Empat tiga, Over protektif

4.7K 459 17
                                        

Selamat membaca!

Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!

🐻🐣🐿🐇🐢

Lalisa mengurungkan niatnya untuk memasuki taxi pesanan Chaeyoung. Ia menoleh ke belakang. Di sana, kurang lebih lima puluh meter dari tempatnya berdiri, ada sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di bawah pohon besar. Entah firasatnya benar atau tidak tapi ia merasa jika sedang diawasi.

Ia bukan terlalu percaya diri tapi, akhir-akhir ini mobil tersebut memang selalu terparkir di sana saat ia pulang dan berujung melaju saat taxinya juga melaju. Sejujurnya ia cukup was-was memikirkan tujuan mereka mengikutinya. Bisa jadi mereka sedang merencanakan hal buruk dan menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.

"Ahjussi, tolong ngebut," ujarnya setelah memasang seatbelt. Hari ini Lalisa duduk di sebelah kursi sopir.

"Nona kenapa duduk di sini?"

"Ada yang mengikuti kita. Jadi ahjussi tolong fokus ya. Nanti saya arahkan kita harus ke mana."

Sang sopir mengangguk saja. Ia menekan dalam-dalam pedal gasnya hingga taxi yang mereka tumpangi melaju kencang.

Lalisa membenarkan spion tengah agar mempermudah memantau mobil yang mengikutinya. Ketika jarak mereka sudah lumayan jauh, Lalisa menyuruh sang sopir untuk masuk ke dalam gang sempit.

"Ahjussi tunggu di sini," ujarnya sebelum turun.

"Tapi nona, nona Rose menyuruh saya untuk mengantarkan Anda hingga selamat sampai apartemen."

"Tidak perlu khawatir, saya hanya sebentar."

Lalisa melangkah menuju jalanan. Ia berjalan santai di pinggir jalan sambil menunggu mobil yang mengikutinya melintas. Bisa dibilang ia ingin memergoki mereka. Jika itu hanya sugestinya, mobil tersebut tak akan memperdulikannya.

Ckittt

See? Mereka berhenti. Berarti benar dugaannya.

Bunyi ban mobil yang bergesekan dengan aspal akibat direm mendadak membuatnya menoleh. Tanpa rasa takut ia menghampiri mobil tersebut lalu mengetuk kacanya.

Ia tidak peduli jika seandainya mereka berniat jahat. Ilmu bela dirinya sudah cukup untuk melindunginya. Lagi pula ia tak ingin berlama-lama menebak siapa yang sedang mengikutinya.

"Keluar!" Lalisa semakin menggedor kaca mobil tersebut karena mereka tidak kunjung keluar.

Lalisa mengambil batu berukuran besar. Ia berniat melemparnya ke kaca karena saking kesalnya. Kaca mobil tersebut gelap, jadi Lalisa tidak bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.

"Keluar! Atau kupecahkan kacamu!"

Ancaman Lalisa akhirnya berhasil membuat mereka keluar dari mobil. Ada empat orang pria berpakaian serba hitam. Lalisa mengerutkan keningnya saat matanya bertatapan dengan seseorang yang menurutnya tak asing.

"Kau? Bodyguard di rumah Jennie, kan?" tunjuknya pada pria muda berambut merah. Lalisa sangat ingat jika orang tersebut bekerja di rumah Jennie.

Pria tersebut menunduk takut-takut. Lebih tepatnya, keempatnya sama-sama menunduk.

"Jawablah!" ujar Lalisa ketus.

"Ne."

"Jennie menyuruh kalian untuk mengikutiku?"

Pria berambut merah itu langsung mendongak. Ia maju selangkah menyatukan kedua tangannya.

"Nona, kumohon jangan bilang pada nona Jennie. Beliau menyuruh kami untuk bertindak diam-diam agar nona Lalisa tidak tau."

When POISON Becomes MEDICINECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang