17-Drama Pagi Hari

17.2K 823 20
                                        

Seharusnya Lakapala kembali saja ke kontrakan nya setelah melihat mobil sport berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan di dekat gang menuju kontrakannya. Lakapala berdiri mematung, sudah lama ia tidak menyentuh mobilnya itu. Ia terus memandang lurus mobil itu, sampai sang pengemudi keluar dari sana. Lakapala langsung membuang, muka. Sedang orang yang baru keluar dari mobil itu tersenyum bangga ke arah Lakapala. Seolah mengatakan, bahwa Lakapala memang tidak memiliki hak apa pun. Di sini dia yang berkuasa.

Dia berjalan menuju Lakapala dengan langkah penuh wibawa. Penampilan Laki-laki itu terlihat, sempurna dengan kacamata hitam nya, jas biru dongker membungkus tubuh atletis laki-laki itu.

Lakapala mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tidak iri, hanya saja ia merasa kesal terhadap ambisius laki-laki ini.

"Apa, kabar adik?" ada nada mengejek dari ucapannya yang barusan. "Ngomong-ngomong mobil lo bagus juga ya.." lanjutnya, dengan anggukan kepala singkat. "Kenapa nggak dari dulu, aja, ya, gue ambil dari lo..."

Sebisa mungkin Lakapala tidak terpengaruhi oleh perkataan Mahardika. Cowok itu menatap Mahardika muak. "Mau ngapain lo?"

"Apa, ya?" Laki-laki itu mengetuk dagunya, menggunakan jari. Memperlihatkan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Lagi-lagi Lakapala menggeram dalam hati. Jam tangan itu miliknya. Dulu. Suara lain dalam diri Lakapala buru-buru menyadarkan cowok itu. Iya, jam tangan itu bukan miliknya lagi.

"Muka lo kenapa? Di keroyok preman?" Bisa-bisanya, tebakan Mahardika benar. Lakapala mengalihkan pandangan nya pada objek apa pun, selain menatap laki-laki di depannya.

"Gue lagi, ngomong!" Mahardika menjentikkan jari di depan wajah Lakapala. "Bisa gak, ekspresi lo jangan sangar kalo ke gue?"

"Lo terlalu basa-basi." tekan Lakapala, melirik Mahardika sebentar, sebelum kembali menatap laju kendaraan di jalan raya.

Mahardika tertawa. "Oke, Oke, fine. Gue langsung ke intinya...." Laki-laki itu menghela napas berat. "Tante Tita telpon gue, dia tahu kalo lo pergi dari rumah."

"See.." Sinis Lakapala. " Lo selalu nunjukin kalo gue emang se brandal itu ke Tante Tita. Bukannya, lo yang minta gue pergi?" Lakapala melanjutkan ucapannya, namun suaranya terdengar lemah. "Lagian gue nggak berhak atas semua aset peninggalan Papa, right?"

"Lo emang brandal boy." Sanggah Mahardika. "Berapa kali gue dapat surat panggilan dari sekolah lo. Lo yang bolos lah, lo yang habis mukul anak orang lah, lo yang habis rusakin pintu gerbang sekolah..." Mahardika nampak muak dengan kelakuan Lakapala. Laki-laki itu menghela napas kasar. "Dari lahir lo emang selalu nyusahin gue.."

Kepalan tangan Lakapala semakin menguat mendengar ucapan Mahardika. Itu benar Lakapala lo emang selalu nyusahin banyak orang. Suara itu kembali menyindir Lakapala. Namun, pada detik itu juga suara lain membela Lakapala. Lo nggak nyusahin mereka Lakapala, buktinya lo bisa apa-apa sendiri sekarang. Sekarang, ya...? Iya. Itu memang benar. Buktinya sekarang Lakapala tidak lagi meminta uang pada Mahardika, dan memprotes, setiap kali jatah uang jajannya dikurangi Mahardika karena ia terlalu boros.

Tapi lo dapetin uang dengan cara yang nggak benar Lakapala...

"Pulang ke rumah.." Suara Mahardika, menyelamatkan cowok itu dari perasaan was-was nya. Ia tidak lagi menghiraukan suara dalam dirinya, yang selalu membuat Lakapala merasa gelisah setiap waktu.

TENTANG LAKAPALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang