Selamat membaca!
Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!
🐻🐣🐿🐇🐢
"Hentikan mobilnya di halte depan!" ujarnya tiba-tiba.
Chaeyoung menurut meskipun kebingungan. Ia menoleh ke arah Lalisa yang sudah bersiap untuk turun. Dengan tergesa, ia mengunci pintu agar Lalisa tak bisa turun.
"Chaeng aku harus turun di sini," ujarnya lembut.
"Untuk apa? Sekolah masih berjarak setengah kilometer dari sini."
"Tak apa. Aku bisa berjalan kaki sekalian olahraga."
Chaeyoung tak menggubris ucapan Lalisa. Ia malah sibuk memperhatikan Lalisa yang bersikeras membuka pintu mobil yang terkunci.
"Nanti tanganmu sakit!" tegurnya.
"Jika kau tau tanganku akan sakit, cepatlah buka pintunya," ujar Lalisa kesal.
"Aku akan membukanya setelah kau menjelaskannya. Ada apa? Bukankah sudah biasa kita berangkat bersama dan turun bersama di parkiran? Lalu apa masalahnya? Kau mau ke suatu tempat dulu?" tanyanya bertubi-tubi.
Lalisa menyerah. Ia memilih menjatuhkan kepalanya di bahu Chaeyoung. Pagi ini adalah hari yang membahagiakan bagi Chaeyoung jadi ia tak mungkin merusaknya.
"Kau bilang hari ini Jennie mulai masuk."
Lalisa mulai berbicara. Sesekali ia juga mengambil snack di tangan Chaeyoung. Kadang Lalisa heran mengapa Chaeyoung selalu sempat memakan makanan ringan padahal mobil baru saja berhenti.
"Lalu?" Chaeyoung mengerutkan dahinya. Ia rasa tak masalah jika Jennie mengetahui jika ia bersahabat dengan Lalisa karena selama di sekolah, ia dan Jennie sangat jarang bertemu apalagi bertegur sapa.
"Kukira Jennie akan semakin membenciku setelah mengetahui aku adalah sahabatmu."
"Aku punya hak untuk bersahabat dengan siapa pun. Lagi pula aku lebih dulu mengenalmu daripada mengenal Jennie unnie."
Chaeyoung sungguh tak habis pikir. Baru saja mereka kembali seperti dulu dan sekarang harus menjalani hubungan layaknya pasangan backstreet. Sejauh ini, baru Jisoo yang mengetahui jika ia dan Lalisa bersahabat. Padahal ia ingin menunjukkan pada Jennie jika ia sudah menemukan sosok yang selama ini ia cari.
"Chaeng. Jennie masih berada dalam proses berubah menjadi lebih baik jadi aku tak ingin kembali memancing emosinya."
"Turunlah!" ujarnya tak lagi mengunci pintu.
"Kau marah?"
Lalisa tak beranjak keluar. Ia masih menunggu jawaban Chaeyoung. Ia tak ingin bertengkar dengan sahabat satu-satunya.
"Jennie unnie saja tau jika kau berteman dengan Jisoo unnie. Lalu mengapa aku tak boleh," ujarnya kesal.
Lalisa menggenggam tangan Chaeyoung. Ia menatap mata Chaeyoung dengan lembut berusaha meluluhkan sikap keras kepalanya yang mulai muncul.
"Chaeng hubungan kita sangat dekat seperti saudara kembar. Beda dengan hubunganku dan Jisoo," ujarnya selembut mungkin.
"Baiklah. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara kepada Jennie unnie," akhirnya Chaeyoung luluh juga.
"Jangan terlalu terburu-buru. Aku akan turun. Berhati-hatilah. Cup!"
Lalisa beranjak turun setelah mengecup pipi gembul sahabatnya. Ia terkekeh melihat respons Chaeyoung yang selalu sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
When POISON Becomes MEDICINE
Fanfiction(Selesai) FRIENDSHIP Jennie x Lalisa Mereka tak pernah tau mengapa takdir membuat mereka saling berinteraksi jika hanya untuk berseteru. Namun, seiring berjalannya waktu, Lalisa yang dibencinya ternyata menjadi penyembuh traumanya~ Start : 03-02-22 ...
