Tujuh, Alergi

6.8K 547 1
                                        

Selamat membaca!

Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!

🐻🐣🐿🐇🐢

Sudah dua hari lamanya Jennie mendiami Jisoo. Dia sungguh kecewa pada sepupunya itu. Jisoo membentaknya hanya karena orang rendahan seperti Lalisa? Sungguh Jennie tak habis pikir.

"Jen, aku membawakan kopi favoritmu," ujarnya menyusul Jennie di balkon.

Meminum kopi pada malam hari tak pernah membuat Jennie insomnia. Terlebih jika ia lelah, Jennie adalah tipe orang yang mudah tertidur bahkan dalam kondisi berdiri sekalipun. Hanya satu yang mampu membuatnya tak bisa tidur yaitu saat pikirannya mulai penuh. Bisa dibilang, overthinking.

Jennie masih diam menerawang langit malam sekalipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tak banyak bintang yang bertaburan, rembulan juga sedang bersembunyi di balik awan mendung.

Jisoo menghela nafasnya. Sudah banyak cara ia lakukan agar Jennie memaafkannya, atau setidaknya bicara padanya. Namun semuanya nihil. Jennie masih saja mendiaminya. Terlebih kedua orang tua mereka sedang keluar kota, jadi tidak ada yang membantu Jisoo meluluhkan Jennie.

"Ya sudah biar aku yang minum," ujar Jisoo meminum kopi itu perlahan, menyesapnya dalam-dalam. Ternyata, rasanya sangat enak untuk ukuran Jisoo yang tidak suka kopi. Pantas saja Jennie membelinya hampir setiap hari.

Kopi yang diminumnya sudah hampir habis. Ia meletakkan cup kopi tersebut karena tangannya terasa gatal. Baru saja ia akan menggaruk tangannya, sensasi gatal itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Refleks tubuhnya menyuruh untuk menggaruk seluruh permukaan kulitnya.

Jennie masih bergeming di tempatnya sampai suara Jisoo berhasil mengejutkannya kali ini.

"Jen---," ujarnya sambil memukul dadanya. Kali ini entah kenapa, sesak itu menyerangnya.

"Unnie, kau kenapa?" Jennie refleks berbalik mendengar suara lirih Jisoo. Ia menangkup wajah Jisoo yang memerah. Ia juga menghentikan tangan Jisoo yang bergerak menggaruk dan memukul dadanya yang sesak.

Semua kemarahannya pada Jisoo mendadak lenyap. Jennie sangat khawatir. Jisoo tak pernah seperti ini sebelumnya.

🐻🐣🐿🐇🐢

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan unnie saya dok?" tanya Jennie cemas. Jisoo yang melihatnya hanya tersenyum sambil berusaha untuk tidak menggaruk badannya.

"Nona Jisoo alergi kafein."

Sejak kapan unnie punya riwayat alergi?

"Beruntung segera dibawa ke sini. Mungkin dua hari lagi rasa gatalnya sudah menghilang. Hari ini lebih baik dirawat dulu untuk saya pantau. Jika memungkinkan, besok sudah bisa pulang. Nanti saya akan resepkan obat untuk berjaga-jaga di rumah."

"Baik. Terima kasih dok," Jennie membungkuk.

"Sudah kewajiban saya nona," setelah membungkuk dokter itu pergi.

Selang beberapa menit, suster membawa kursi roda untuk mengantarkan Jisoo ke ruangan VVIP.

"Semoga lekas sembuh nona Jisoo. Saya permisi nona Jisoo, nona Jennie," ujarnya membungkuk sopan pada kedua cucu pemilik rumah sakit, Mr. Colvert.

"Khamsamnida."

"Unnieeeee, kenapa kau meminum kopi itu jika alergi? Kau mau membuatku khawatir lalu memaafkanmu? Aku akan memaafkanmu. Tidak perlu seperti ini," baru saja Jisoo merebahkan tubuhnya, Jennie sudah memeluk Jisoo dan merengek.

When POISON Becomes MEDICINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang