Selamat membaca!
Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!
🐻🐣🐿🐇🐢
Mobil yang mereka tumpangi terhenti di sebuah alamat seperti yang tertulis dalam surat. Rose mengerutkan kening karena tempat ini sangat familiar baginya. Bagaimana tidak, ia mengunjungi tempat ini hampir setiap bulan.
Jennie dan Jisoo sendiri kebingungan karena mobil Rose terhenti di sebuah bangunan yang tidak pernah mereka duga.
"Mengapa berhenti?" tanya Jennie.
"Kita sudah sampai unnie," jawab Rose sambil memperhatikan raut Jennie yang lumayan syok.
"Mwo? Kau tak salah alamat kan?"
"Coba cocokkan sendiri alamat di papan nama itu dengan yang ada di surat," tunjuk Rose pada papan nama di bagian depan bangunan. Di papan nama tersebut jelas tertulis alamat dimana bangunan tersebut berdiri.
"Iya benar di sini alamatnya," ujar Jisoo.
Jennie mengamati sekitar. Jalanan lumayan sepi, berbanding terbalik dengan bangunan di hadapannya yang ramai akan anak-anak. Jennie memang bukan pengidap fobia keramaian tapi Jennie tak pernah berharap mengunjungi tempat seperti ini.
"Tapi mengapa di sini?" tanyanya lesu. Ia menyandarkan kepalanya. Ia memejamkan matanya tak lagi mengamati sekitar.
"Memangnya kenapa unnie?" Rose masih mengamati Jennie yang duduk di sebelahnya. Ia sungguh menyayangkan jika Jennie tak mau masuk padahal Rose sendiri sangat senang dengan tempat ini.
"Dia bilang sesuatu yang membuat pikiran terbuka jadi mungkin di sini tempatnya."
Jisoo yang duduk di belakang angkat bicara. Ia sempat melihat Rose yang melirik ke arahnya seolah meminta bantuan untuk membujuk Jennie. Ia juga tak masalah dengan tempat ini.
"Tapi kau kan tau aku tak suka tempat-tempat seperti ini."
Rose menghela nafas. Ia juga tak mungkin memaksa Jennie. Ia menoleh ke belakang untuk meminta pendapat Jisoo lewat bahasa tubuhnya dan Jisoo hanya menjawab 'terserah Jennie'
"Jika unnie tak mau tak apa. Kita bisa kembali ke rumah sakit dan mengabaikan surat itu," ujar Rose mulai menghidupkan mobil.
"Aku---"
Jennie menggantung ucapannya lalu menatap Rose dan Jisoo yang sama-sama beralih menggenggam tangannya.
"Aku akan mencobanya."
Jawaban itu membuat Jisoo dan Rose tersenyum. Mereka beranjak keluar dari mobil.
"Kau yakin?" tanya Jisoo yang kini kembali menggenggam tangan Jennie.
"Surat itu tak pernah salah," jawab Jennie yakin.
Mereka memasuki pekarangan luas yang dipenuhi dengan anak-anak yang sedang bermain. Rose sendiri berjalan di depan. Ia memeluk anak-anak yang menyerukan namanya sambil berlarian ke arahnya.
"Oni antik tumben ke cini bawa teman," celoteh bayi perempuan berambut cokelat yang kini berada di gendongan Rose.
Matanya mengerjab lucu. Tangannya sibuk memasukkan biskuit ke dalam mulutnya yang sudah belepotan.
Jennie yang melihatnya justru gemas sendiri. Ia refleks mencubit pipi gembul anak di gendongan Rose.
"Kiyowo," serunya tersenyum lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
When POISON Becomes MEDICINE
Fanfiction(Selesai) FRIENDSHIP Jennie x Lalisa Mereka tak pernah tau mengapa takdir membuat mereka saling berinteraksi jika hanya untuk berseteru. Namun, seiring berjalannya waktu, Lalisa yang dibencinya ternyata menjadi penyembuh traumanya~ Start : 03-02-22 ...
