41. Mangga

24 3 0
                                        

Siang semakin terik, pukul setengah dua belas tapi Desta seakan masih betah bermain air. Sema lihat sesekali Desta menaiki perosotan tinggi khusus orang dewasa. Senang sekali kelihatannya. Another side Desta yang jarang diketahui banyak orang. Pemuda itu sebenarnya ceria, hanya mudah mengendalikan ekspresi.

Merasa bosan, sedari tadi Sema hanya memainkan ponselnya sembari melihat Desta yang seru sekali bermain air nya. Seperti ibu yang menunggui anaknya. Sema jengah, akhirnya menghampiri kolam, berdiri di tepi. "Desta udahan." Panggilnya. Si yang sibuk dengan balon pelampung berbentuk ikan paus hitam entah dapat darimana itu menoleh. Ia menatap ke atas, matahari hampir sejajar dengan kepala. Ia mengangguk, memutuskan untuk keluar dari air.

Pemuda itu berganti baju. Hingga akhirnya kini keduanya kembali duduk di kursi semula.

"Mau langsung pulang?" Tanya Desta.

Sema bingung sebenarnya. Ia juga tak membawa banyak uang untuk jalan-jalan. Hanya uang saku nya, mungkin dibuat makan masih bisa.

"Terus Lo mau kemana lagi?" Tanya Sema. "Kita masih pakai seragam, ini aja Gue was-was kalau di tangkap satpol PP gimana?" Imbuhnya.

"Makan siang dulu." Desta bangkit, disusul Sema. Keduanya sama-sama menuju parkiran.

Setelahnya motor Desta membelah kota padat itu. Tujuan mereka makan siang, Sema menurut karena ia memang lapar. Lagipula kalau sampai di rumah tidak ada yang akan ia lakukan, mungkin membaca novel atau memainkan ponsel.

Setelah beberapa menit akhirnya Desta memberhentikan motornya. Dua kejutan hari ini, pertama Desta membawanya ke water park dengan dalih menggunakan voucher setengah harga. Dan kini Desta mengajaknya makan siang, tapi motornya berhenti tepat di depan butik.

"Makan siang katanya?" Desta menoleh ke belakang. "Gue nggak lihat cafe atau resto di dekat sini." Desta mengerti, gadis ini bingung tentu saja.

"Ya ini." Tunjuk Desta pada butik di depannya. Jelas sekali tertulis butik dengan pakaian yang dapat dilihat dari pintu kaca. "Otak Lo kenapa sih Des?" Tanya Sema.

Desta mensejajarkan dirinya dengan Sema. "Ini butik Mama, kalo makan siang disini gratis, ayo." Desta masuk terlebih dahulu. Sema hanya mengikuti ragu-ragu dari belakang.

Setelah Desta membuka pintu kaca itu, pemandangan butik yang lumayan ramai. Dari ujung sampai ujung banyak sekali baju yang dipajang, jelas namanya saja butik. Beberapa karyawan yang melayani pelanggan dengan seragam berwarna merah. Desta melangkah lebih jauh, sementara Sema mengikuti ragu-ragu dari belakang.

"Oh, mas Desta." Sapa seseorang dibalik meja kasir.

"Mama ada mbak?" Tanya Desta. Si mbak kasir mengangguk. "Ibu di belakang butik mas." Desta mengangguk, ia melangkah kembali diikuti Sema di belakangnya.

Hingga sebuah pintu dibuka oleh Desta. Sema sempat terperangah beberapa saat. Mengamati apa yang ada di depannya. Sebuah taman di belakang butik, ada pohon besar di sudut, pohon mangga. Lalu gazebo dan juga bunga-bunga yang ditata. Air mancur kecil, dan juga jembatan kayu tak lupa tembok-tembok besar yang mengelilingi taman buatan ini.

"Mama." Wanita paruh baya yang sibuk dengan laptop di gazebo menoleh. Wanita itu menurunkan kacamatanya, mengamati putranya datang.

"Loh Sema?" Arina segera menghampiri putranya dengan tergesa-gesa.

"Kok nggak bilang sama Mama mau kesini?" Arina memeluk Sema. Dibalas senyuman kikuk oleh Sema seperti orang bodoh.

"Hai Tante." Sapa Sema seadanya.

Desta segera menuju gazebo itu, duduk meneduh dari matahari yang kian terik. "Sema katanya mau makan siang." Sema menatap tajam ke arah Desta yang malah menuduhnya macam-macam. "Bukan aku Tante, Desta yang ngajak." Bela nya. Kini keduanya sama-sama menuju gazebo.

"Iya Tante tau, Desta emang gengsian orangnya." Desta mendelik.

"Kalian kok udah pulang? Bolos? Desta ngajakin kamu bolos ya cantik?" Arina menatap serius ke arah Sema.

"Disuruh pulang sama guru, ada rapat." Sanggah Desta cepat saat melihat Sema seakan tertekan. Arina mengangguk, tidak mungkin juga Desta berani mengajak anak orang bolos.

"Yaudah tunggu disini ya? Mama mau pesen makanan." Arina melenggang pergi bersama laptopnya. Tersisalah dua orang disini. Yang satu sibuk mengamati keadaan sekitar, dan yang satu lagi sibuk mengamati orang di depannya.

"Kaget ya?" Tanya Desta. Sema yang merasa diajak bicara lalu mengangguk. "Nggak nyangka Gue ada taman beginian di belakang butik." Sema kembali mengamati bunga warna-warni, dari mawar hingga anggrek yang menempel di pohon.

"Mama suka tanaman, Lo sendiri lihat depan rumah Gue banyak tanaman, karena banyak banget jadi dialihin sebagian kesini. Mama kalo desain baju biasanya disini." Sema mengangguk mendengar penjelasan Desta. Memang enak sih suasananya, apalagi ditambah angin sepoi-sepoi.

Desta melepas hoodie nya, melipatnya acak untuk ia jadikan bantal. Pemuda itu kemudian berbaring di gazebo.

Keadaan hening menghiasi. Sudah tidak asing karena saat bersama Desta memang didominasi dengan keheningan. Ya walaupun sekarang pemuda itu sudah mau berbicara lebih dari tiga kata.

Hingga pandangan Sema jatuh pada pohon mangga yang nampak berbuah. Sudah besar-besar, tapi tidak tahu sudah matang atau tidak. Tiba-tiba ia membayangkan betapa segarnya makan mangga itu di siang hari begini.

"Desta?"

"Hm?" Pemuda itu merespon dengan mata yang masih tertutup.

"Mangga itu boleh diambil nggak? Atau cuma pajangan?" Desta membuka matanya, lantas bangkit hingga duduk tepat di samping gadis itu. Mengamati arah pandang yang sama dimana sebuah pohon mangga berada.

"Boleh diambil kayaknya." Jawab Desta.

"Kok kayaknya?" Sema jadi ragu untuk meminta.

"Yang punya kan Mama." Pupus sudah harapan Sema sepertinya.

"Lo mau?" Tanya Desta. Sema mengangguk kemudian.

"Ya beli, jangan kayak orang susah." Sema reflek memukul lengan Desta sekeras-kerasnya hingga sang empu mengaduh. Tapi pemuda itu malah tertawa setelahnya.

"Nih pegang." Entah sejak kapan Desta sudah melepas seragam putihnya menyisakan kaos putih. Tapi gadis itu sama sekali tak merespon uluran tangan dari Desta. "Pegang cepetan, katanya pengen mangga." Kalimat itu membuat binar Sema kembali. Menyambut antusias dengan senyuman tersungging. 

Desta sudah berada di depan pohon mangga itu, bersiap naik.

"Desta mau ngapain?" Desta menoleh, terlihat Arina dengan bungkus putih banyak di tangannya. Tuh kan Mama nya pasti antusias sampai memborong banyak makanan untuk makan siang.

"Nurutin jabang bayi, pengen mangga katanya." Desta menunjuk ke arah Sema dibalas tatapan terkejut dan bola mata nyaris keluar. Pun Arina yang membeku di tempat.

"Bayi?" Tanya Arina mengulang.

"DESTA!" Sema rasanya malu, malu sekali. Apa-apaan kalimatnya. Desta malah tertawa lalu melanjutkan kegiatan memanjat pohon mangga yang tertunda.

Arina kini berada di samping Sema, meletakkan segala bawaannya di gazebo. "Tante Desta tadi boong." Sema mencoba menjelaskan takut Mama Desta salah paham.

"Iya, Tante kaget bukan karena ucapan Desta." Sema memberi tatapan bingung. "Tante kaget karena ternyata Desta bisa becanda." Sema menghela napas, syukurlah sang Tante ini belum berfikir yang aneh-aneh.

"Banyak banget makanannya Tante." Sema mengalihkan topik agar malu nya tak berkelanjutan. "Ya nggak apa-apa, biar kenyang sampe malem." Arina tersenyum.

Tak lama Desta kembali dengan satu tangkai berisi enam mangga.

"Nih." Desta memberikan semua mangganya kepada Sema. Sekalipun kesal Sema tetap mengucapkan terimakasih.

Keadaan berlanjut dengan makan siang dadakan diselingi cerita dari Arina. Tak jauh-jauh dari sikap atau masa kecil Desta. Yang dibicarakan sesekali protes. Wajah Desta tertekan sekali mendengar sang Mama membongkar aib masa kecilnya di depan Sema, kasihan.

SEMESTA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang