Selamat membaca!
Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!
🐻🐣🐿🐇🐢
"JENNIE!!!"
Lalisa terkejut saat pukulan lawannya malah mengenai Jennie. Ia tak habis fikir kenapa Jennie nekat naik ke atas ring di saat pertandingan sengit sedang berlangsung. Ia juga menyesal kenapa dirinya tak sempat melindungi Jennie dari pukulan lawannya. Ini benar-benar di luar dugaannya.
"J, kumohon sadarlah," Lalisa menggendong Jennie yang pingsan ke ruang kesehatan dengan tergesa. Air matanya sudah mengalir sejak tadi. Ia menyesal karena tidak mendengarkan peringatan Jennie.
"Jennie! Apa yang terjadi padanya?" tanya Hanbin panik. Ia awalnya panik karena Jennie tidak ada di tempatnya dan sekarang kepanikannya bertambah ketika melihat Jennie pingsan.
Lalisa meletakkan Jennie di brankar dan membiarkan petugas medis memeriksanya. Tubuhnya bergerak gusar. Ia jelas khawatir. Bayangkan saja di depan matanya, ia melihat Jennie di pukul sekeras itu. Terlebih Jennie begitu karenanya.
"Dia nekat naik ke atas ring untuk menghentikanku oppa," ujarnya lirih.
"Lukanya tidak terlalu parah. Ia pingsan karena syok. Tapi jika ada keluhan, kau harus langsung membawanya ke dokter," ujar salah satu petugas medis. Lalisa membalasnya dengan anggukan dan ucapan terima kasih.
"Kalau aku tau kau bertanding di sini, aku tak akan membawa Jennie berkencan di sekitar sini. Kukira kau bertanding di tempat biasa," ujar Hanbin dengan raut sesalnya. Ia tau jika Lalisa sering mengikuti pertandingan seperti ini tapi setahunya tempatnya bukan di sini. Ia juga sering melarang dan memperingatkan Lalisa namun ucapannya selalu dianggap angin lalu oleh Lalisa.
"Jadi oppa tau?" suara Jennie membuat keduanya tercekat. Mereka tidak mengira jika Jennie sudah sadar karena Jennie masih menutup matanya.
"Hon, tadi aku bilang 'kalau aku tau'. Jadi sudah jelas aku tidak tau," ujarnya lembut lalu mengecup dahi Jennie. Ia membantu Jennie yang hendak duduk dan menyamankan sandarannya di tembok dengan bantuan bantal.
"Aku percaya tapi bolehkah aku bicara berdua dengannya oppa?"
Hanbin menghela nafas. Ia yakin akan ada pertengkaran lagi setelah ini. Tapi apa boleh buat? Ia tak mungkin melarang Jennie berbicara dengan Lalisa.
"Kau yakin?"
"Aku yakin my honey," Jennie tersenyum singkat sambil menggenggam tangan Hanbin. Ia tau Hanbin pasti khawatir tentang kondisinya dan tentang hubungannya dengan Lalisa. Ia bahkan ingat betul jika pacarnya adalah orang yang paling bersemangat saat mengetahui ia dan Lalisa akur dan mulai bersahabat. Wajar saja karena Hanbin sudah menganggap Lalisa sebagai adiknya.
"Aku tunggu di luar," Hanbin beranjak keluar setelah mengelus singkat surai Jennie. Tak lupa ia juga menutup pintu.
"J, mian aku---"
"I hate you," potongnya dengan nada lirih namun menusuk. Ia memejamkan matanya menikmati rasa sakit atas kekecewaannya. Air matanya kini mulai berjatuhan.
"Jangan seperti ini J, aku minta maaf karena membuat pipimu memar," ujar Lalisa pelan. Kini ia memberanikan diri untuk duduk di brangkar Jennie. Tangannya hendak menghapus air mata Jennie namun Jennie menepisnya dengan kasar.
"Kenapa kau tak mengerti juga! Bukan karena hal itu Lalisa! Aku kecewa karena kau berbohong! Aku kecewa karena kau tak mau mendengarkanku! Aku kecewa karena kau tak mau mengerti kekhawatiranku!"
KAMU SEDANG MEMBACA
When POISON Becomes MEDICINE
Fiksi Penggemar(Selesai) FRIENDSHIP Jennie x Lalisa Mereka tak pernah tau mengapa takdir membuat mereka saling berinteraksi jika hanya untuk berseteru. Namun, seiring berjalannya waktu, Lalisa yang dibencinya ternyata menjadi penyembuh traumanya~ Start : 03-02-22 ...
