Dua empat, Surat (1)

5.6K 477 17
                                        

Selamat membaca!

Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!

🐻🐣🐿🐇🐢

Chaeyoung menggeliat, ia membuka matanya perlahan guna mencari seseorang yang membuatnya tertidur nyenyak semalaman. Tak menemukan orang yang dicarinya di kamar, ia beranjak menuju dapur. Aroma sedap menguar saat ia membuka pintu kamar. Bisa ia lihat, sahabatnya sedang berkutat dengan berbagai menu makanan.

Pemandangan yang paling Chaeyoung suka

"Mengapa tidak membangunkanku? Ini sudah sangat siang dan Jennie unnie pasti sedang mencariku," tanyanya mendudukkan diri di meja makan.

"Kau butuh banyak istirahat sebelum nanti kembali menjaga Jennie."

"Mengapa kau masak banyak sekali?" tanyanya saat melihat banyaknya makanan di meja tersebut.

"Mandilah dulu," ujarnya saat melihat Chaeyoung ingin menyentong nasi.

Chaeyoung mencebikkan bibirnya. Dengan wajah cemberut, ia beranjak menuju kamar mandi. Padahal perutnya sudah sangat lapar.

Lalisa yang melihat itu hanya terkekeh pelan. Sembari menunggu Chaeyoung selesai mandi, ia memasukkan beberapa makanan ke dalam rantang untuk dibawa Chaeyoung ke rumah sakit.

Tak sampai lima belas menit, Chaeyoung sudah kembali dengan menggunakan pakaian yang ia ambil secara acak di lemari milik Lalisa. Bertahun-tahun berpisah, ternyata ukuran dan selera mereka masih lumayan sama jadi ia tak ragu untuk menggunakan pakaian milik Lalisa.

"Mari makan," ujarnya mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Ia mengambil hampir semua lauk yang ada di meja. Tak lupa juga sayuran hijau mentah yang telah Lalisa siapkan.

"Kau selalu saja seperti itu," komentar Lalisa.

"Aku rindu masakanmu."

"Bahkan meskipun bukan masakanku porsi makanmu memang selalu banyak."

"Tapi lebih banyak jika kau yang memasak," Chaeyoung berujar dengan mulut penuh.

Lalisa terkekeh. Entah sejak kembali menerima Chaeyoung, ia jadi lebih sering tertawa. Mungkin benar kata orang, mengikhlaskan memang lebih baik daripada melupakan.

"Sudah lama sekali aku tak melihatmu tertawa seperti itu," ujarnya pelan membuat tawa Lalisa reda. Suasana mendadak canggung ketika Chaeyoung menatapnya sendu.

"Maaf karena---"

Belum selesai bicara, Lalisa sudah memasukkan sesendok penuh sayur ke dalam mulut Chaeyoung. Ia benar-benar enggan membahas hal itu lagi. Sekarang ia sudah berusaha mengikhlaskan dan berdamai dengan semuanya. Jadi sudah seharusnya Chaeyoung tidak membahasnya.

"Hmpp..hmppp."

"Kunyah lalu telan," ujarnya santai yang dibalas pelototan oleh Chaeyoung. Lalisa hanya mengedikkan bahunya dan melanjutkan makannya.

Setelah acara sarapan selesai, Chaeyoung langsung membereskan semuanya. Tradisi itu masih melekat. Lalisa yang memasak dan Chaeyoung yang akan membereskan semuanya setelah makan. Semua terjadi lagi begitu saja seolah tak pernah ada jarak di antara mereka.

"Ini untuk apa?" tunjuknya pada rantang empat susun berwarna merah muda.

"Untuk Jennie dan penjaganya."

"Mwo? Kau akan menjenguk Jennie unnie?"

"Aniya. Aku titip ini padamu. Bilang saja kau yang memasaknya," ujarnya menyerahkan rantang tersebut ke tangan Chaeyoung.

When POISON Becomes MEDICINECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang