Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah kurang lebih 1 jam Kei tidak keluar dari kamar mandi, Jean mengetuk pintu kamar mandi berkali kali namun tetap tidak ada jawaban. Jean sedikit meninggikan suaranya mungkin tidak terdengar, "Kei? Halo? Kamu terlalu lama di dalam, are you okay?" tanya Jean. Masih tidak ada jawaban, Jean pikir Kei pingsan di dalam, jadi ia berencana untuk mendobrak pintunya. "Kei! Aku mau menobrak pintu ini pastikan kamu jauh dari pintu okay?"
Jean mengambil ancang-ancang untuk menubruk pintu itu dengan tubuhnya, ia menjauh lalu menabrakan diri ke pintu namun pintu itu tidak terbuka. Ia kembali menjauh dari pintu, lalu dengan kekuatan penuh ia mendobrak pintunya, akhirnya pintunya terbuka. Karena dibuka paksa, kunci pintu tersebut rusak hingga lepas dari tempatnya.
"Kei?!" teriak Jean. Namun saat Jean masuk tidak ada siapa-siapa disana. Ia memastikan, dan di dalam kamar mandi itu hanya ada dirinya. Kemudian Jean berdiam diri. Pemuda itu kebingungan, padahal tadi setelah ia mandi, Jean melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Kei masuk kamar mandi setelahnya. Tapi kemana dia?
Jean meremas rambutnya frustasi, kejadian akhir-akhir ini yang ia alami benar-benar diluar nalar.
Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari kamarnya, cahaya itu muncul sedikit demi sedikit lalu hilang begitu saja. Karena terlihat mencurigakan, Jean memutuskan untuk keluar kamar mandi, namun baru saja ia mengambil langkah pertamanya cahaya itu muncul lagi tepat di depannya bersamaan dengan sosok Kei, gadis itu hampir terjatuh karena lantainya yang licin, untung saja Jean menangkapnya.
Kei menatap pemuda yang tengah merengkuh tubuhnya ini, jarak mereka sangat dekat sampai bisa mendengar suara nafas masing-masing. Jean hanya memfokuskan netranya pada satu arah, yaitu mata Kei, tangan kanan Jean menopang tubuh Kei sedangkan tangan kirinya ia arahkan untuk memegang tangan Kei dan membantunya untuk berdiri dengan benar. Seperti terdorong menuju realita, Kei mendorong pelan pundak Jean dengan tangannya dan menjauh lalu berlari meraih pintu kamar mandi dan keluar. Jean menghela nafasnya, kembali terdiam dan berusaha mencerna hal yang barusan terjadi. Apakah teleportasi itu benar-benar nyata?
Keadaan menjadi canggung, Kei hanya menunduk memainkan jari tangannya, sementara itu Jean berkacak pinggang sambil menatapnya.
"Barusan itu apa?" tanya Jean. Kei menggigit bibirnya, matanya tidak fokus seolah mencari-cari jawaban. "A-aku berteleportasi," jawabnya.
"Dari mana?"
"Tidak kemana-mana, cuma ke taman belakang rumah."
Jean bergerak mengambil sebuah jaket di lemari dan berkata, "Oh ya? Kenapa tidak berteleportasi ke rumah mu di masa lalu saja? Kamu kan tidak seharusnya berada di masa ini."
"Sulit untuk berteleportasi dari tahun ini ke tahun yang lain, aku cuma mampu ke beberapa tempat yang dekat di tahun yang sama—kamu mau kemana??" penjelasan Kei terpotong ketika Jean mengambil sebuah kunci mobil dan berjalan ke arah pintu kamar.