Selamat membaca!
Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!
🐻🐣🐿🐇🐢
Hari ini ia memutuskan untuk menemui Jennie. Ia berulang kali menghembuskan nafasnya pertanda gugup. Kondisi Jennie belum juga membaik hingga hari ini. Ia sendiri juga bingung apa yang harus ia lakukan saat sampai sana.
Seminggu ini, ia berusaha mencari waktu luang untuk berbicara dengan Chaeyoung. Mencari petunjuk tentang trauma Jennie. Namun sayang sekali, Chaeyoung hanya akan ke restoran tidak lebih dari satu jam. Kedatangannya ke restoran pun hanya karena urusan restoran yang harus ia handle.
Chaeyoung juga mengabaikannya. Ia tau Chaeyoung pasti sangat kecewa.
Kadang Lalisa merasa frustrasi, ia berusaha untuk mencari cara menyembuhkan Jennie namun tak satu pun orang terdekat Jennie membantunya.
Ia hanya ingin mengetahui perihal trauma Jennie untuk memudahkannya mencari cara namun tak ada yang memberitahunya sejauh ini.
Kakinya melangkah ragu mendekati ruang rawat Jennie. Bisa ia lihat wajah berantakan Jisoo dan Chaeyoung meskipun dari samping.
"Sudah kubilang aku tidak mengizinkanmu menemuinya," Jisoo bersuara dengan nada tak bersahabat.
"Aku hanya butuh waktu lima menit untuk berbicara padanya."
"Kumohon jangan kembali memperburuk suasana Lalic," ujar Chaeyoung pelan.
"Mengapa sulit sekali untuk mempercayaiku? Sudah kubilang apa yang kulakukan waktu itu bukanlah kesengajaan," ujarnya frustrasi.
"Aku mempercayaimu. Tapi aku tak percaya jika kondisi Jennie akan semakin membaik saat kau menemuinya," Jisoo masih tetap pada pendiriannya. Ia tak mau kondisi Jennie semakin memburuk saat Lalisa berkunjung.
"Lima menit saja. Dan selama itu, kalian boleh menemaninya," ujarnya penuh keyakinan.
🐻🐣🐿🐇🐢
Setelah membujuk Chaeyoung dan Jisoo, ia akhirnya masuk ke ruangan Jennie. Sebelumnya, ia sudah meminta izin pada orang tua Jennie. Bahkan mereka lebih susah dibujuk daripada Jisoo dan Chaeyoung.
Kini di ruangan itu terdapat lima orang. Lalisa, Chaeyoung, Jisoo, Hanbin, dan Jennie.
"Untuk apa kau kemari? Untuk melihat kehancuranku?" pertanyaan penuh amarah itu muncul saat ia baru saja membuka pintu.
Lalisa melangkah mendekat. Dengan jarak dua meter ia bisa melihat penampilan Jennie yang jauh dari kata baik. Pipi mandunya menghilang, kantung matanya yang menghitam sangat ketara dan yang paling membuat Lalisa menyesal adalah borgol di kedua tangan Jennie.
Apakah Jennie masih ingin menyakiti dirinya sendiri hingga kedua tangannya harus terborgol?
Ia terdiam sejenak memikirkan kata yang pas untuk dilontarkan. Dalam kondisi seperti ini, salah satu kata pun akan berakibat fatal. Belum lagi ia hanya punya waktu lima menit.
"Jen. Aku hanya akan berbicara sekali dan kumohon jangan memotongnya," ujarnya selembut mungkin.
"Pergilah. Aku muak melihatmu," sejak tadi, Jennie memang enggan melihat ke arah Lalisa.
"Baiklah kalau begitu aku pakai topeng," ujarnya mengambil sebuah topeng karakter teletubbies berwarna kuning. Ia bersyukur karena anak kecil tadi memberinya topeng ini sebagai imbalan karena Lalisa berhasil menghiburnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
When POISON Becomes MEDICINE
Fanfiction(Selesai) FRIENDSHIP Jennie x Lalisa Mereka tak pernah tau mengapa takdir membuat mereka saling berinteraksi jika hanya untuk berseteru. Namun, seiring berjalannya waktu, Lalisa yang dibencinya ternyata menjadi penyembuh traumanya~ Start : 03-02-22 ...
