Dua lima, Surat (2)

5.4K 521 13
                                        

Selamat membaca!

Mari tebarkan cinta dengan menekan tombol vote dan beri komentar di setiap paragraf!

🐻🐣🐿🐇🐢

Cuaca siang ini benar-benar cerah. Terik matahari menyorot, menusuk matanya yang terlindungi kacamata bulat. Ia mengusap peluhnya pelan. Masih ada satu orderan lagi yang harus ia antar.

Masa skorsing tiga hari ia gunakan untuk mencari pekerjaan baru. Setidaknya, ia harus bekerja di tempat lain sebelum Jennie keluar dari rumah sakit. Ia yakin, setelah Jennie diperkenankan keluar dari rumah sakit, Jennie akan melakukan rutinitas seperti biasanya, salah satunya adalah pergi ke restoran milik appa Rose. Jadi, kemungkinan pertemuan mereka akan semakin kecil jika ia memilih pindah.

Di sinilah ia sekarang. Di jalanan padat kota Seoul sebagai pengantar pizza. Ia sangat bersyukur karena langsung diterima di hari pertama ia melamar.

Lalisa memarkirkan motornya saat dirasa sudah sampai. Ia melihat ulang alamat di ponselnya untuk memastikan alamat si pemesan. Setelah dirasa benar, tangannya mengetuk pelan rumah sederhana di hadapannya.

"Cari siapa ya?" tanya seseorang yang membuka pintu.

"Ini pesanan pizza Anda," jawab Lalisa menyodorkan sekotak pizza dengan sopan.

"Maaf mungkin Anda salah alamat karena saya tidak memesan ini," ujarnya tak nyaman.

Lalisa mengerutkan keningnya heran. Ia kembali melihat alamat di ponselnya.

"Kalau begitu alamat ini di mana?" tanyanya menunjukkan alamat di ponselnya.

Wanita yang mungkin seusianya itu terkejut, "Ini ben---"

"Ahhh pizzaku sudah datang rupanya," ujar wanita paruh baya dari dalam rumah.

Ia berlari kecil dan langsung mengambil pizza di tangan Lalisa sambil tersenyum sumringah.

"Eomma!" tegurnya lelah.

"Jangan lupa kamu bayar ya sayang," ujarnya berlalu masuk setelah mengelus surai anaknya.

Wanita itu mendadak gelisah sendiri. Lalisa yang melihatnya sebenarnya tak peduli. Ia hanya ingin cepat-cepat pulang namun pizzanya belum dibayar.

"M-mian aku tak punya uang untuk membayarnya," ujarnya gugup sambil menunduk dalam.

Lalisa cukup terkejut mendapati pengakuan tersebut. Ia menghela nafasnya lalu beranjak pergi. Percuma memaksa orang yang memang tak memiliki uang. Marah? Tentu. Tapi ia mendadak tak tega mengingat wajah sumringah wanita tua tadi.

Ia urung menyalakan motornya saat tangan asing itu menyentuh lengannya, lebih tepatnya menahannya.

"Kau tak marah? Kau tak memakiku? Kau tak menagih pembayarannya?" tanyanya bertubi-tubi menanggapi respons Lalisa yang acuh. Harusnya ia senang karena kejadian yang lalu-lalu tidak terulang lagi.

Eommanya sering kali memesan makanan tanpa memikirkan bagaimana ia membayarnya. Alhasil, ia selalu menerima kemarahan dan makian dari sang delivery. Kadang ada yang menerobos masuk ke rumahnya untuk mengambil sebuah barang yang sekiranya seharga dengan makanan yang eommanya pesan.

"Jadi kau mau aku memaksamu membayarnya sekalipun kau tak memiliki uang sepeser pun?"

"Biasanya orang-orang begitu," jawabnya pasrah.

"Lepas! Aku mau pulang," ujar Lalisa ketus.

"Beberapa hari ini aku tak mampu membayar pesanan eomma padahal aku sangat ingin membayarnya," ujarnya tiba-tiba curhat.

When POISON Becomes MEDICINECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang