"Sarapan dulu." ujar Dika ketika Lakapala baru turun dari tangga. Lelaki itu tidak menoleh ke arah Lakapala, melainkan sibuk menyantap nasi goreng buatan Bik Dasti.
"Gak perlu." cuek Lakapala sambil berjalan ke meja tempat televisi. Cowok itu berjongkok, lantas membuka laci tempat di mana Dika menyimpan semua kunci kendaraan di rumah ini.
"Semalam lo habis darimana?" Dika menyelesaikan sarapannya, kemudian meneguk air putih. Setelahnya lelaki itu menatap punggung lebar Lakapala. "Lo lupa peraturan yang gue buat? Tidak boleh pulang lebih dari jam duabelas malam."
Setelah mendapat kunci motor sport. Lakapala berdiri, niat awalnya Lakapala tidak akan menanggapi ucapan Dika. Namun, kalimat Dika yang barusan membuat Lakapala terkekeh sinis, lalu berbalik.
"Gue gak suka diatur." ucap Lakapala dingin.
"Itu tujuan gue minta lo pulang, Lakapala. Supaya lo bisa di atur." Dika menghela napas singkat. Lelaki itu jengah terhadap tingkah Lakapala yang semakin hari semakin tidak bisa di kontrol. "Gue kira setelah lo pergi dari rumah, lo bisa berubah. Ternyata gue salah. Lo semakin hilang kendali."
Lakapala mendecih."jangan sok tahu tentang gue."
"Kapan lo bisa ngerti?" Dika menatap adiknya dengan sorot dalam. "Lo udah berani makek narkoba?"
Lakapala geram. Pantas saja semalam setelah ia pulang dari rumah Azfan, ia mendapati kamarnya dalam keadaan acak-acakan. "Lo berani masuk ke kamar gue?!"
"Jawab kakak Lakapala! Apa lo pakek narkoba?!" tanya Dika dengan intonasi tinggi. Bik Dasti yang tengah mencuci piring di dapur pun sampai menjatuhkan gelas akibat terkejut mendengar suara tinggi Dika.
"Kakak..?" Lakapala tertawa renyah. "Kapan gue punya kakak?"
"Gue lagi serius!" Dika sontak berdiri dari duduknya. "Jawab gue dengan jujur! Siapa pemilik serbuk-serbuk berjumlah banyak di dalam lemari lo itu?!"
"Lo gak perlu tau." Lakapala masih bersikap tenang. Tapi tidak dengan Dika. Lelaki itu mencengkeram gelas di atas meja dengan kuat. Mengakibatkan buku-buku jari jemarinya memutih.
"Kembalikan barang-barang itu ke pemiliknya Lakapala..." suara Dika terdengar dingin. "Kalo gue sampai mendapatkan barang-barang seperti itu di rumah gue! Gue gak akan segan-segan buat laporin lo ke polisi!"
Lakapala melipat tangannya di dada. Muka cowok itu terlihat menantang Dika. "Berhenti bertingkah seolah-olah lo kakak kandung gue!"
"Gue emang kakak kandung lo!" Untuk kesekian kalinya Dika berusaha mengendalikan dirinya, agar ia bisa bersikap tenang tatkala menghadapi Lakapala. Tidak seperti yang sudah-sudah, Dika selalu terbawa emosi. Akibatnya Lakapala selalu salah paham mengenai caranya mendidik Lakapala.
"Dan itu sebabnya gue minta lo mengembalikan barang-barang itu, karena gue peduli sama lo!!" lanjut Dika.
"Hal kayak gitu, lo sebut sebagai rasa peduli?" ucap Lakapala seraya tertawa pelan. "Bilang aja karena lo takut citra lo bakal buruk gara-gara rumah ini kedapatan menyimpan narkoba?" Lakapala menatap Dika dengan tatapan mengejek. "Apa tebakan gue benar?"
"Lakapala..." Dika tidak tahu cara menjelaskannya pada Lakapala agar adiknya ini bisa mengerti. "Gue sama sekali gak peduli tentang image gue. Tapi gue takut, lo di penjara. Sementara lo, masih pelajar."
"Jangan sok dramatis. Tenang aja, hari ini lo nemuin narkoba di kamar gue, siapa tahu besok lo bakal menemukan bom nuklir. " ujar Lakapala santai. Cowok itu melempar-lempar kunci motor sport milik Dika ke udara. "Gue pinjam motor lo!"
Sebelum keluar dari rumah itu, Lakapala menyempatkan diri untuk tersenyum miring ke arah Dika. "Lo gak mau cicip serbuk itu? Gue bakal kasih gratis ke elo. Tapi untuk percobaan ke dua, lo harus bayar."
KAMU SEDANG MEMBACA
TENTANG LAKAPALA
Novela Juvenil"Ganggu pacar gue, lo mati!" Lakapala Bramasta Gautama seperti Bintang. Ia merupakan gitaris kebanggaan band Legendaris SMA SANTANA membuat nama cowok itu bersinar. Parasnya, nyaris sempurna. Pun dengan gemilang prestasinya di segala bidang membuat...
