48-Thankyou, Jani!

39.3K 1.1K 40
                                        

Dulu pada suatu ketika, gang sempit yang di kedua sisinya dipenuhi sampah-sampah itu pernah menjadi saksi dari sebuah kenangan indah yang kini berakhir nelangsa.

"Laka tau nggak? Selama kamu tinggal di kontrakan. Jani dapat banyak banget pengalaman!"

Di ujung gang yang membawa Lakapala menuju deretan kontrakan sempit, cowok itu memberhentikan motor matic milik Edwin. Matanya memandang kosong kontrakan bercat biru yang pernah ditinggalinya selama beberapa bulan.

Lakapala merapikan rambut hitam panjang yang menutupi dahi. Ia turun dari motor matic itu kemudian berjalan menghampiri sosok pria yang sedang duduk di teras kontrakan bersama seorang wanita.

Kehadiran Lakapala berhasil membuat wajah wanita yang mula-mulanya terlihat riang, berubah pucat.

"Mas Lakapala?" wanita itu berdiri, tangannya yang berada di belakang tubuhnya bergetar. Namun ia berusaha menyembunyikan itu dari Lakapala.

"Mbak Foni.." Lakapala tersenyum smirk pada wanita itu. Lantas Lakapala beralih menatap sinis pria yang berdiri di samping mantan ART keluarga Graha itu. "Bang Mono, lo juga tau sesuatu kan Bang?"

Pria itu menggeleng singkat, dia kembali duduk pada kursi rotan seraya menyesap kopi. "Saya tidak tahu apa-apa Lakapala."

"Pembohong!" desis Lakapala. "Lo pacarnya Mbak Foni, lo pasti tahu keberadaan keluarga Jani, Bang!"

Bang Mono tertawa. Dia bisa melihat bara api sekaligus sorot sendu dalam netra hitam Lakapala. "Dan kau sendiri adalah kekasihnya Jani, mengapa kau tidak tahu keberadaan kekasihmu jika memang dia masih hidup, hm?"

"Mas Lakapala harus bisa ikhlas atas kepergian Non Jani." kata Mbak Foni. Wanita itu menarik napas pelan-pelan. Kejadian di rumah Graha malam itu masih terekam jelas dengan sempurna dalam ingatannya.

Tangisan Nyonya Alara.

Kemarahan Tuan besar Ario.

Serta, Kesedihan Tuan Lanang.

Malam itu, sejak kejadian ketika Pak Gesal membopong tubuh Non Jani masuk ke rumah keluarga Graha. Pada detik itu juga, keharmonisan yang selalu diperlihatkan oleh keluarga itu tak pernah dilihatnya lagi sampai hari ini.

Apalagi setelah Nyonya Alara memohon-mohon pada Tuan Lanang untuk pergi keluar Negeri agar mereka bisa menghilangkan bayangan sosok Jani di setiap sudut rumah besar itu.

Dan bagaimana bisa Mbak Foni melupakan kebaikan Tuan Lanang pada dirinya dan Pak Gesal. Meskipun mereka tak bekerja lagi di keluarga Graha. Tuan Lanang selalu mengirimkan uang kepada Mbak Foni dan Pak Gesal. Selama tiga bulan berturut-turut ini.

Setelah semua kebaikan itu, tidak mungkin ia akan mengkhianati janji nya terhadap keluarga itu.

"Mas Lakapala..?" Mbak Foni memberanikan diri menyentuh punggung pemuda itu. "Jangan berlarut dalam kesedihan, Mas. Neng Jani pasti sudah tenang di sana."

"Mbak." Ucap Lakapala datar. "Jangan berusaha menyembunyikan apa pun dari gue."

"Mbak nggak menyembunyikan apa pun dari kamu, Mas Lakapala."

"Benar?"

Mbak Foni mengangguk. Namun terlihat ragu-ragu dimata Lakapala. "Bukannya kemarin Mbak juga pernah cerita ke kamu tentang kejadian malam itu?"

"Itu sebagian."

Mbak Foni melirik Bang Mono sekilas, sebelum ia kembali menatap mata tajam Lakapala. Percayalah situasi ini membuat Mbak Foni merasa bingung sekaligus bimbang. Apa lebih baik ia akan mengatakan yang sebenarnya? Daripada terus-terusan melihat kesedihan dimata Lakapala.

TENTANG LAKAPALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang