitamin dalam bentuk permen jelly. Sema membuka vitamin itu lantas memakannya.
"Mau?" Tanya Sema kepada Desta. Pemuda itu kini menoleh, lalu mengadahkan satu telapak tangannya. Sema yang paham lantas menuangkan Vitamin itu hingga keluar dua butir diatas telapak tangan Desta. Desta memakannya kemudian, lantas kembali lagi pada kegiatan awalnya.
Sema meraih botol minumnya, meminum sedikit lalu menatap botol itu dan Desta secara bergantian. Dengan ragu ia menjulurkan botol minumnya.
"Mau?" Tanya Sema lagi. Desta menoleh sebentar sebelum kemudian mengambil botol itu. Meminumnya dengan satu tangan lalu memberikannya lagi kepada Sema.
Sema mengambilnya dengan alis tertaut. "Kok Lo nggak nolak?" Tanya Sema spontan. Kali ini Desta mematikan ponselnya lalu meletakkannya di sela jarak duduknya dan Sema. Pemuda itu bersandar pada jok mobil. "Gue laper." Ucapnya.
"Kenapa nggak bilang sih?" Tanya Sema, ia mencari sesuatu dari kresek cemilan yang diberikan Haru. Hingga mendapati roti isi coklat, ia membuka bungkusnya lalu menyodorkannya kepada Desta. Desta menerimanya lalu memakannya.
Kegiatan itu tak luput dari pengamatan Sema. Ia mengambil botol minum lagi saat melihat Desta sudah hampir menghabiskan rotinya. Memberikannya kepada Desta yang langsung menerimanya.
"Lagi?" Tanya Sema, takutnya Desta masih lapar. Tapi gelengan singkat dari pemuda itu membuat Sema mengangguk, ia memilih bersandar pada jok mobil seperti Desta. Guru yang mengantarkan berada di jok depan sudah tertidur. Sedangkan sang supir, ia tetap diam selama perjalanan. Sementara dua guru pendamping sudah sampai disana karena berangkat dari semalam.
"Kalau kecepatannya 80 km/jam terus jalanan nggak macet, Kira-kira ada 2 jam 17 menit lagi perjalanan, Lo bisa gunain waktu itu buat tidur." Ucapan Desta barusan kontan membuat Sema bangun dari sandarannya. Terkejut sesaat ketika pemuda yang bahkan tengah menutup mata itu mengerti kalau Sema sedang mengantuk.
"Lo ngitung semuanya?" Tanya Sema yang anehnya ia sediri merasa bodoh bertanya begitu. Desta masih tetap pada posisinya. "Nggak, Gue ngira-ngira aja." Ucapnya kemudian.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA [END]
Fiksi RemajaEmpat hati yang terjebak dalam kisah rumit asmara masa remaja. Sema, gadis pemula dalam cinta. Yang ia tahu ia mencintai satu orang dalam hidupnya. Tapi itu dulu, jauh sebelum ia sadar terjebak dalam romansa rumit. Haru, baginya menjalin hubungan...
![SEMESTA [END]](https://img.wattpad.com/cover/295095717-64-k725712.jpg)