31-What's wrong with Jani?

15.7K 788 15
                                        

"Percuma menjadi penyair
Untuk orang yang tidak menyukai puisi. Karena dia tidak akan bisa memahami makna dari setiap bait-bait yang kau tulis dengan penuh perasaan."_____Tentang Lakapala.

⏮◀▶⏭

"Em, Jani..?" Lakapala memandang sosok cewek berbandana hijau macha di hadapannya itu dengan canggung. Ia masih mengingat kata-kata kasar yang ia layangkan pada cewek ini kemarin membuatnya diliputi perasaan bersalah sekaligus menyesal.

"Boleh ngobrol sebentar?"

Cewek itu menatap Lakapala terkejut. Barangkali kaget mendengar Lakapala meminta izin seperti ini. Pada akhirnya. Ia menunduk, timbul perasaan aneh dalam hatinya.

"Jani.." cowok itu kembali memanggil Jani. "Gimana?"

"Gimana apanya?" tanya cewek itu masih dalam keadaan menunduk.

"Jangan biasakan, sikap lo yang kayak gitu. Kalo orang lagi bicara sama lo, tatap matanya langsung. Jangan nunduk!" ujar Lakapala jengkel karena merasa di abaikan. "sepatu lo lebih menarik daripada gue yang pacar lo sendiri..?"

Di pertengahan koridor, di antara bisingnya suara-suara murid-murid yang tengah lalu lalang. Kedua manusia itu malah saling menatap dalam diam. Suara keduanya seolah diambil alih oleh udara, namun makna dari tatapan itu perlahan-lahan menjelaskan isi pikiran masing-masing.

Pelan, bibir cewek berbandana hijau macha itu tersenyum getir. Tatapannya pun makin sendu. Sedang cowok di depannya itu diam-diam mengepalkan tangannya dengan kuat di belakang tubuh.

Lakapala menyesali perbuatannya yang kemarin. Jika saja ia tidak berkata demikian kemarin, mungkin senyum dan tatapan ini tidak akan dilihatnya siang ini.

"Jani." Dia memanggil kekasihnya dengan nada lembut. "jangan senyum kayak gini, gue gak suka liatnya."

Mata Jani menatap ke sembarang arah. Asalkan ia tidak bertatapan dengan cowok itu, untuk beberapa detik saja.

"ya, maaf." Ucapnya. Senyum itu perlahan pudar. Namun, hal itu semakin menyakiti Lakapala.

"Rinjani Aira Ningrat..."Lakapala menghembuskan napas kasar. "tatap mata gue."

"apa?"

"mari berbicara secara baik-baik, ke tempat pertama kita memulai hubungan ini." Lakapala mengamati raut cewek itu ketika memberanikan diri untuk menatap matanya langsung. "tapi sebelum ke sana, kita selesaikan dulu perkara kemarin di sini."

"perkara yang mana..?"

"soal gue ngomong kasar ke elo. Gue gak bermaksud buat bahas siapa yang lebih berjuang di hubungan kita." Kata Lakapala. Bibir tebal berwarna merah agak kehitaman itu, tersenyum tipis ke arah Jani. "tapi kemarin gue cemburu, Jani.."

"Kamu beneran nyesel?" tuntut cewek itu. "mata kamu, gak bilang gitu. Kamu lagi berusaha buat memanipulasi aku Lakapala..?"

"jangan menggali masalah baru, disaat masalah yang sebelumnya aja belum kelar, Jani." Ucap Lakapala tegas. "buang sifat buruk lo yang satu ini."

Jani terkekeh. "gak, aku gak mau. Ini sifat aku Lakapala. Dan masih banyak lagi sifat buruk aku yang nggak kamu ketahui.." Jani mengalihkan pandang pada pilar yang berjarak satu meter dari tubuh Lakapala. "dan pada waktu kamu udah tahu semua sifat buruk aku, apa kamu masih suka sama aku..?"

"lo ya.." kata Lakapala geram. "bisa gak kalo kita lagi berusaha buat ngomong baik-baik. Lo jangan pancing emosi gue."

"kalo gitu kita ngomong nya sampai di sini aja. Sebelum kamu makin emosi." Ucap cewek itu mengeratkan pegangannya pada kantong plastik berisi beberapa camilan dan juga minuman yogurt yang ia beli di kantin tadi.

TENTANG LAKAPALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang