Selamat membaca!
Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!
🐻🐣🐿🐇🐢
Akibat sedikit meladeni Jennie, Lalisa berakhir terlambat sampai restoran. Jika saja bisa, ia ingin sekali libur kerja hari ini. Bukan karena lelah, tapi karena enggan berhadapan dengan Chaeyoung yang saat ini menjabat sebagai manajer baru di tempatnya bekerja.
Lalisa berjalan dengan enggan menuju ruangan manajer. Ia hanya perlu mengisi absensi keterlambatan dan biasanya Hanbin hanya akan menegurnya sebentar. Entah apa yang terjadi jika Chaeyoung yang memergokinya terlambat.
"Masuk," suara Chaeyoung terdengar setelah Lalisa mengetuk pintu.
Chaeyoung tak menyadari jika yang masuk ke ruangannya adalah Lalisa. Ia masih sibuk membaca berkas yang harus ia pahami sebagai manajer baru di restoran appanya. Hari ini adalah hari pertamanya. Karena orang yang masuk ke ruangannya tak kunjung bicara, ia berinisiatif untuk mendongak melihat siapa yang menemuinya.
"Lalic?" kagetnya.
"Maaf saya terlambat. Saya hendak mengisi absensi keterlambatan," ujarnya sopan.
"Ini," Chaeyoung langsung saja menyerahkan buku absensi itu dan membiarkan Lalisa menulis namanya disertai tanda tangan. Namun, matanya membulat saat melihat darah berceceran di jemari Lalisa.
"Lalic! Tanganmu berdarah!" ujarnya panik mengambil kotak P3K.
Lalisa diam saja tak merespons sebelum akhirnya Chaeyoung menyentuh lukanya. Ia menjauhkan tangannya dan beranjak keluar, tak mau berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan Chaeyoung.
"Mau kemana kau?"
"Dapur."
"Aku belum menegurmu tentang keterlambatanmu hari ini," itu adalah satu-satunya cara agar Lalisa masih mau berada di ruangan tersebut.
"Segeralah. Banyak yang menungguku," ujarnya mengalah.
"Duduklah!" perintahnya lembut namun tak dihiraukan oleh Lalisa.
"Kau akan terus di sini jika kau enggan duduk," ancaman itu akhirnya berhasil membuat Lalisa duduk.
"Sebelumnya, aku tak mau darahmu mengenai kopi pesanan pelanggan. Jadi, diamlah! Akan kuobati," Chaeyoung perlahan mengobati luka Lalisa sambil sedikit meringis.
Lalisa hanya menatap tangannya datar tanpa raut kesakitan. Ia memang gadis yang tahan banting. Luka seperti ini bukan apa-apa baginya.
"Mengapa terlambat?"
"Ada kendala."
"Kendala apa?"
"Kau tak perlu tau."
"Aku bisa saja tak memotong gajimu jika alasanmu masuk akal," ujarnya berharap Lalisa menceritakan kendala yang membuatnya terlambat bekerja.
"Potonglah!"
Hening sejenak sampai kegiatan mengobati luka Lalisa selesai. Ia langsung beranjak dari duduknya dan berniat keluar.
"Kau ada masalah apa sampai-sampai tanganmu terluka? Setauku, ini seperti luka akibat memukul tembok atau benda keras lainnya," suara Chaeyoung kembali masuk ke indra pendengarannya.
"Bertemu denganmu kembali adalah salah satu dari masalah," ujarnya menatap mata Chaeyoung yang menyendu akibat ucapannya.
"Mianhe."
KAMU SEDANG MEMBACA
When POISON Becomes MEDICINE
Fanfiction(Selesai) FRIENDSHIP Jennie x Lalisa Mereka tak pernah tau mengapa takdir membuat mereka saling berinteraksi jika hanya untuk berseteru. Namun, seiring berjalannya waktu, Lalisa yang dibencinya ternyata menjadi penyembuh traumanya~ Start : 03-02-22 ...
