April

1.5K 270 33
                                    

Jisoo menatap senang pada selembaran foto USG ditangannya. Hatinya menghangat melihat gumpalan daging yang belum sempurna itu mulai terbentuk badan dan kepalanya.

"Aw"

Jisoo meringis dan mengusap bagian tendangan bayi tersebut dengan lembut.

Rose, dengan wajah pucatnya meringis kesakitan akibat pergerakan tiba-tiba yang dilakukan sesuatu yang ada di dalam perutnya.

Jisoo mengusap perut besar Rose dengan penuh kasih sayang, melontarkan kalimat-kalimat hangat berharap sesuatu di dalam perut Rose menjadi tenang.

"Harusnya kakak nggak perlu nolongin aku" ucap rose dengan suara parau dan nada kecewa.

Dengan sorot mata tenangnya, Jisoo menoleh ke Rose.

"Aku malu...aku malu. Kakak nggak tau gimana rasanya dunia aku hancur?! Aku punya cita-cita, aku masih muda, aku nggak bisa ngurus dia... harusnya kakak biarin aku buat bunuh dia."

"Aku mau dia lahir hiks...hiks.."

Dengan dada naik turun dan air mata di wajahnya Rose kembali menangisi hidupnya. Sudah 8 bulan semenjak bayi itu ada didalam dirinya, selama itu pula ia diliputi ketakutan, kekalutan, dan kebencian dalam dirinya.

Rose takut, Ia tidak bisa membesarkan dan merawat bayi ini seorang diri. Dia membuat malu keluarganya, menghancurkan reputasi dan masa depannya.

Ia benci keberadaan bayi dalam kandungannya tapi ini anak Jaehyun. Laki-laki yang dengan brengseknya berhasil membuatnya jatuh sedalam ini.

Terbesit dalam dirinya untuk membesarkan seorang diri bayi ini, tapi membayangkan bagaimana kejamnya dunia bagi anak haram membuatnya ciut.

Membayangkan bagaimana keluarga Bae nantinya akan mengusik keluarga dan orang-orang disekitarnya karena ia membawa aib putra kebanggan mereka membuatnya takut untuk mempertahankan bayi ini.

Dia sayang keluarganya.

Tapi dia juga sayang laki-laki itu, ia tak bisa merusak masa depan cerah yang sudah diusahakan mati-matian oleh Jaehyun.

Jisoo menggenggam tangan dingin Rose, "Maafin kakak, kakak nggak bisa paham apa yang kamu rasain tapi Rose, dia punya hak untuk hidup. Dia nggak tau apa-apa." Tutur Jisoo dengan halus.

Rose tahu itu, tapi akal gilanya mengatakan untuk menyingkirkan satu agar sisanya baik-baik saja.

Jisoo ingin mengutarakan banyak hal pada adik iparnya yang tengah duduk lemah diatas ranjang sekarang ini, namun ia mengurungkan semua kata yang mau ia sampaikan.

Melihat iparnya ini berjuang melawan caci maki keluarga inti dan tekanan secara mental karena harus menarik diri dari lingkungan pertemuannya membuatnya sadar bahwa ini juga tak mudah bagi Rose.

Remaja baru dewasa didepanya ini masih berada di fase labilnya, ia takut jika saran yang ia berikan membuat Rise semakin nekat.

Jisoo mengusap Surai panjang Rose lembut, "kakak ke dapur sebentar ya buatin kamu bubur, kamu sama Jennie dulu ya?"

Tidak ada jawaban dari Rose, wanita itu hanya membuang mukanya menatap jendela kamarnya.

Jisoo keluar meninggalkan kamar Rose, Jennie yang sedari tadi menyimak di kursi dekat meja rias kini duduk mendekat di tepian ranjang rose.

"Kata Jisoo cita-cita kamu mau jadi model dan buka usaha fashion ya?"

"Sayang sekali, pasti kamu mikir semua impian kamu hancur karena bayi ini?"

We (TELAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang