Apa Tuhan akan memanggilnya sekarang?
Tidak, jika ini adalah akhir dari kisahnya Lakapala hanya meminta satu hal sebelum sang Pencipta mengambil ruh dari jasadnya.
Dia ingin, melihat Jani bahagia lebih dulu, ia juga mengharapkan sebuah kisah yang logis dan realistis. Agar semesta tahu, betapa luar biasa besarnya rasa sayang cowok itu terhadap Jani.
Satu persatu orang-orang mulai mengerubuni tubuh Lakapala yang terkapar lemas di atas aspal. Sebelum pandangannya mengabur, sayup-sayup ia mendengar suara Bang Mono menggelegar memecah kerumunan itu.
Lalu senyap. Meski bumi berputar pada porosnya, tapi dia tidak tahu bahwa selain Jani dia juga memiliki banyak orang yang menyayanginya.
Mono, pria paruh baya itu segera mengangkat tubuh Lakapala yang dipenuhi lumuran darah menuju mobil nya yang terparkir beberapa langkah dari tempat Lakapala tidak sadarkan diri.
"Cepat buka pintunya, sialan!" Mono membaringkan tubuh Lakapala di jok belakang. Pria itu mengambil alih kemudi. Dia harus cepat ke rumah sakit, jika telat beberapa detik saja, nyawa Lakapala mungkin tidak bisa diselamatkan.
"Tuhan kumohon, dia anak baik-baik.." gumam Mono menambah kecepatan laju mobil.
Wajah pria itu terlihat pasrah, selama bertahun-tahun bekerja pada Bos yang bahkan ia tidak tahu rupanya, baru kali ini Mono menyesal mematuhi perintah manusia tidak berakal itu.
Seandainya sang Bos tidak memberi perintah untuk menyewa polisi gadungan guna menakut-nakuti Lakapala, mungkin Lakapala tidak akan separah ini sekarang.
Astaga..Apa yang telah dia lakukan? Tangan kiri Mono mengusap wajahnya.
Selain mempertaruhkan masa depan Lakapala, mereka pun hampir merenggut seluruh hidup Lakapala.
Hampir...
"Perjalananmu masih panjang, Lakapala. Saya mohon kau harus hidup..."
"Gue..bakal tetap.. hidup, bang..." jawab Lakapala dengan suara putus-putus. Lakapala tidak bisa melanjutkan kalimat nya lagi, kala kakinya serasa tertimpa sesuatu yang berat. Berat sekali, sampai rasanya membuat Lakapala kembali memejamkan mata guna mengurangi rasa sakit itu.
Bukannya berkurang, rasa sakit itu mendera di semua bagian tubuh Lakapala. Cowok itu baru menyadari, bahwa lengan kemejanya sobek, mungkin karena terlalu lama bergesekan dengan aspal. Dan lengannya pun, berdarah.
"Itu luka kecil! Kau jangan menunjukkan gestur bahwa luka-lukamu itu parah!" omel Mono, padahal hati pria itu meringis. Luka Lakapala memang parah.
Tidak mendengar jawaban. Mono berdecak. "Jawab saya Lakapala! Kau harus tetap menjawab saya! Ingat di sini saya atasanmu!"
Tidak. Bukan karena Lakapala bawahannya, tapi agar pria itu tidak merasa cemas. Setidaknya, mendengar jawaban singkat Lakapala walaupun nyaris tidak didengarnya, hal itu dapat membuat Mono bisa merasa lega. Dia tahu, bahwa Lakapala masih bertahan, selama dia belum tiba di rumah sakit.
"Lakapala!"
"Bang....." bisik Lakapala. "Gue hampir nyerah..bang.."
"Selama di markas saya selalu mengajarimu mengenai prinsip seorang pria! Bahwa pria itu tidak boleh lemah, dan tidak.., tidak.." kepala Mono berputar, mencari kosa kata. Sial! Dia tidak fokus. Mono harus mengajak Lakapala terus berbicara, dan berusaha membuat Lakapala terus sadar.
"Lakapala kau ingat cerita Tito?" Pria itu tersenyum semringah, meski wajahnya berkhianat. "Cerita ini paling sering di ulangi Tito, tentang kisah seorang pria bernama Juha. Ceritanya tidak lucu, tetapi Tito menyukai nya..."
KAMU SEDANG MEMBACA
TENTANG LAKAPALA
Teen Fiction"Ganggu pacar gue, lo mati!" Lakapala Bramasta Gautama seperti Bintang. Ia merupakan gitaris kebanggaan band Legendaris SMA SANTANA membuat nama cowok itu bersinar. Parasnya, nyaris sempurna. Pun dengan gemilang prestasinya di segala bidang membuat...
