30-Sudah tak sama

14.4K 739 9
                                        

Dua orang berpakaian serba hitam tengah mengamati suasana pemakaman dari dalam mobil. Salah satu diantaranya menampilkan wajah datar, sementara orang di samping pria itu tengah tersenyum sinis sembari menatap wajah-wajah orang-orang yang menghadiri pemakaman Kapolri Widoyo.

"Kau jangan senang dulu Lakapala. Posisi mereka lebih aman ketimbang kamu..." Bang Jack menaikkan jendela mobil ketika satu persatu orang-orang yang menghadiri pemakaman Widoyo meninggalkan tempat pemakaman. "Polisi sedang mengusut kasus ini, kalo Bos besar sampai tidak melakukan sesuatu, maka kau berada dalam bahaya."

Bang Jack kembali membuka jendela mobil ketika suasana pemakaman mulai sepi, hanya menyisakan beberapa orang yang masih menangis haru atas kepergian Widoyo. Pria itu mengamati istri Widoyo yang tengah menangis tersedu-sedu seraya memeluk putranya.

"Siapa namanya..?" ucap Bang Jack mengamati sosok Putra Widoyo. "Saya pernah melihat nya beberapa kali memarahi pelanggan kita saat ia tahu mereka mengonsumsi obat-obatan. " Senyum tipis terbit di bibir pria yang masih menyandang status lajang itu. "Saya menyukai karakter nya, Lakapala."

Lakapala menatap Dean dengan muka datar. Tidak ada yang mengetahui isi pikiran cowok itu saat ini. Namun, dilihat dari tangannya yang mulai terkepal kuat, seperti nya dia tengah menahan emosi.

"Dia rivalmu, bukan...?" kekeh Bang Jack menoleh ke arah Lakapala. "Jika saya yang menjadi orang tua dari kekasihmu itu, saya lebih mendukungnya bersama putra Widoyo daripada denganmu." Bang Jack tersenyum tipis melihat perubahan wajah Lakapala. "Dia anak baik-baik.."

"Cukup." ucap Lakapala dingin. "Yang maksa gue buat gabung ke komplotan bajingan kayak gini, siapa?"

"Tidak ada yang memaksamu. Kau sendiri yang datang kepada kami. Dan kami menyambut mu dengan senang hati." Bang Jack menatap lurus orang-orang yang tengah menenangkan istri Widoyo, sambil berkata kepada Lakapala. "Tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi Lakapala..."

"Gue gak nyesel!" ucap Lakapala, cowok itu membuka kacamata hitamnya ketika tanpa sengaja melihat sosok gadis yang tampak tidak asing di matanya, Lakapala mengenali sosok gadis itu. Dia kekasihnya, Jani.

Sialan! Berani-beraninya cewek itu datang kemari tanpa sepengetahuan Lakapala. Dalam hitungan detik wajah cowok itu memerah, menahan geram. "Setan." maki cowok itu pelan.

"Ah, perempuan lagi..?" Bang Jack tertawa kecil. "Kau ini, sudah berapa kali saya memperingati mu Lakapala. Jangan terlalu terobsesi terhadap satu perempuan. Itu bahaya, kau akan sulit membedakan mana yang benar dan salah karena terlalu dibutakan oleh cinta terhadap satu perempuan.."

Lakapala mengalihkan pandangan dari Jani yang tengah mengelus lengan Dean. Sialan! Dean harus diberikan pelajaran kecil untuk itu. Cowok itu tersenyum miring. Pelajaran kecil? Kedengarannya menyenangkan juga.

"Kau tidak dengar apa yang saya katakan Lakapala..?"

"Gue denger. " acuh Lakapala. "Bang Jack juga salah satu korban yang telah dibutakan oleh cinta terhadap satu perempuan bukan?" Lakapala menatap Bang Jack dari samping. Pria itu masih mempertahankan raut datarnya, namun samar-samar Lakapala melihat telinga pria itu memerah. "Bukannya alasan Bang Jack gak nikah sampai sekarang, karena terlalu dibutakan oleh cinta terhadap satu perempuan..?"

Skakmat. Lakapala yang mengendalikan permainan, cowok itu sedikit penasaran akan rupa dari sosok wanita yang telah mengakibatkan Bang Jack mempertahankan status lajang sampai saat ini.

TENTANG LAKAPALACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang