Lakapala berusaha sekuat tenaga agar gadis di dalam dekapannya itu tidak pergi, namun mau sekuat apa pun ia menahannya gadis itu tetap memilih pergi tanpa mau mendengar penjelasan Lakapala.
Mendadak pikiran Lakapala kalut, ia bimbang antara mengejar Jani atau membiarkan tubuh gadis itu perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.
"Jani..." Ia memanggil nama kekasihnya dengan nada lirih setelah Jani benar-benar hilang dari pandangan.
Sekujur tubuh Lakapala terasa keram. Ribuan kata-kata mulai berlomba-lomba menyusun kalimat di dalam kepala cowok itu, untuk memberikan kalimat paling 'pas' dan 'tepat' agar alasannya bisa memuaskan sang kekasih.
Lakapala pun tidak yakin, apa alasannya akan masuk akal tapi yang terpenting adalah agar Jani selalu bersamanya. Semoga, semesta turut mengaminkan permohonan Lakapala yang satu ini.
Cowok berambut hitam legam, serta garis rahang tegasnya menyempurnakan pahatan wajah yang sepertinya di rancang sesempurna mungkin oleh Tuhan. Sehingga, beberapa siswi SMA Santana yang baru keluar dari kelas mereka masing-masing memandang wajah Lakapala penuh ketertarikan ketika cowok itu mendongakkan kepala sambil memejamkan mata.
Percayalah, wajah Lakapala saat ini benar-benar terlihat damai, pikir mereka yang melihat nya.
Faktanya, Lakapala tengah diliputi perasaan cemas. Sadar tengah di perhatikan, cowok itu membuka mata. Sejurus kemudian ia menunjukkan wajah garangnya pada siswa-siswi yang tengah menatapnya.
"Mau gue congkel mata lo?"
Mereka buru-buru melanjutkan langkah menuju kantin, terdengar suara saling menyalahkan satu sama lain karena telah berhenti untuk sekedar memperhatikan Lakapala.
"Woi anjeng!"
Lakapala melirik malas ke tiga cowok yang tengah berjalan menuju arahnya. Seperti nya suasana damai sulit sekali untuk Lakapala nikmati, walau sejenak.
"Ayok latihan! Kita punya lagu baru loh, Lak!" cowok bermata sipit itu merangkul bahu Lakapala, namun Lakapala langsung menepis lengan Azfan.
"Di ruang musik udah ada Dion and his friend!" pernyataan itu di lontarkan oleh Edwin meski tidak ada yang bertanya.
Jadinya, Juan mengangguk saja sembari berjalan terlebih dahulu mengabaikan celotehan Edwin dan Azfan.
"Juan!"
Cowok yang selalu menunjukkan wajah dingin itu mengangkat alisnya sebelah, ia lantas bersuara mengakhiri kebingungan nya sendiri. "Kenapa?"
"Nyokap lo apa kabar?" tanya Lakapala di samping Juan seraya memasukkan ke dua tangan ke dalam saku seragamnya. Tidak mendapat jawaban, akhirnya ia menoleh. "Bokap, lo?" ralatnya cepat.
Juan terkekeh ringan. Ia masuk ke dalam ruang musik tanpa menjawab pertanyaan Lakapala. Setelah duduk di sofa, diikuti Lakapala di sampingnya. Baru ia menjawab. "Mama gue, baik-baik aja. Cuma dia lagi banyak job akhir-akhir ini. Bokap gue juga lagi ngerjain proyek besar di luar kota." Ia mengakhiri kalimat nya dengan tawa garing. "Rumah gue lagi sepi, makanya Edwin sering bawa ceweknya ke sana."
Mendengar namanya di sebut-sebut, Edwin mendelik tajam ke arah Juan. "Jun jangan di lanjutin Jun! Lo tau sendiri kan, Lakapala gimane orang nya! Dia bakal ceramahin gue panjang lebar, pasti!"
"Juan.." panggil Lakapala tanpa menghiraukan Edwin. Azfan yang tengah membenarkan kabel-kabel alat musik diam-diam menajamkan pendengarannya.
"apa?"
Lakapala memandang gitar yang diletakkan di pojok ruangan dengan raut sendu. "Baik-baik sama nyokap lo, selagi dia masih ada."
Azfan yang peka, mengusap bahu Lakapala. "Nanti ke rumah gue ya, Lak. Nyokap gue kangen sama lo, katanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
TENTANG LAKAPALA
Teen Fiction"Ganggu pacar gue, lo mati!" Lakapala Bramasta Gautama seperti Bintang. Ia merupakan gitaris kebanggaan band Legendaris SMA SANTANA membuat nama cowok itu bersinar. Parasnya, nyaris sempurna. Pun dengan gemilang prestasinya di segala bidang membuat...
