Selamat membaca!
Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!
🐻🐣🐿🐇🐢
"Joy! Di mana Jennie?" tanya Jisoo pada Joy yang baru saja memasuki kantin.
Joy yang ditanya seperti itu malah mengerutkan keningnya. Ia pikir Jennie sudah duluan sampai.
"Aku tidak tau."
"Bagaimana bisa kau tidak tau?" tanya Jisoo kesal.
"Dia keluar duluan tadi saat aku masih sibuk mencatat," ujarnya sambil duduk di hadapan Jisoo. Ia menunda niatnya untuk memesan makanan ketika melihat wajah frustrasi Jisoo.
"Astaga ke mana dia? Ini sudah yang kedua kalinya dia tak bisa dihubungi. Apa kali ini ponselnya ia tinggal di kelas lagi?"
Tingkah Jennie beberapa hari ini benar-benar membuat Jisoo bingung sekaligus kesal. Hari minggu kemarin Jennie tidak pulang ke rumah padahal orang tuanya berada di rumah. Dua hari ini Jennie juga tidak berangkat sekolah bersama mereka. Jennie seolah menghindarinya.
"Tidak. Dia membawa ponselnya tadi."
Kemarin, Jennie sengaja meninggalkan ponselnya di kelas dengan alasan ponselnya kehabisan baterai. Ia juga absen ke kantin dengan alasan mencari bahan referensi untuk tugas kelompoknya. Jisoo jelas bingung karena selama ini, perpustakaan adalah ruangan yang paling Jennie hindari.
Jisoo terus saja mendial nomor Jennie. Panggilannya tersambung namun Jennie tak kunjung mengangkatnya.
"Sebenarnya ke mana dia?"
Jisoo mengacak rambutnya frustrasi. Ini sudah panggilan kelima namun Jennie tetap tak mengangkatnya. Makanan yang ia pesan pun masih tak ia sentuh karena sibuk memikirkan Jennie. Bisa-bisa ia kehilangan selera makan jika begini terus.
"Lisa-ya!"
"Ne?" Lalisa kembali menyuap makanannya setelah menjawab panggilan Jisoo. Ia berusaha tenang di saat suasana hatinya gundah. Ia jelas tau alasan kenapa Jennie tak lagi bergabung bersama mereka. Itu karena Jennie sedang menghindarinya.
"Coba kau yang menghubungi Jennie."
Uhukh uhukh
"Yak! Berhati-hatilah. Kenapa kau bisa sampai tersedak padahal kulihat kau makan dengan tenang?" tanya Jisoo. Ia segera membukakan air mineral untuk Lalisa. Rose yang sejak tadi sibuk makan kini mengelus pelan punggung Lalisa dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya tetap ia gunakan untuk menyuap makanannya.
"Aku? Menghubungi Jennie?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Ne, memangnya kenapa?" tanya Jisoo curiga.
"Tidak apa-apa." Karena tak ingin Jisoo curiga, ia langsung saja mengambil ponselnya dan mendial nomor Jennie.
Tidak mungkin di angkat.
"Kau bertengkar lagi dengannya?" pertanyaan Jisoo berhasil membuat Rose menghentikan acara makannya. Mereka berdua kini menatap Lalisa dengan raut penasaran. Lalisa sendiri bingung harus menjawab apa. Jika Jennie belum menceritakan tentang pertengkarannya waktu itu, berarti ia juga tak berhak menceritakannya karena bisa jadi Jennie tak ingin Jisoo dan Rose tau tentang pertengkaran mereka.
Lalisa menghela nafas. Sudah jelas Jennie tak mungkin menjawab panggilannya. Jennie pasti masih sakit hati atas perkataannya malam itu. Setelah malam itu, ia juga berusaha menghubungi Jennie namun Jennie tak pernah mengangkat panggilannya. Ia juga merasa bersalah karena tak seharusnya ia membentak Jennie.
KAMU SEDANG MEMBACA
When POISON Becomes MEDICINE
Fanfiction(Selesai) FRIENDSHIP Jennie x Lalisa Mereka tak pernah tau mengapa takdir membuat mereka saling berinteraksi jika hanya untuk berseteru. Namun, seiring berjalannya waktu, Lalisa yang dibencinya ternyata menjadi penyembuh traumanya~ Start : 03-02-22 ...
