Selamat membaca!
Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!
🐻🐣🐿🐇🐢
Jisoo mengernyit kala melihat keringat Jennie bercucuran padahal suhu ruangan lumayan sejuk. Tak hanya itu, Jennie juga tampak gelisah dalam tidurnya. Hal itu justru membuat Jisoo panik. Ia tau Jennie mungkin sedang memimpikan masa lalunya.
"Jennie! Bangunlah! Unnie di sini. Jangan takut," ujarnya pelan sambil menepuk pelan pipi Jennie. Dokter Ahn selalu menyarankan untuk membangunkan Jennie secara lembut ketika tidurnya sudah mulai gelisah.
Mata Jennie terbuka disertai dengan air mata yang mengalir. Jisoo cepat-cepat menghapusnya dengan lembut. Ia benci melihat Jennienya menangis.
"Unnie," lirihnya pelan masih dengan air mata yang mengalir.
"Iya sayang unnie dan yang lainnya ada di sini," ujar Jisoo lembut mengelus surai Jennie.
"Ingatan itu menjelma menjadi mimpi burukku unnie. Kapan mereka akan pergi dari memoriku?" tanyanya lemah menatap kosong langit-langit kamar rawatnya. Hidupnya selalu tanpa arah saat memori itu kembali terputar dalam otaknya.
"Sabar ya sayang. Unnie juga tak tau caranya tapi unnie berjanji akan selalu berada di sisimu," Jisoo beralih menggenggam tangan Jennie dan mengecupnya lama.
"Aku lelah unnie."
Jisoo menegakkan duduknya saat kata itu terucap dari bibir Jennie. Air matanya jatuh begitu saja. Dia tau kata selanjutnya yang akan Jennie ucapkan. Sama seperti beberapa tahun lalu.
"Mungkin hanya dengan aku mati ingatan ini bisa hilang."
"Jangan pernah mengatakannya lagi. Itu sangat menyakitiku," ujarnya parau.
Jisoo menempelkan telapak tangan Jennie ke pipinya guna mengalihkan pemikiran kosong Jennie. Ia tersenyum saat Jennie beralih menatapnya.
"Aku akan berusaha," ujar Jennie ragu. Ia beralih menghapus air mata unnienya. Kadang ia merutuki dirinya karena dalam kondisi seperti ini, ia tak bisa membuat orang di sekitarnya berhenti mengkhawatirkannya.
Jennie mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Orang tuanya tertidur di sofa sedangkan pacarnya tertidur di kursi samping ranjangnya. Mereka pasti kelelahan menjaganya sepanjang waktu, terlebih ia semakin tak bisa mengendalikan emosinya saat bayangan masa lalu itu muncul.
"Sudah tengah malam, mengapa unnie tidak tidur?" tanyanya pelan. Matanya menyipit kala melihat jam dinding di tengah ruangan.
"Aku ingin menjagamu," jawabnya tersenyum tulus.
"Mianhe aku---"
"Ssssttttt," Jisoo menempelkan jari telunjuknya ke bibir Jennie.
"Jangan minta maaf karena kau tidak melakukan kealahan."
"Honey, kau terbangun?" suara Hanbin mengalihkan perhatian mereka.
Ia mengucek matanya sebentar lalu beranjak mendekati ranjang Jennie. Ia mengelus rambut Jennie lalu mengecup singkat dahinya.
"Jisoo-ya, kau tidurlah. Besok masih harus sekolah kan? Biar aku yang menjaga Jennie."
"Tapi oppa---"
"Unnie," rengekan Jennie membuatnya mengela nafas.
"Baiklah," ia akhirnya mengalah dan beranjak dari duduknya. Sebelum menuju sofa, ia mengecup singkat dahi Jennie.
KAMU SEDANG MEMBACA
When POISON Becomes MEDICINE
Fanfiction(Selesai) FRIENDSHIP Jennie x Lalisa Mereka tak pernah tau mengapa takdir membuat mereka saling berinteraksi jika hanya untuk berseteru. Namun, seiring berjalannya waktu, Lalisa yang dibencinya ternyata menjadi penyembuh traumanya~ Start : 03-02-22 ...
