32-Investagition started

12.5K 651 1
                                        


"Ngomong apa lo barusan?" kata Lakapala mencengkeram kuat kerah seragam cowok berambut ikal itu. "gue bilang lo ngomong apa barusan, sialan?!"

Han serta cowok bertubuh kurus itu mulai panik. Keduanya berusaha memisahkan Lakapala dan Kolil. "bang, bang! Jangan di anggap serius omongan si Kolil! Bisa jadi dia salah liat, bang!" kata Han.

Namun, Lakapala semakin menatap Kolil dengan tajam. Tak peduli jika wajah Kolil sudah pucat pasi. Salah besar, jika cowok ini berani membangunkan sikap sangar yang akhir-akhir ini jarang diperlihatkan Lakapala pada mereka.

"Bang..." Kolil mulai kehabisan napas. "ini cum-a dugaan gue.. Bang.."

"Bang dia bisa mati!" kata Agi, yang mampu membuat kesadaran Lakapala kembali.

Cowok itu melepaskan cengkeraman nya pada kerah seragam Kolil. Tapi bukan berarti Lakapala bisa membiarkan cowok itu lolos begitu saja, setelah dengan seenaknya menyebutkan kekasihnya-Jani memiliki penyakit serius.

Kolil terbatuk-batuk, cowok itu kemudian meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Sedangkan Lakapala masih memandangnya dengan ekspresi datar. Han serta Agi langsung menyodorkan air mineral yang tersisa setengah pada Kolil.

"Jaga mulut lo Lil! Jangan sembarangan kalo ngomong, ah!" ujar Han seraya menepuk-nepuk kecil punggung Kolil agar batuk cowok itu segera mereda.

"ya, gue cuma nanya.." ucap Kolil meringis, saat Agi menginjak kakinya. Kolil melirik Agi yang tengah mengedip-ngedipkan matanya-memberi isyarat agar Kolil tidak melanjutkan ucapannya tatkala tatapan Lakapala kian mendatar.

"mulut lo..." bisik Han di sebelah Kolil. "lo tau sendiri kan, dia bagaimana?"

"Gue salah ngomong, lagi..?" balas Kolil nyaris tak terdengar oleh Han. "mampus, dah gue Han. Tadi aja gue hampir meninggal bangsat.."

Lakapala tersenyum tipis seraya mangut-mangut mendengar suara-suara bisikan antara ketiga cowok di depannya itu. Cowok itu, melipat tangan nya di dada, sejurus kemudian dia menatap Kolil.

"Lil..?"

Bahu Kolil menegang mendengar suara datar Lakapala. Pandangan cowok berambut ikal itu bertemu dengan netra hitam Lakapala. Jantung cowok itu berdetak cepat, bisa ia tebak kejadian selanjutnya yang akan menimpanya. Layaknya suara sirene yang tengah berbunyi nyaring, Kolil mulai waspada terhadap setiap pergerakan Lakapala.

Kolil ingat sekali, ia pernah mengalami kondisi serupa saat ia tanpa sengaja bertindak ceroboh kala menerima barang dari Lakapala. Akibatnya, polisi hampir saja menangkap dirinya jika saja Lakapala tidak bergegas menarik cowok itu untuk bersembunyi dari kejaran Polisi. Iya, Kolil aman dari Polisi, tapi kehadiran Lakapala jauh lebih menyeramkan daripada para Polisi-Polisi itu. Ia hampir tewas di tangan Lakapala malam itu.

"Dengan pemanasan, atau tanpa pemanasan?"

"Bang gue cuma nanya doang. Gue gak ada maksud buat ngomong yang nggak-nggak tentang pacar lo, bang..." ujar Kolil sembari melangkah mundur. "gue ngomong kayak tadi, karena gue liat dia nggak cuman sekali. Tapi, berkali-kali bang.."

"Pacar gue sehat, setan! Lo jangan ngomong yang aneh-aneh!" sentak Lakapala. Perasaan Lakapala mulai campur aduk, cowok itu takut kalau seandainya ucapan Kolil berupa sebuah fakta.

Tapi dirasanya itu tidak mungkin, sebab selama ini Jani selalu jujur padanya. Dan tidak mungkin pula, hal sebesar ini dirahasiakan Jani darinya.

Kolil keparat!

Pikiran Lakapala jadi kacau. Dan satu-satunya cara untuk mengatasi ini adalah, melampiaskan amarahnya pada Kolil. Cowok itu harus membayar setiap kata yang dia lontarkan mengenai Jani.

TENTANG LAKAPALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang