Lakapala mengendarai motor sport milik Dika dengan ugal-ugalan. Tak peduli jika pengendara lain berteriak memakinya. Pikiran Lakapala berputar mengingat kesepakatan yang telah ia setujui.
Cowok yang memakai jaket kulit berwarna hitam itu, semakin menambah kecepatan laju motornya, berharap dengan aksinya itu dapat mengalihkan pikiran nya. Nyatanya, semakin cepat laju motornya, secepat itu pula pikirannya mengulangi dialog-dialog di dalam markas beberapa saat yang lalu.
Cowok itu memilih menepikan motornya di dekat sebuah warung makan di pinggir jalan. Suasana warung itu tampak sepi dari luar. Lakapala tidak turun dari motornya, dia hanya duduk diam di atas motor sambil berusaha mengontrol hati kecilnya yang menolak mentah-mentah mengenai tugasnya besok malam.
Lakapala mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, lantas menekan nomor seseorang di log panggilan.
"Lo di mana?" ucapnya setelah sambungan telepon itu terhubung.
"Di rumah, kenapa?"
"Cepat ke warung makan pecel lele di jalan Karangnongko!"
"Gila kali lo!! Ini udah larut banget njing, gue ngantuk!"
"Sekarang, Fan."
"Ogah!"
Sambungan telepon itu terputus. Setelahnya, tidak terdengar suara apa pun lagi. Hanya suara hembusan angin malam yang menyapu kulit Lakapala tanpa malu. Mata yang selalu mengintimidasi setiap lawan bicaranya itu, terpejam kuat seraya menikmati angin yang menerpa bebas wajahnya. Lakapala memanfaatkan suasana hening ini untuk mengajak dirinya berbicara.
Selang beberapa saat terdengar suara deruman mobil yang dikendarai dengan laju cepat di belakang Lakapala. Mobil sport berwarna putih yang diberi modif dua garis hijau di bagian belakang nya itu, berhenti di samping Lakapala.
Azfan keluar dari mobilnya dengan wajah dongkol. Rambutnya pun tidak di tata rapi seperti biasanya. Karena bagi Azfan, gaya rambut adalah hal paling penting untuk menyempurnakan penampilan seorang pria.
Namun, Azfan menepikan prinsipnya itu dulu, demi menemui cowok sialan yang tengah duduk santai di atas motor sport. Ingin sekali Azfan merobek wajah Lakapala yang terlihat mengesalkan di matanya.
Lakapala tersenyum tipis. "Thanks." ucapnya menatap Azfan dengan sorot sendu.
Azfan yang mengerti pun duduk lebih dulu di sebuah kursi panjang yang ada di trotoar. "Motornya Bang Dika?"
"Fan." suara Lakapala terdengar lirih. Membuat Azfan buru-buru menyahut. "Ada apa?"
"Bantu gue nemuin jalan pulang..."
Hanya Azfan yang mengerti makna kata-kata ambigu Lakapala. Cowok bermata sipit itu menunduk, sejauh mana Lakapala pergi. Sehingga cowok itu kembali melontarkan kalimat ini. Kalimat yang sama sewaktu Lakapala membuat kesalahan satu tahun yang lalu. Namun, Azfan merasa Lakapala yang kala itu, berbeda dengan Lakapala yang berada di depan mata kepalanya saat ini.
"Lo bisa bantu gue, kan Fan?"
Bukannya menanggapi seperti biasa. Azfan malah mengepalkan tangannya di depan Lakapala. Meminta cowok itu untuk ber tos ala-ala cowok. Azfan tersenyum membuat kedua sudut matanya menyipit membentuk bulan sabit.
"Long time no see..." Ucapnya. Azfan menarik kepalan tangannya saat Lakapala sama sekali tidak memberi reaksi apa pun. "Lo kemana aja?"
Sedang Lakapala merasa sekujur tubuhnya kaku. Ada getaran aneh dalam dirinya yang terjadi beberapa detik yang lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
TENTANG LAKAPALA
Novela Juvenil"Ganggu pacar gue, lo mati!" Lakapala Bramasta Gautama seperti Bintang. Ia merupakan gitaris kebanggaan band Legendaris SMA SANTANA membuat nama cowok itu bersinar. Parasnya, nyaris sempurna. Pun dengan gemilang prestasinya di segala bidang membuat...
