Dua sembilan, Surat terakhir

5.2K 529 11
                                        

Selamat membaca!

Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!

🐻🐣🐿🐇🐢

Mereka limbung dan berguling sebentar saat Rose menarik Jennie ke dalam pelukannya dengan tergesa. Ia melakukan itu untuk menghindari pengendara roda empat yang hendak menabrak Jennie. Beruntungnya tak ada kerikil maupun batu besar di tempat mereka jatuh.

Kegaduhan itu lumayan membuat orang-orang berkerumun. Jennie lekas berdiri dan keluar dari kerumunan. Ia tak memedulikan sikunya yang mulai berdenyut. Netranya menyapu ke segala arah namun ia tak menemukan apa yang ia cari.

"Unnie! Kau tak apa? Sikumu berdarah," tanya Rose khawatir.

"Mengapa kau menghalangiku?" ujarnya kesal.

"Unnie kau hampir tertabrak," jelas Rose.

Jennie mengerjapkan matanya sebentar berusaha mencerna apa yang terjadi. Bisa ia liat tatapan khawatir dari orang-orang sekitarnya.

"Kau tiba-tiba menyebrang unnie. Ada apa? tanya Rose lembut.

Jennie tak menjawab. Ia menghampiri Rose lalu memeluknya erat.

"Tadi pengirim itu ada di sebelah mobilmu."

Rose membalas pelukan Jennie. Ia mengelus punggung Jennie untuk mengurangi kerisauannya.

Setelah lumayan tenang, mereka masuk ke dalam untuk bercerita lebih jauh.

"Mengapa dia harus menghindar?" tanya Jennie setelah meneguk segelas air putih.

"Mungkin dia tak ingin kita tau identitasnya," jawab Jisoo.

"Memangnya kenapa?" tanyanya lagi.

"Aku juga tak mengerti."

"Oni! Tenapa oni tadi tiba-tiba pelgi? Hampil aja teltablak," celoteh Yerim yang tiba-tiba masuk.

Mereka bertiga menoleh, memperhatikan Yerim yang semakin kucel. Ia beranjak untuk duduk di pangkuan Rose. Rose sendiri langsung sigap membantunya untuk naik.

"Tak apa sayang. Unnie hanya ingin ke mobil sebentar," jawab Jennie.

"Oooooo beditu?" respons Yerim menganggukkan kepalanya seolah mengerti seperti orang dewasa.

Mereka terkekeh melihat respon Yerim. Benar-benar menggemaskan.

"Tanan oni ucing beldalah!" ujar Yerim kaget.

Jennie mengecek sikunya yang berdenyut. Ada sedikit darah di sana namun ia lebih memilih membiarkannya.

"Biar kuobati Jen," ujar Jisoo melangkah menuju rak P3K yang ia lihat di ujung ruangan.

"Tak perlu unnie. Sekarang aku ingin memandikan Yerim yang kucel ini. Bolehkah?" tanya Jennie mengambil Yerim di pangkuan Rose lalu menggendongnya. Ia mencium seluruh wajah Yerim karena saking gemasnya. Tak peduli jika wajahnya akan ikutan kotor mengingat Yerim yang semakin kucel.

"Biar kutanyakan pada ahjuma dulu," ujar Rose beranjak keluar.

Jisoo menghampiri Jennie. Ia juga mencium wajah Yerim berkali-kali. Siapa coba yang tidak gemas dengan si baby Yerim yang berparas cantik dengan pipi tembam ini?

"Janan ditium mulu oni," ujar Yerim cemberut.

"Kenapa?"

"Nanti pipi bakpo Yelim tempis telus tak comel ladi," ujarnya dengan bibir mngerucut.

When POISON Becomes MEDICINECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang