51. Fate

613 66 3
                                        

Pagi itu, sinar matahari yang lembut menyelinap melalui tirai jendela, menerangi kamar tidur pasangan suami istri yang baru saja mengikat janji suci.

Karine membuka matanya perlahan, dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah Jean yang masih tertidur nyenyak di sampingnya. Jean terlihat begitu damai, ekspresinya tenang seperti tidak ada yang bisa mengganggu kedamaian tidur malam pertama mereka sebagai suami istri. Hati Karine penuh dengan kebahagiaan, tidak bisa menyembunyikan rasa syukur yang dalam atas hari yang telah mereka jalani kemarin.

Tanpa bisa menahan diri, Karine merasa gemas melihat wajah Jean yang tampak begitu lugu dan tampan meskipun sedang tidur. Ia tertawa kecil, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke pipi Jean dan memberikan ciuman ringan di sana. Kemudian, ia mencium keningnya, pipi lainnya, dan akhirnya bibir Jean—semua bertubi-tubi, dengan penuh rasa sayang.

Jean yang merasa adanya sentuhan lembut di wajahnya perlahan terbangun. Matanya terbuka sedikit, dan dengan ekspresi bingung tapi penuh kasih, ia melihat wajah Karine yang tersenyum lebar di hadapannya. “Woah, the most beautiful view I've ever seen,” ujarnya dengan suara serak, masih terpengaruh kantuk, melihat wajah bantal Karine.

Karine tertawa kecil mendengar kata-kata Jean, tapi saat itu, Jean kembali menarik selimut dan memejamkan mata, kembali ke pelukan mimpi. "Masih ngantuk," gumamnya, tidak ingin terbangun sepenuhnya.

Karine hanya tersenyum manis, membiarkan Jean tidur lebih lama. Hari pertama mereka sebagai pasangan suami istri, dan dia ingin memulai hari itu dengan penuh ketenangan. Ia pun bangkit dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.

Setelah mandi, Karine turun ke dapur, berbaur dengan udara pagi yang sejuk. Di sana, ia menemukan ibu mertuanya, Gianna, sedang sibuk menyiapkan sarapan. Gianna tersenyum ramah saat melihat Karine.

"Selamat pagi, Karine," sapa Gianna dengan lembut.

“Bagaimana malam pertamanya, nak?”

Karine merona, sedikit merasa canggung saat ibu mertuanya menanyakan hal tersebut. “Kami berdua... terlalu lelah, Mom. Jadi semalam kami langsung tidur,” jawab Karine dengan suara pelan, mencoba menyembunyikan rasa malunya. “Kami juga... mau menunda dulu punya anak,” tambahnya dengan sedikit gugup.

Gianna mengangguk bijak, senyumnya lebar. “Tidak masalah, nak. Itu keputusan yang baik. Yang penting, kalian berdua bahagia dulu.” Ia lalu mendekatkan wajahnya, menambahkan, “Tapi, kamu tahu, Karine, tips-tips untuk hidup suami istri itu banyak. Jangan ragu untuk bertanya.”

Karine merasa pipinya memerah mendengar kata-kata itu. Ia tidak bisa menahan rasa malunya, tapi juga merasa nyaman mendengarnya. “M-mom, aku... belum siap untuk itu,” ujarnya dengan suara pelan, sedikit terkejut oleh candaan Gianna yang lebih terbuka.

Gianna tertawa kecil, tetapi kemudian berbicara dengan nada yang lebih serius. “Hahaha, aku cuma bercanda. Aku yakin kalian bisa menghadapi hal itu sendiri."

Karine hanya mengangguk, masih merasa agak canggung, tapi ia berusaha menikmati percakapan itu. Mereka berbincang santai tentang tips-tips kehidupan rumah tangga.

Sementara itu, di kamar, Jean masih terlelap tidur dengan senyum bahagia di wajahnya.

***


Finally, you become the part of this family,” ucapnya dengan suara hangat. Daniel menatap Karine dengan penuh kasih sayang, matanya berbinar ketika ia menyapanya

Karine tersenyum lebar, merasa begitu dihargai.

Jean yang duduk di seberang meja, tersenyum senang melihat keluarganya yang begitu terbuka menerima Karine.

Past Love | bluesyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang