Sembilan, Membeli kado

6K 541 3
                                        

Selamat membaca!

Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!

🐻🐣🐿🐇🐢

Sesuai permintaan Lalisa, saat ini ia sedang duduk di salah satu bangku perpustakaan. Ia mengayunkan kakinya gelisah karena Lalisa tak kunjung datang. Bel sudah berbunyi dua puluh menit yang lalu tapi Lalisa belum juga menemuinya. Untungnya, tempat ini masih buka hingga pukul sepuluh malam.

"Ke mana dia?" ujarnya mendial nomor Lalisa. Untuk ke sekian kalinya, panggilan itu tak terjawab.

Karena sudah tak sabar, Jisoo berniat menjemput Lalisa di kelasnya. Baru juga keluar perpustakaan, ia sudah melihat Lalisa yang berjalan ke arahnya.

"Kenapa lama sekali?" ujarnya mengikuti langkah Lalisa yang tanpa repot-repot mengajaknya berjalan bersama ataupun menyapanya.

"Menunggu sepi."

"Kenapa? Bukannya kau selalu pulang meskipun parkiran ramai?" Lalisa adalah tipe orang yang langsung pulang ketika bel kecuali ada urusan lain. Bagaimana tidak, ia harus segera sampai apartemen agar bisa beristirahat sebelum bekerja.

"Aku membawamu."

"Apa salahnya? Toh tidak ada yang melarang bukan?"

"Jennie membawa mobil," selain karena Jisoo yang merahasiakan, Lalisa juga enggan berdebat jika Jennie melihatnya bersama Jisoo. Ancaman tadi sebenarnya tak membuatnya takut, tetapi ia tak mau membuat hubungan kakak beradik itu renggang karena kedekatannya dengan Jisoo.

"Omo. Jadi bagaimana?"

"Sudah pulang."

"Lisa-ya, kenapa kau menggunakan masker? Kau kan belum berkendara," tanyanya penasaran. Lalisa memang selalu menggunakan masker saat berkendara karena ia benci polusi udara.

Ia tak menjawab karena sibuk mengengkol vespanya. Setelah lima kali engkolan, akhirnya vespa itu menyala.

"Helmku kutitipkan di pos satpam," ujarnya menaiki bocengan vespa Lalisa.

Tak ada jawaban lagi. Ia tau Lalisa pasti mendengar ucapannya terbukti vespa itu berhenti di pos satpam.

Setelah mengucap terima kasih pada pak satpam, Jisoo segera naik ke boncengan lagi. Ia memeluk Lalisa sekalipun harus terhalang oleh tas kuning besar milik Lalisa.

"Kau selalu wangi. Bahkan tasmu pun sama wanginya dengan dirimu."

"Baguslah," di saat semua orang mendambakan pujian dari Jisoo, ia hanya meresponsnya dengan singkat.

"Kita ke mall pusat kota."

🐻🐣🐿🐇🐢

Mereka memasuki store Chanel favorit Jennie dengan Lalisa yang masih memakai maskernya. Mall yang mereka kunjungi cukup ramai sekalipun bukan akhir pekan.

"Di sini sudah tak ada polusi. Lepaslah maskermu!"

"Tidak."

"Menurutmu aku harus memberinya kado apa?" akhirnya, Jisoo tak memperkarakan lagi masker putih yang dipakai Lalisa.

"Entah."

"Jennie suka segala produk dari brand Chanel tapi ia sudah hampir memiliki semuanya. Koleksinya juga berjibun dan sayangnya, tas keluaran terbaru produk ini juga sudah ia beli. Aku jadi bingung," keluhnya.

When POISON Becomes MEDICINECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang