40-Sakit yang sebenarnya sakit

15.2K 651 2
                                        

Arsita mengangkat tangannya ke arah sosok pemuda yang tengah duduk di sofa, wanita itu menginterupsi pemuda itu agar tidak bersuara, supaya tidur Lakapala tidak terganggu dengan kehadirannya yang tiba-tiba ini.

Juan mengangguk, seperti kebiasaan yang selalu dilakukannya terhadap orang tua Azfan, ia kemudian mematikan ponsel, lalu berjalan menuju wanita itu untuk menyalami nya.

"Tante Arsita, ya?" kata Juan usai menyalami wanita itu dengan suara pelan, takut mengganggu tidur lelap Lakapala.

"Iya. Kamu temennya Lakapala, dia sering sekali bercerita sama tante tentang kalian," Wanita itu mengamati keadaan sekitar, tampak mencari sesuatu. "Dimana Azfan sama Edwin?"

"Mereka lagi cari makan tante," Ah, payah sekali Juan. Cowok itu tidak pandai berbasi-basi. Dan wajahnya pun, tidak menunjukkan keramahan.

Fathin, anak perempuan berkulit putih serta iris mata biru itu menatap Juan sinis, lalu menarik kembali gamis Arsita. "Umi, Fathin..." Anak itu tidak melanjutkan kata-katanya kala pintu berwarna putih itu dibuka dari luar, lalu terdengar suara gaduh yang perlahan mendekat.

"Lo bego sih Win! Gue udah bilang jangan langsung to the point! Tapi lo ngeyel, lo jadi di tampar kan?!"

"Ya lo aja yang bodoh! Coba aja gak bilang gitu, dikasih pasti kita!" Cerocos Edwin belum menyadari keberadaan Arsita serta kedua anak kembar wanita itu di sana.

"Begok s---" Azfan menyumpal mulutnya dengan kedua tangan, ketika melihat sosok wanita berkerudung di dalam kamar tempat Lakapala dirawat. "Wahh Assalamu'alaikum ukhti!"

"Cantik, Fan. Ada bidadari turun dari kayangan. Btw Anda seorang Dokter ya..?" Seloroh Edwin, berniat menggoda Arsita tapi langsung mendapati pukulan keras di bahunya, cowok itu menoleh, ternyata Juan pelakunya.

"Dia tantenya Lakapala, tante Arsita." bisik Juan.

Edwin dan Azfan salah tingkah, kedua cowok itu berdeham pelan seraya membenarkan kerah kemejanya yang sebenarnya rapi.

Edwin menyiku perut Azfan. "Begok lo Fan.." desis cowok berkulit sawo mateng itu. "Rasanya gue mau tenggelam, anjir."

Azfan melangkah pelan, mendekati Arsita. "Assalamu'alaikum, tante." sapanya, sok ramah. "Udah lama disini tante?"

Arsita terkekeh kecil, ia menerima uluran tangan Azfan. "Waalaikumsalam, Baru-baru nyampe kok, setelah dari Bandara tante langsung kesini."

"Ayok duduk dulu, tan. Tante pasti capek, tadi saya sama Azfan habis beli makanan, niatnya buat si Jun. Tapi karena ada tante disini, mie ayam nya buat tante aja." Edwin menggiring Arsita duduk di sofa, tanpa melihat kehadiran dua anak yang tampak tidak suka melihat lelaki yang menyuruh uminya itu duduk.

"Jun jangan tarik-tarik ah!" Azfan menepis sebuah tangan yang menarik-narik belakang bajunya.

Fathan berdecak. "Uncle!" Sentak anak lelaki itu. "Heloo....." Fathan melambaikan tangannya ke arah Juan, yang sebenarnya menyadari keberadaan kedua bocil itu, tapi namanya juga Juan, mau kedua anak itu jungkir balik pun, mulutnya tidak akan tergerak untuk sekedar menyapa ataupun berbasa-basi. Jadinya, Juan hanya menatap datar kedua anak itu.

"Umiiiii!!!" Jerit Fathin kesal, bukan hanya empat manusia itu yang dibuat kaget saat mendengar suara melengking itu, pun dengan Lakapala yang kontan membuka mata.

TENTANG LAKAPALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang