"Tidak pernah ada manusia yang serbatahu dan serbakuat di setiap keadaan, Lak..." Lakapala mendengar helaan napas panjang dari mulut Azfan. Mata cowok itu menerawang jauh, membayangkan momen nya bersama Natalia dulu.
"Gue gak bisa paksa dia buat bertahan sama gua. Percuma juga..." Azfan terkekeh, dia meremas bungkus camilan ditangannya cukup kuat, mengakibatkan isi-isi---camilan itu remuk. "Gue nggak pernah tahu perasaan dia ke gue.."
Perasaan dia ke gue...
Lakapala terenyak. Selama ini dia tidak pernah sedikit pun memikirkan tentang perasaan Jani. Setahu nya, Jani juga memiliki perasaan yang sama terhadap nya. Namun, hari ini dia memikirkan itu. Sejenak, Lakapala bermain-main dengan isi kepalanya. Mengajak suara dalam dirinya berkompromi. Bahwa Jani memang memiliki perasaan yang sama.
Lo bodoh Lakapala! Bukannya lo tau Jani sayang ke elo, njing?!
Lagu Justin Bieber mengalun pelan di ruangan bernuansa hitam putih itu. Sedang kedua cowok di dalam ruangan itu terduduk di atas karpet bulu sembari bermain PS, keduanya tidak fokus pada layar lebar di depan sana. Melainkan hanyut dalam obrolan panjang.
"Gue terlalu paksa perasaan Natalia Lak. Dia nggak pernah suka ke gue. Jadi, gue egois banget kan?"
"Dan ini sebabnya lo mainin hati cewek Fan?"
"Dulunya iya. Sekarang, nggak. Kan, gue udah nggak punya perasaan apa-apa lagi, ke Natalia..." kekeh Azfan. "Gonta-ganti cewek itu enak loh, Lak.." Azfan menoleh pada Lakapala. "Lo nggak mau coba?"
"Sayangnya gue nggak tertarik."
"Bagus lah. Karena sampai lo duain Jani, gue gibeng lo!" ancam Azfan. Lah tadi, siapa yang nawarin?
"Lo kenal Jani dari kecil ya Fan?"
"Mmm...iya, bukan Jani doang, sama Adiba pun gue udah kenal dari lama. Gue, Jani, dan Adiba itu kayak bestfriend banget waktu jaman SD. Lucu, nggak sih?" Azfan tertawa kecil. "Masa apa-apa baju kita bertiga harus sama. Mereka suka warna pink gue juga suka. Bukan suka tapi, dipaksa buat suka sama mereka..."
Lalu tawa Azfan mereda, wajahnya berubah sendu. "Tapi semenjak masuk SMP udah beda, gue mulai kenal Edwin, dan jarang habisin waktu bareng lagi sama mereka. Dan gue nggak tahu penyebab, kenapa Adiba membenci Jani." Sampai sekarang...
"Tapi ke Adiba lo kelihatan biasa aja, Fan. Yah, i mean lo nggak peduli kayak lo peduli sama Jani."
"Kelihatannya gitu, ya?" Azfan mangut-mangut. "Adiba lebih mandiri ketimbang Jani, Lak. Dari kecil juga, Adiba itu mudah akrab sama orang, sedangkan Jani nggak. Tapi bukan berarti gue nggak peduli ke Adiba. Tetap, kok. Gue selalu transfer setengah uang jajan gue buat dia, karena gue tahu, dari dulu bokap nya Adiba itu pelit..."
"Adiba tahu?"
Azfan menggeleng. "Nggak, gue harap sampai kapan pun dia nggak akan tahu..."
Lakapala menatap Azfan, kepribadian Azfan terlalu sulit untuk ditebak. Masih ada banyak deretan rahasia yang cowok ini sembunyikan. Lakapala menghela napas, Mungkin Edwin dan Juan berbeda lagi ceritanya. Begitu pula, tentangnya. Tentang Lakapala.
"Kak Dika suruh gue pulang lagi Fan.."
"Bajingan! Mau dia apa sih?!" Wajah sendu Azfan lenyap, bergantian dengan wajah memerahnya, menahan emosi. "Dia yang suruh lo minggat, dan dia juga yang minta lo balik?"
"Gue bingung..." jujur Lakapala. "Gue nggak ngerti, jalan pikirnya kak Dika."
"Gue merasa, dia peduli sama lo Lak..."
KAMU SEDANG MEMBACA
TENTANG LAKAPALA
Teen Fiction"Ganggu pacar gue, lo mati!" Lakapala Bramasta Gautama seperti Bintang. Ia merupakan gitaris kebanggaan band Legendaris SMA SANTANA membuat nama cowok itu bersinar. Parasnya, nyaris sempurna. Pun dengan gemilang prestasinya di segala bidang membuat...
