Empat, Mari mati bersama

7.5K 661 6
                                        

Selamat membaca!

Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!

🐻🐣🐿🐇🐢

Lalisa baru membuka lembaran pertama, namun niat membacanya harus tertunda. Ia bergegas ke toilet sambil membawa air mineralnya takut-takut ada yang mencuri tupper ware miliknya. Tupper ware itu sangat berharga baginya karena ini adalah botol kesayangan adiknya. Baru saja memasuki toilet, sebuah erangan terdengar disertai suara tawa beberapa orang.

"Rasakan ini, byurrrrr," satu timba air kotor itu mengguyur tubuh siswa yang terduduk di pinggir bilik toilet. Itu semua tak luput dari pandangan Lalisa. Namun karena sedang terburu-buru, ia harus menuntaskan misi awalnya yaitu buang air kecil.

Jennie and the gank tertawa melihat siswa itu tersiksa. Mereka tidak menyadari kedatangan Lalisa. Toilet ini memang jarang dikunjungi oleh siswa karena letaknya yang jauh dari kelas serta berada di antara perpustakaan dan gudang.

"Mangkanya, jangan berani-beraninya kau tumpahkan jus murahan itu ke baju Jennie!" ujar Irene angkuh. Irene adalah kakak kelas Jennie, seangkatan dengan Jisoo namun beda kelas.

"M-mian, a-aku tak sengaja," jawabnya gugup. Dia memang tidak sengaja. Kondisi kantin yang berdesakan membuatnya sedikit terdorong dan membuat jus apel yang dipegangnya tumpah mengenai lengan baju Jennie.

"Kita tak butuh maafmu," jawab Wendy teman sebangku Irene.

"Kita belum puas menyiksamu!" ujar Joy sambil mengambil alat pel. Joy adalah teman pertama Jennie saat MOS dan pertemanan mereka masih berlanjut apalagi mereka sebangku.

Mereka berempat adalah anak tokoh penting di sekolah tersebut. Jennie adalah anak pemilik sekolah. Irene adalah anak donatur terbesar sekolah tersebut. Joy dan Wendy adalah kakak beradik, mereka adalah anak wakil kepala sekolah.

"Sini, biar aku saja," ujar Jennie mengambil alat pel di tangan Joy, membasahi alat pel itu dengan air kotor lalu mengarahkannya ke wajah siswa yang sedang dibullynya. Ia bergerak seperti orang yang membersihkan kotoran di wajah seseorang menggunakan alat pel.

Percobaan pertama berhasil membuat tawa mereka semakin keras melihat wajah kotor siswa tersebut. Jennie hendak melakukannya lagi namun ada tangan lain yang menahannya.

"Berhenti!" ujarnya tegas penuh aura perintah. Matanya menyorot tajam ke dalam mata kucing milik Jennie. Semua yang ada di sana terdiam atas tingkah Lalisa karena baru kali ini ia menghentikan aksi mereka. Biasanya, Lalisa hanya akan berlalu tanpa peduli apa pun.

"Kau mau kubully juga?" marah Jennie.

"Silakan," ujar Lalisa santai.

Jennie memang suka membully siswa yang mengusiknya. Baik sengaja atau tidak. Baik dari kalangan atas maupun bawah. Dia tidak segan-segan melakukan apa pun untuk membalas kekesalannya. Dan sekarang, Lalisa kembali menjadi sumber kemarahannya.

Jennie mengayunkan alat pel yang ia pegang ke arah Lalisa namun Lalisa berhasil menangkapnya dan menyudutkannya ke tembok dengan posisi alat pel yang mencekik Jennie.

"Yak! Lalisa! Lepaskan Jennie!" teriak Wendy sambil mendorong tubuh Lalisa. Joy dan Irene juga membantunya namun kekuatan Lalisa jauh lebih besar.

Lalisa mendekatkan wajahnya ke arah Jennie lalu berbisik pelan.

"Aku tak takut dihukum mati atas kasus pembunuhan Kim Jennie, anak dari pemilik sekolah," ujarnya pelan namun mengerikan.

When POISON Becomes MEDICINECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang