"Bisa bicara sama kamu, sebentar?"
Aura dingin di halaman kediaman Deliano mendadak lenyap, bergantian dengan aura canggung. Apalagi melihat tatapan datar dari mata hitam pekat pria berjas biru itu, yang sedang menatap Lakapala.
"Sama gue?" Lakapala membuka suara memecah keheningan di halaman--tempat mereka mengadakan acara bakar-bakar sate.
Pria itu mengangguk. "Kamu yang namanya Lakapala Bramasta Gautama, kan?"
Lakapala melirik Edwin yang buru-buru mengalihkan pandang. Dari gelagatnya Edwin, Lakapala tahu jika saat ini cowok itu sedang menertawakan dirinya. Bahkan mulut cowok itu membulat seolah mengatakan; Mampus lo.
"Saya tunggu kamu di halaman depan." Ucap Tatas pada Lakapala, berikutnya pria itu mendekati Jani. "Kakak tunggu di mobil, ya dek." Ujarnya lembut seraya mengusap rambut panjang Jani.
Sulisia hendak menyapa Tatas saat berpapasan dengannya, namun pemuda itu sama sekali tidak melirik Sulisia. Dia terus berjalan kencang menuju halaman depan. Sulisia akan bertanya pada Azfan, tapi Azfan langsung mengedikkan bahu tidak tahu.
"Buruan lo susulin bang Tatas!" Instruksi Juan pada Lakapala.
"Kira-kira dia bakalan ngomong apa ke gue?"
"Ya mana gue tau, anying." Sahut Azfan cepat sambil mendorong pelan punggung Lakapala agar cowok itu segera menyusul bang Tatas.
Edwin cekikikan di samping tante Dinda. "Mati lo."
Lakapala menoleh ke arah Jani, cewek itu tersenyum tipis pada Lakapala. Sedangkan Lakapala langsung membuang muka, takut jika tante Dinda akan curiga mengenai hubungan nya dengan Jani.
Setibanya di halaman depan, Lakapala langsung disuguhi pemandangan yang cukup menegangkan. Bagaimana tidak? Bukan hanya Tatas yang berada di kursi yang terdapat di halaman itu, namun Om Nando---Papa Azfan pun ada di sana. Kedua pria itu melayangkan tatapan permusuhan ke arah Lakapala.
Lakapala menggaruk tengkuknya seraya berjalan canggung menuju kedua pria itu.
"Ayok duduk. Saya mau bicara sama kamu." Kata Tatas, tatapan pria itu berubah biasa-biasa saja terhadap Lakapala.
"Ada apa ya, Bang?"
Nando mengisyaratkan Lakapala untuk segera duduk. Pria itu membuang putung rokok nya ke asbak, lantas meneguk air putih. Kebiasaan yang tidak pernah dihilangkan oleh Nando sejak ia masih remaja. Lakapala menurut, dia memilih duduk di sebelah om Nando ketimbang di samping Bang Tatas.
"Jadi begini...." Tatas menyudahi keheningan yang meliputi ketiganya. "Saya mau bertanya sama kamu, Lakapala,"
"Mau nanya, apa bang..?"
"Apa kamu sedang berpura-pura?" Tatas terkekeh, sejak kapan dia menjadi bertele-tele seperti ini. Tatas meralat cepat ucapannya. "Apa kamu sedang berpura-pura mencintai Jani...?"
"Nggak bang, gue serius terhadap Jani." jawab Lakapala lugas.
"Serius... Ya?" Tatas terkekeh geli. Pria itu mengetuk-ngetuk pahanya menggunakan jari dengan ritme yang ia inginkan. "Kalo begitu bisa kembalikan buku dairy milik tante saya, yang kamu ambil dari tas Jani dua tahun yang lalu.."
Perlahan-lahan Lakapala mengangkat kepalanya tegak. Butuh waktu lama bagi Lakapala untuk segera menanggapi perkataan Bang Tatas mengenai ini. Buku dairy. Benda itu mampu membuat jantung Lakapala berdegup kencang dengan ritme yang tidak karuan.
Nando sendiri menepuk bahu Lakapala, guna menyadarkan Lakapala dari lamunannya. "Apa kamu merasa bersalah Lakapala?"
"Lepaskan Jani..."
KAMU SEDANG MEMBACA
TENTANG LAKAPALA
Jugendliteratur"Ganggu pacar gue, lo mati!" Lakapala Bramasta Gautama seperti Bintang. Ia merupakan gitaris kebanggaan band Legendaris SMA SANTANA membuat nama cowok itu bersinar. Parasnya, nyaris sempurna. Pun dengan gemilang prestasinya di segala bidang membuat...
