Empat Lima, Khawatir

4K 396 11
                                        

Selamat membaca!

Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!

🐻🐣🐿🐇🐢

"Jennie-ya!" Jennie tersentak saat sebuah pukulan pelan mengenai lengannya. Ia menghapus air matanya yang entah sejak kapan kembali mengalir.

"Mian ahjuma, ada apa?" ujarnya berusaha melengkungkan senyumnya.

Beliau mengelus surai Jennie sambil tersenyum hangat. "Pesanannya tidak pedas Jennie," ujarnya lembut.

Mata Jennie otomatis menoleh ke arah mangkok ramen yang ia racik. Ia terkejut karena bubuk merah menumpuk di atasnya. Ini bahkan akan lebih pedas dari menu extra pedas.

"Mian ahjuma," ujarnya sambil menunduk. Ia merasa bersalah karena kurang fokus.

"Beristirahatlah dulu, sepertinya kau kelelahan," ujarnya mengelus bahu Jennie.

"Tapi ahjuma---"

"Tak apa. Lagi pula ini pesanan terakhir."

Jennie mengangguk saja. Ia hendak duduk di pojok ruangan agar tak menghalangi pekerjaan ahjuma dan Minji namun sebelum itu, sang ahjuma memeluknya erat sambil mengelus surainya. Rasanya hangat dan menenangkan.

"Mian jika ahjuma lancang. Sepertinya kau ada masalah. Nanti setelah kedai tutup kau bisa menceritakannya pada ahjuma."

Jennie menggeleng lalu tersenyum singkat. "Justru aku berterima kasih karena ahjuma mau memelukku. Setidaknya bebanku sedikit terangkat."

"Unnie, are you oke?" tanya Minji yang kini mengambil alih tugasnya untuk meracik menu terakhir.

Jennie mengangguk sambil tersenyum sebelum Minji kembali keluar untuk mengantarkan pesanan.

Selang beberapa menit, Minji kembali masuk untuk mengambil sapu. Jennie yang melihat itu, juga ikut mengambil kanebo. Itu artinya sudah waktunya mereka menutup kedai.

"Unnie mau apa?"

"Membersihkan meja seperti biasa."

"Dia masih menunggu di depan kedai. Lebih baik unnie pulang saja lewat pintu belakang," ujar Minji mengingatkan Jennie yang hendak melangkah.

Jennie mengintip sebentar. Ia menghela nafas saat melihat Krystal berdiri menghadap jalanan di depan kedai.

"Bagaimana jika aku yang membuang sampah?" ujarnya saat melihat tumpukan sampah. Ia tak enak jika harus pulang terlebih dulu. Biasanya, Minji yang bertugas membuang sampah.

"Berhati-hatilah unnie! Tempatnya sedikit gelap."

Jennie mengangguk. Ia berjalan keluar dengan hati-hati sambil membawa dua kantong sampah. Matanya menyipit saat melihat bayangan seseorang di ujung gang. Rasa penasaran mendadak menyelimutinya. Tanpa ragu, ia berjalan mendekat dengan mengendap-endap.

"Namanya Lalisa. Aku mau nyawa dibayar dengan nyawa."

"Lili! Arghhh!"

Jennie membuka matanya dengan nafas terengah. Kepalanya seperti dihantam dengan keras. Telinganya berdengung. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh kepalanya yang dililit perban.

"Jennie-ya! Syukurlah kau sudah sadar," Jisoo bergerak cepat mendekati Jennie lalu menekan tombol untuk memanggil dokter.

"Kepalaku sangat sakit unnie," keluhnya.

When POISON Becomes MEDICINECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang