Tiga enam, Kecewa

5.8K 518 32
                                        

Welcome back guys! Selamat membaca!

Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!

🐻🐣🐿🐇🐢

Jennie dengan antusias memasak banyak makanan sejak sore. Jisoo dan Rose yang melihat tingkahnya di buat terheran-heran. Jennie memang pandai memasak tapi untuk masakan skala besar, ia tak pernah melakukannya. Biasanya, ia hanya akan memasak jika orang terdekatnya rindu masakannya. Itu pun hanya seporsi dua porsi.

Auuwwwhhhh

Jennie merintih saat cipratan minyak panas itu mengenai jemarinya. Ia otomatis menjauhkan tangannya dari wajan.

"Astaga unnie!" Rose dengan tergesa menghampirinya guna mengecek kondisi jarinya yang terkena cipratan minyak.

Ia menarik Jennie untuk duduk dan beranjak mengambil salep. Matanya mulai berkaca saat tangannya mulai mengoleskan salep ke jemari Jennie.

"Ini cuma luka kecil Rose. Kumohon jangan menangis."

"Kenapa kau suka sekali terluka unnie? Baru saja seminggu lalu terkena tumpahan galbitang, sekarang malah terkena cipratan minyak. Besok-besok apalagi?" ujarnya kesal sambil menghapus air matanya yang tadi sempat jatuh.

Jennie malah terkekeh sambil mencubit gemas pipi Rose hingga salep yang ada di jemarinya sedikit berpindah ke pipi Rose.

"Isshhh unnie."

"Aku berjanji akan lebih berhati-hati," ujarnya yakin.

"Jisoonie!" Rose berteriak keras pada Jisoo yang duduk di kursi seberang. Sejak tadi Jisoo sibuk dengan gamenya. Ia memakai earphone hingga tak mendengar rintihan Jennie tadi. Biasanya dia akan sama paniknya dengan Rose jika sepupunya itu terluka.

"Hm."

"Tolong lanjutkan masakan Jennie unnie."

"Wae?" Jisoo yang masih menggunakan earphone jelas tak bisa mendengar suara Rose. Ia malah semakin fokus pada gamenya.

Rose yang sudah sangat kesal langsung saja mencabut paksa earphone di telinga Jisoo.

"Yak apa yang kau lakukan?" ujarnya akhirnya menoleh ke arah Rose.

"Tolong lanjutkan masakan Jennie unnie!"

"Tanggung belum--- Yak! Yak! Aku belum siap! Kenapa kalian menyerangku!" ujarnya kesal kembali fokus pada gamenya. Ia berusaha bertahan dari serangan lawannya meskipun akhirnya kalah juga.

Jisoo menghempaskan ponsel mahalnya ke meja dengan kasar. Ia sungguh kesal karena hampir saja ia menang. Ini semua gara-gara Rose.

"Wae?" tanya Rose ketus saat Jisoo melototinya.

"Gara-gara kau, aku kalah!"

"Astaga unnie! Aku hanya memintamu membantu Jennie unnie karena jarinya baru saja terkena cipratan minyak. Kau malah mementingkan gamemu."

"Mwo? Kau tak apa Jen?" ujarnya panik beranjak mengecek tangan Jennie.

"Tak apa. Hanya luka kecil unnie."

Jisoo menghela nafas. Sejujurnya ia khawatir sekaligus kesal karena sejak tadi ia sudah menawarkan diri untuk membantu Jennie namun Jennie malah menolaknya. Alhasil dia memilih fokus untuk bermain game.

"Sekarang apa yang harus kulakukan?" tanya Jisoo

"Unnie hanya perlu menggoreng ayam."

"Oke. Sebenarnya kau melakukan ini dalam rangka apa?"

When POISON Becomes MEDICINECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang