Selamat membaca!
Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!
🐻🐣🐿🐇🐢
Sekolah tanpa adanya sosok Hwang Lalisa adalah hal yang paling menyenangkan bagi Jennie. Namun, hal itu hanya terjadi kemarin. Pemandangan pagi ini justru membuat moodnya memburuk. Baru saja mobilnya hendak memasuki gerbang, matanya melihat Lalisa yang turun dari mobil sedan hitam yang Jennie yakini bukan mobil milik Lalisa.
Jennie kira, Lalisa sudah jera hingga muak bersekolah di tempat ini setelah insiden di restoran. Namun nyatanya tidak. Ia malah masuk dengan salah satu lengan yang what the heck?
Mengapa dia selalu berlebihan setiap aku melakukan sedikit kekerasan padanya? Tak mungkin hanya dengan doronganku lengannya sampai terbalut gips.
Kejadian dua hari lalu membuatnya semakin membenci Lalisa. Ia tak habis pikir mengapa Lalisa bisa dekat dengan Hanbin. Mengetahui Lalisa cukup dekat dengan Jisoo saja sudah membuatnya muak. Sekarang malah bertambah Hanbin.
Ia mengamati Lalisa yang berjalan cepat seolah lengannya baik-baik saja. Jennie jadi tak percaya jika lengan yang terbalut gips itu menyimpan luka.
Enggan memikirkan lebih jauh karena mau terluka ataupun tidak, Jennie tidak peduli. Buru-buru ia mendial nomor seseorang saat menyadari sesuatu yang hampir ia lupakan.
Misi balas dendam
Ia mengucap sepatah kata lalu menutupnya tanpa repot-repot menunggu jawaban dari seberang telepon. Smirk jahatnya akhirnya terbit setelah sambungan itu berakhir.
Mari kita lihat seberapa kuat kau bertahan di sini
🐻🐣🐿🐇🐢
Entah hanya perasaannya saja, atau ia yang kesiangan, lorong kelasnya yang biasanya sepi kini ramai saat ia sampai. Ia memang sering datang pagi hingga jarang sekali mendapati pemandangan seperti ini.
Mengapa mereka tak masuk? Pemikiran itu mendadak muncul di kepalanya saat hampir semua teman kelasnya berada di koridor. Ia hanya mengangkat bahu acuh dan melanjutkan langkahnya memasuki kelas.
Matanya membulat kala sampah basah menggunung di bangkunya. Ia jadi tau alasan mereka tak masuk. Itu karena kelas menjadi sangat bau akibat sampah di bangkunya.
"Cepat bersihkan Lalisa!" ujar ketua kelas.
"Sejak tadi kami tak bisa masuk karena bau sampah dari bangkumu," ujar siswa berambut pirang.
"Siapa yang mengotori bangkuku?" tanyanya dingin dengan nada rendah mengintimidasi semua yang ada di sana.
"K-kami tidak tau," jawab ketua kelas.
"Bagaimana bisa kalian tidak tau jika kalian sudah lebih dulu sampai?!"
Mereka semua diam tak berani menjawab. Aura Lalisa saat marah benar-benar menakutkan.
Tak mendapati jawaban yang memuaskan membuat Lalisa semakin naik pitam. Ia menarik lengan ketua kelas dan mendorongnya ke tembok. Ia mengunci leher ketua kelas dengan lengannya yang tak terbalut gips.
"Katakan!" suara itu tenang namun mampu membuat lelaki berpangkat ketua kelas itu merinding. Ditambah posisi Lalisa yang mencekiknya membuat wajahnya memerah karena kekurangan oksigen.
"T-tadi, Joy mentraktir kami semua di kantin jadi kami tak tau mengapa tiba-tiba ada sampah di bangkumu," jelas ketua kelas.
"Joy?" Ia tersenyum remeh lalu melepas kunciannya, menatap satu persatu siswa yang ada di sana sambil menyilangkan lengan. Semuanya menunduk takut, entah sihir apa yang ia lakukan. Ia juga tak tau.
KAMU SEDANG MEMBACA
When POISON Becomes MEDICINE
Fanfiction(Selesai) FRIENDSHIP Jennie x Lalisa Mereka tak pernah tau mengapa takdir membuat mereka saling berinteraksi jika hanya untuk berseteru. Namun, seiring berjalannya waktu, Lalisa yang dibencinya ternyata menjadi penyembuh traumanya~ Start : 03-02-22 ...
