38-Laka dan Luka

14.7K 716 15
                                        

Nyonya Deliano berjalan anggun memasuki rumah berlantai tiga itu dengan senyum mengembang tatkala melihat si putra bungsunya tengah berdiri melipat tangan di dada sembari bersandar pada pilar besar, ah lihat saja bagaimana menggemaskan putranya itu ketika menyipitkan mata ke arahnya.

"Keripik lagi Ma?"

Dinda mencium kedua pipi putra nya, lantas masuk ke dalam rumah tanpa menjawab pertanyaan Azfan.

"Maaa..." Azfan merengek, berjalan mengekor di belakang wanita yang memakai dress berwana cream itu. "Kalau jalan-jalan jangan cantik-cantik, Ma."

"Harusnya kamu bangga, punya Mama cantik," kekeh Nyonya Deliano meletakkan belanjaannya di atas meja yang langsung di ambil alih oleh dua pelayan khusus di Istana Deliano. "Kamu pasti malu, ya punya Mama yang kerjaannya shopping sama dandan?"

Azfan menggeleng. "Nggak. Azfan suka kalo Mama belanja, ya cuma belanjanya yang wajar aja Ma. Masa Mama rela panas-panasan cuma buat antre beli keripik, apa kata orang Ma? Seorang Istri Nando Deliano belanja ke pasar, padahal setengah tempat perbelanjaan di kota ini itu mi--"

Dinda membungkam mulut putranya dengan kedua telapak tangan. Wanita itu memelototi Azfan. "Diam, jangan larang-larang Mama, ah!!"

"Ih, nyolot!"

"Woi, yang sopan kalo ngomong sama nyokap gue!" Sulisia tiba-tiba muncul dari belakang Dinda. Perempuan yang kuliahnya nggak kelar-kelar itu mengambil satu bungkus kripik milik sang Mama, kemudian duduk santai di sofa tanpa memedulikan tatapan geli Azfan.

"Pantes gak laku-laku, lo emang jelek banget!" decak Azfan geleng-geleng.

Sulisia mendelik tak suka ke arah cowok itu. "Sok banget ngatain gue jelek, kayak pacar lo cantik aja!" perempuan itu menoleh pada sang Mama yang duduk di samping nya sembari memainkan ponsel. Sulisia berdecak, gaya Mamanya mirip seperti cabe-cabean di kampusnya. "Ma, pacarnya Azfan jelek loh, Ma. Rambutnya pirang gitu. Terus pakaiannya seksi-seksi, kayak lingerie Mama." adu perempuan itu.

Azfan memberi tatapan garang pada Sulisia, kakak perempuan nya itu malah bercerita yang tidak-tidak mengenai Saira. Astaga! Saira tidak senakal itu, cowok itu menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba gaya nakal Saira kala di ranjang melintas di kepala Azfan. Sialan! Sesuatu di bawah sana berdiri tanpa persetujuan Azfan.

Saira lo buat gue gila!

"jangan dengerin omongannya perawan tua Ma! Ngarang dia!" Azfan ngacir berlari menaiki tangga, dia harus segera menuntaskan sesuatu sebelum 'sesuatu' itu mempermalukan dirinya di depan sang Mama.

"ANJING LO UMUR GUE BARU 24 TAHUN ANJROTTT!! GAK TUA-TUA AMAT!"

"Sia, bahasanya."

"UMUR SEGITU MAMA UDAH LAHIRIN LO!!" balas Azfan dari dalam kamarnya di lantai dua.

"Wah ngeselin anak lo itu Dind!" kata Sulisia pada Mamanya. Perempuan itu refleks menutup mulutnya, ketika melihat Dinda menatap nya marah.

Dinda mencubit paha putri sulungnya nya. "Di ajarin siapa, huh?"

Alih-alih menjawab, Sulisia justru berlari menuju kamarnya. Tawa perempuan itu berderai di sepanjang langkahnya menaiki undakan tangga. Bisa-bisanya ia berkata seperti barusan pada Mamanya.

Sedang Dinda menghela napas, buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Dinda sudah tau resiko menikah dengan Nando, pria yang dilabeli tengil di Masa SMA dulu. Maka tak heran jika anak-anaknya mewarisi sifat tersebut sekarang.

"Nyonya, ada tamu." Kehadiran sosok pelayan, membuat Dinda mengalihkan fokusnya dari ponsel. Mata hitam itu membulat ketika mendapati tamu yang di maksud oleh pelayan. "Adiba?!"

TENTANG LAKAPALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang