Keesokan harinya, Karine terbangun dengan semangat baru. Setelah sarapan sederhana bersama Jean, dia mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor Vogue, tempat di mana dia akan bertemu Gwen.
Jean, yang sudah lebih dulu siap, menawarkan untuk mengantarnya. Mereka berdua melangkah ke parkiran, dan Jean membuka pintu mobil untuk Karine dengan sikap penuh perhatian.
Setelah mereka tiba di depan gedung Vogue, Karine memandang ke arah Jean. "Thanks for getting me here, love," katanya dengan suara lembut, lalu memberikan kecupan singkat di pipi Jean sebagai ucapan terima kasih.
Jean membalas senyum Karine, memeluknya sebentar. “You’re going straight home to Uncle Theo’s, right? Just let me know when you’re there."
Karine pun mengangguk dan menutup pintu mobil.
Ia bisa melihat beberapa paparazi yang sudah menunggu di seberang jalan. Meskipun sedikit canggung, dia tetap berjalan dengan percaya diri, menundukkan kepala sedikit agar tidak terlalu terlihat.
Langkah pertama Karine membawa dia ke ruang tempat Gwen berada. Begitu pintu ruangan terbuka, Gwen langsung berdiri dan menyambutnya dengan senyum lebar. Sebelum Karine bisa mengatakan sepatah kata pun, Gwen sudah memeluknya erat.
"I knew it!" serunya dengan penuh semangat. “It was so obvious you and Jean would end up together. Dia cuma satu-satunya pria yang cocok sama kamu,” tambah Gwen, wajahnya dipenuhi kebahagiaan.
Karine tertawa kecil, merasa hangat di hatinya mendengar kata-kata Gwen. "Kamu benar. Aku juga merasa begitu," jawabnya, sambil duduk di kursi dekat meja kerja Gwen. Meskipun mereka baru saja memulai perencanaan, Karine merasa dunia seakan menyatu, memberi konfirmasi akan setiap langkah yang telah mereka ambil.
Gwen menyandarkan tangan di meja dengan senyum penuh ide. "Jadi, kapan kita mulai mendesain gaun pengantin? I guess we can start working on the concept now," ujar Gwen penuh semangat, padahal Karine sendiri bahkan belum tahu kapan pernikahannya akan dilangsungkan.
Karine sedikit terkejut, lalu tertawa pelan. "I’m not sure yet, Gwen. We’ve still got a lot to figure out. But maybe we can start tossing around some ideas?"
Gwen tertawa kecil dan mengangguk. "Of course. Satu langkah pada satu waktu." Dia lalu mulai mengambil beberapa sketsa dari laci mejanya, membukanya dengan antusias. “I’m picturing you in a sleek wedding dress, sis. You’d be drop-dead gorgeous.”
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka, dan Richie muncul dengan senyum lebar di wajahnya.
"Dari Dubai," katanya sambil menyerahkan beberapa tas belanjaan ke tangan Karine dan Gwen. "Aku baru saja kembali dari perjalanan bisnis 3 hari yang lalu," tambahnya, lalu mendekati Karine dan memeluknya dengan penuh kehangatan.
"I heard the happy news! Jean’s a perfect match for you. You finally found the one, girl!" ujar Richie dengan bangga.
Karine tertawa, merasa sangat bahagia mendengar kata-kata Richie. “Thanks, bro. I’m so lucky to have you two in my life."
Mereka bertiga duduk bersama, berbincang tentang berbagai hal. Richie menceritakan perjalanan bisnisnya ke Dubai, mengenakan pakaian gamis dan sorban serta membawa oleh-oleh menarik untuk mereka. Gwen dan Karine mulai berbicara lebih lanjut tentang desain gaun pengantin—meskipun belum ada tanggal yang pasti, ide-ide kreatif mulai bermunculan.
"I can see you in a classic dress with a modern edge—you’d look amazing,” kata Gwen dengan penuh keyakinan.
Karine hanya tersenyum dan mengangguk, merasa beruntung memiliki saudara seperti Gwen yang sangat mendukungnya. "Honestly, Gwen, I’m at a loss for words. This feels like the most amazing ride. And it’s going by so quick? Me and Jean haven’t even been together a year, but I just know I’ll be happy with him."
KAMU SEDANG MEMBACA
Past Love | bluesy
Fiksi Penggemar"𝑰𝒇 𝒇𝒂𝒕𝒆 𝒌𝒆𝒆𝒑𝒔 𝒖𝒔 𝒂𝒑𝒂𝒓𝒕 𝒊𝒏 𝒕𝒉𝒊𝒔 𝒓𝒆𝒂𝒍𝒎, 𝑰'𝒍𝒍 𝒕𝒓𝒂𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆 𝒕𝒉𝒆 𝒔𝒕𝒂𝒓𝒔, 𝒔𝒆𝒆𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒂 𝒆𝒗𝒆𝒓𝒚 𝒖𝒏𝒊𝒗𝒆𝒓𝒔𝒆𝒔, 𝑾𝒉𝒆𝒓𝒆 𝒚𝒐𝒖𝒓 𝒉𝒆𝒂𝒓𝒕 𝒂𝒏𝒅 𝒎𝒊𝒏𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒗𝒆𝒓𝒈𝒆 𝒊𝒏 𝒕𝒊𝒎𝒆𝒍𝒆𝒔𝒔 𝒅...
