13-Malioboro dan Ceritanya

25.2K 1.1K 11
                                        

Untuk sesaat Lakapala menghela napas, lalu membuang muka. Malas sebenarnya datang ke tempat ini. Tapi apa boleh buat jika kekasihnya mau datang ke tempat ini.

"Aku bebas makan apa aja disini."

Iya, Lakapala maklumi jika Jani sangat menjaga apa yang akan dikonsumsi nya. Terutama makanan yang berminyak, bersaus, dan makanan kacang-kacangan.

"Kata Papa, makanan kayak gitu. Nggak baik buat kesehatan."

Dan dari sana Lakapala menyimpulkan bahwa Papa Jani melarang Jani untuk mengonsumsi makanan seperti itu. Buktinya sekarang, pacarnya sedang menikmati sate kambing di sampingnya. Jani makan dengan lahap, cewek itu tidak memedulikan sekitarnya saking asyiknya dengan dunia sendiri.

"Mau coba?"

Lakapala mengerjap, ia menggeleng sambil tersenyum. "Nggak,"

"Nggak suka sate?"

"Suka. Tapi gue udah kenyang."

Jani menganggukkan kepala, lalu kembali memakan satenya. Lakapala menopang dagu seraya menatap pacarnya dari samping. Tak pernah disangkanya jika gadis polos nan lugu seperti Jani mengakibatkan Lakapala lupa akan semua permasalahan nya saat ini. Melihat cewek ini Lakapala merasa tenang, dia menemukan rumahnya. Karena satu-satunya yang Lakapala miliki adalah Jani.

"Jani, nikah yuk." gurau Lakapala membuat cewek itu menatap Lakapala horor.

"becanda mulu! Hal kayak gitu nggak boleh dibecandain!"

"Makanya, ayok serius."

Jani mendengus, sedang Lakapala terkekeh. Tangannya terulur untuk mengacak gemas rambut Jani. "Nanti nikah sama gue, ya. Nggak boleh sama orang lain. Pokoknya harus sama gue."

"ya, kalau jodoh."

"harus!"

Jani mencubit lengan Lakapala seraya melotot. "masih kecil, nggak boleh ngomong nikah-nikahan!"

Lakapala tertawa. Senang, menggoda pacarnya. Apalagi melihat wajah kesal Jani saat ini. "Dengar omongan lo yang barusan. Gue keinget omongan kakek lo."

Detik itu pun, Jani meletakkan piring satenya di trotoar. Lalu memusatkan pandangannya ke arah Lakapala. "kakek ngomong apa aja sama kamu?"

"Banyak,"

"Salah satunya?"

Lakapala terdiam sejenak, dia terus mencubit gemas pipi Jani walau sesekali Jani menepis tangannya. Tapi ia terus melakukan nya bahkan bukan pipi Jani saja, rambut Jani pun cowok itu usap secara berulang-ulang.

"Beliau minta gue jaga lo." katanya kemudian.

Jani menatap Lakapala penuh selidik. "Bener?"

"hm."

"Aku nggak percaya."

Lakapala berdecak, karena kesal cowok itu menyentil kening Jani. "Sekarang lo sulit ya, buat percaya sama gue?"

Habisnya, sekarang kamu sering bohong. Nyatanya, Jani tidak mengatakan itu langsung pada Lakapala. Sebaliknya, ia tersenyum tipis ke arah Lakapala. Gantian dia yang memainkan tali hoodie Lakapala. Sesekali menariknya, kemudian kembali dilonggarkan nya. Begitu seterusnya, sampai Lakapala menarik tangan Jani untuk digenggam oleh cowok itu.

"Rusak nanti, hoodie gue mahal." canda Lakapala.

Genggaman Lakapala pada tangan Jani semakin erat, kala gerombolan beberapa remaja seusia mereka melintas di depan keduanya. Salah satu dari mereka, menatap Jani lekat, melihat itu Lakapala menatap cowok itu tajam.

TENTANG LAKAPALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang