"dari warung kopi, masuk ke dalam gang. Dan di sana terdapat sebuah bangunan tua, bangunan ke dua di sisi kiri gang. masuk ke sana dan pencet tombol merah yang berada di sudut ruangan. Pintu itu akan membawamu ke markas kami. Terima kasih. Dan selamat bergabung, Lakapala Bramasta Gautama!"
"bangsat!" geram Lakapala setelah pria sialan itu mematikan telepon secara sepihak.
Lakapala mengedarkan pandangannya, di depannya terdapat warung kopi. Tanpa basa-basi cowok itu mulai menapaki jalan gang yang akan membawanya ke bangunan tua yang di maksud oleh pria sialan yang meneleponnya tadi.
Ini benar-benar gila. Bau ruangan tempat Lakapala berdiri saat ini mampu membuat perutnya serasa mual. Mata elang, cowok itu berusaha mencari tombol merah. Tidak semudah yang Lakapala kira, butuh waktu tiga menit lamanya baru dia menemukan tombol merah tersebut.
Kondisi ruangan kedua tidak jauh berbeda, dari ruangan pertama. Berantakan, dan juga bau busuk sampah-sampah di seluruh tempat ruangan ini. Masih, lebih baik kondisi kontrakan nya meskipun ia jarang untuk bersih-bersih.
Ketika pintu ketiga terbuka, Lakapala mendapati seorang pria berkemeja hitam sedang membelakangi nya. Di tangan kanan pria itu terdapat rokok. Sedang di tangannya kirinya, terdapat sebuah pistol.
Lakapala masih diam di ambang pintu. Dia masih menunggu pria itu yang akan bersuara terlebih dahulu.
"Lakapala Bramasta Gautama. Umur, 18 tahun. Putra dari Arsaka Farsa Gautama dan Syehna Vlarita. Memiliki kakak lelaki bernama Mahardika Pusaka Gautama, yang saat ini menjadi Direktur Utama di perusahaan Gautama. Papamu meninggal di saat kamu berusia 5 tahun. Sedangkan, Nyonya Syehna meninggal sewaktu melahirkanmu. Apa itu benar?"
Pria itu berbalik, dia langsung tersenyum tipis ke arah Lakapala yang masih berdiri di ambang pintu. Pria itu membuang puntung rokoknya ke lantai kemudian menginjaknya.
"selamat datang di dunia kami. Ini hidup Lakapala. Sebelum nya, kamu tidak pernah berpikir akan menginjak tempat ini. Tapi begitu lah realitas, dunia ini dipenuhi oleh orang-orang licik, picik, dan orang-orang tamak akan uang, ketenaran, dan pangkat."
Pria itu berjalan mendekati Lakapala. Senyumnya tampak penuh kedengkian, sorot matanya menunjukkan aura ketegasan, berwibawa, dan tatapan penuh intimidasi.
"Berapa uang yang kau butuh kan?"
Lakapala masih diam. Cowok itu mengamati sosok pria di depannya sambil berkerut dalam. Lalu ia tersenyum tipis, dan menjawab. "tidak banyak,"
"saya suka jawabanmu." Kata pria tersebut sembari menepuk bahu Lakapala. Apa Lakapala, akan menyebut senyuman pria ini sebagai senyuman bangga?
"apa yang akan gue lakukan di tempat seperti ini?"
"sudah saya duga kamu akan menanyakan ini." Ujar pria itu. "sebelum kemari apa Tito sudah menjelaskan mengenai tugas-tugasmu?"
Lakapala mengangguk dengan wajah datarnya.
"Apa kamu menyanggupinya?"
"Iyaa,"
"mengenai hal pertama, jika kami membutuhkan kamu tetapi kamu sedang bersama teman-temanmu apa kamu akan pergi untuk melaksanakan perintah kami. Atau, kamu akan tetap bersama teman-temanmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TENTANG LAKAPALA
Teen Fiction"Ganggu pacar gue, lo mati!" Lakapala Bramasta Gautama seperti Bintang. Ia merupakan gitaris kebanggaan band Legendaris SMA SANTANA membuat nama cowok itu bersinar. Parasnya, nyaris sempurna. Pun dengan gemilang prestasinya di segala bidang membuat...
