35-Misunderstanding

12K 596 27
                                        

"Bener ternyata, lo disini!" Cowok itu mendengus kesal ketika mendapati sosok cowok yang tengah duduk tenang sambil merokok pada kursi di sudut ruangan. Tidak tahu saja dia, akibat tingkahnya yang selalu begini--semena-mena membuat semua orang kerepotan.

"Ikut gue ke sekolah! Sebenarnya tujuan hidup lo apa sih?" Azfan berjalan mendekati sosok cowok itu, naasnya sebelum Azfan berhasil mendekatinya, cowok itu lebih dulu menahan langkah Azfan.

"Batas lo sampai di situ, kalo lo lewatin lo bakal mati di tangan gue sekarang juga!" ujar Lakapala menodongkan pistol ke arah Azfan.

Alih-alih merasa takut, Azfan justru tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai matanya berair. "Dapat di mana coba pistol mainan kayak gitu?" ucapnya, masih tertawa.

Sorot mata Lakapala semakin dingin. Pelan, dia kembali memasukkan pistol itu ke dalam sakunya. Ia tertawa dalam hati, mendengar ucapan Azfan.

Pistol mainan? Batinnya mengulang-ngulang, ada gejolak aneh yang terasa menguasai rongga dada cowok itu. Sehingga napasnya terdengar memberat. Dia tidak marah, tidak. Hanya saja, dia kembali merasa malu. Sering sekali ia mengulangi pengakuan ini bukan?

"Balik Lak! Kalo punya masalah cerita ke gue! Jangan main pergi-pergi kayak gini. Lo bikin kami semua cemas Lak!" Azfan menghela napas singkat, kenapa dari sekian banyak orang yang mencemaskan Lakapala, kenapa dia sendiri yang mau repot-repot mendatangi tempat yang tidak pernah dikira oleh banyak orang, bahwa tempat inilah yang menjadi tempat persembunyian si pecundang itu!

"Pergi lo."

"Lo punya masalah?"

"Lo gak perlu tau!"

Lakapala kembali menghisap batang rokoknya, sembari memandang lurus sebuah pohon besar dari balik jendela. Pemuda itu mengabaikan semua omong kosong Azfan yang mengajaknya pulang. Untuk sementara waktu ini, Lakapala ingin menenangkan pikirannya dulu sebelum mempersiapkan diri untuk berbicara baik-baik dengan Jani.

Mau bagaimana pun, reaksi Jani nanti setelah mengetahui kebodohan yang dilakukan Lakapala, cowok itu akan menanggung risiko nya. Kecuali satu hal, jika gadis itu meminta Lakapala untuk pergi, ia sama sekali tidak akan menuruti kemauan Jani.

"Lak lo jangan kekanak-kanakan gini dong!" decak Azfan, cowok bermata sipit itu merasa geram karena diabaikan oleh Lakapala. "Kemarin bang Dika dipanggil sama pihak sekolah. Pihak sekolah sepakat buat ngeluarin lo, tapi bang Dika mohon-mohon sama Pak Barespati supaya ngasih lo kesempatan beberapa hari lagi! Dan kalo lo gak masuk besok.." Azfan mengedikkan bahu. "Ya, lo bakal di keluarin!"

Tahu bagaimana respons Lakapala terhadap ocehan panjang lebar Azfan? Lakapala membuang puntung rokoknya ke lantai kemudian melirik sekilas Azfan, lalu berujar. "Sekolah banyak, jangan ribet!"

Ya Tuhan! Ni anak setan emang gimana sih?! Azfan mencakar-cakar udara, saking kesalnya terhadap sikap santai Lakapala. "Ya masalahnya kita udah kelas tiga Lak! Bentar lagi juga bakal lulus! Lagian apa susahnya sih sekolah cuma datang, duduk diam, terus pulang!"

Lakapala menjentikkan jari. "That's why! Hal kayak gitu, buang-buang waktu gue!"

"YAUDAH KALO GAK MAU KAYAK GITU! SEKOLAH JADI MURID YANG BENER MAKANYAA!!!" Azfan refleks melempar bantal sofa ke wajah Lakapala, membuat Lakapala meremas kuat bantal sofa itu seraya menatap garang Azfan.

"Berani sama gue?!"

"Berani gue!" Azfan menarik lengan hoodie nya hingga siku. Cowok bermata sipit itu memasang kuda-kuda. "Ayok, maju! Gue gak takut!" Ucapnya sok berani, padahal ia menelan ludah ketika melihat Lakapala berdiri dari duduknya.

TENTANG LAKAPALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang